SURABAYA (Lentera) –Penyaluran pupuk bersubsidi di Jawa Timur hingga 21 September 2026 baru mencapai 73,64 persen dari total alokasi 2.115.951 ton. Artinya, masih terdapat 557.868,9 ton atau 26,36 persen pupuk yang belum tersalurkan.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Wara Sundari Renny Pramana, menilai angka tersebut perlu dibaca berdasarkan kondisi masing-masing wilayah. Sebab, realisasi penyaluran menunjukkan kesenjangan cukup lebar antar daerah.
Untuk Urea, misalnya, realisasi mencapai 89,95 persen di Kota Madiun, sementara Kota Surabaya hanya 45,96 persen. Sedangkan penyaluran NPK di Banyuwangi mencapai 94,64 persen, berbanding 61,99 persen di Bangkalan.
“Daerah dengan serapan rendah belum tentu mengalami kelangkaan karena bisa dipengaruhi kalender tanam. Sebaliknya, serapan tinggi juga perlu dilihat apakah stok masih mencukupi untuk musim tanam berikutnya,” ungkap Renny, Kamis (14/09/2026).
Secara keseluruhan, Urea baru tersalur 72,96 persen dari alokasi 999.183 ton, dengan sisa 270.185,9 ton. NPK tersalur 76,21 persen dari alokasi 961.695 ton, menyisakan 228.806,4 ton. Jika digabung, hampir 500 ribu ton Urea dan NPK belum tersalur.
“Pertanyaan pentingnya bukan sekadar berapa persen pupuk telah tersalur, tetapi mengapa masih terdapat alokasi yang belum tersalur dan di mana posisi pupuk tersebut,” ujarnya.
Renny mendorong Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur memperkuat koordinasi data dan distribusi lintas kabupaten/kota. Pemprov juga dinilai perlu memiliki dashboard yang memuat alokasi, stok, realisasi penebusan, sisa kuota, jumlah penerima, serta daerah dengan serapan rendah.
“Ketika ada daerah kekurangan, provinsi harus cepat mengetahui. Ketika ada alokasi tidak terserap, provinsi harus mengetahui penyebabnya. Dan ketika petani mengadu, harus ada jalur penyelesaian yang jelas,” tegasnya.
Menurut Renny, evaluasi pupuk bersubsidi tidak boleh berhenti pada jumlah pupuk yang telah tersalurkan.
“Yang lebih penting adalah memastikan 2,115 juta ton alokasi Jawa Timur benar-benar berubah menjadi manfaat bagi petani,” pungkasnya.
Reporter: Pradhita|Editor: Arifin BH





.jpg)
