24 September 2026

Get In Touch

Kementerian UMKM Dorong Komersialisasi Inovasi Kampus jadi Bisnis

(dari kiri) Deputi Bidang Kewirausahaan M Riza Damanik PhD, Menteri UMKM Maman Abdurrahman ST, dan Rektor ITS Prof Bambang Pramujati saat kunjungi tenant inovasi dalam Bursa Wirausaha Unggul Jawa Timur 2026 di Gedung Pusat Robotika ITS
(dari kiri) Deputi Bidang Kewirausahaan M Riza Damanik PhD, Menteri UMKM Maman Abdurrahman ST, dan Rektor ITS Prof Bambang Pramujati saat kunjungi tenant inovasi dalam Bursa Wirausaha Unggul Jawa Timur 2026 di Gedung Pusat Robotika ITS

SURABAYA (Lentera) - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman mendorong inovasi yang lahir dari perguruan tinggi tidak berhenti pada tahap prototipe, tetapi dapat dikembangkan menjadi usaha yang berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Maman saat menghadiri Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Timur 2026 yang digelar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), bersama Kementerian UMKM di Gedung Pusat Robotika ITS, Rabu (23/9/2026).

Menurut Maman, salah satu tantangan dalam pengembangan kewirausahaan, adalah belum optimalnya proses komersialisasi inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi. Berbagai inovasi kampus dinilai masih banyak yang berhenti pada tahap prototipe dan belum sepenuhnya dikembangkan sebagai peluang bisnis.

"Perlu juga dilakukan optimalisasi peran lembaga inkubator guna memantau, mengevaluasi, serta memberdayakan perusahaan rintisan (startup) dan UMKM potensial di berbagai daerah," kata Maman.

Ia menuturkan, percepatan transformasi tenant menjadi usaha mandiri yang berkelanjutan menjadi salah satu fokus Kementerian UMKM. Upaya tersebut diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus pengentasan kemiskinan.

Kementerian UMKM, lanjut Maman, juga berencana membentuk komite monitoring khusus di bawah Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat. Komite tersebut ditujukan untuk memastikan proses pembinaan UMKM berjalan secara terukur.

"Perlindungan pasar domestik juga kami perketat agar produk lokal dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri," tuturnya.

Sementara itu, Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD mengatakan Jawa Timur memiliki posisi penting dalam perkembangan ekonomi nasional. Dengan dukungan jutaan unit usaha dan koperasi, Jawa Timur dinilai memiliki potensi besar untuk terus memperkuat perekonomian.

Bambang mengatakan, ITS berupaya mengambil peran dalam meningkatkan kapasitas teknologi, inovasi, produktivitas, dan daya saing pelaku usaha. Sejumlah program kolaborasi dengan pemerintah telah dijalankan, di antaranya One Pesantren One Product (OPOP), penyediaan desain kemasan bagi pelaku usaha, hingga pembekalan keterampilan kewirausahaan kepada pelajar.

Di bawah Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST), ITS juga membina sejumlah startup setiap tahun. Menurut Bambang, kolaborasi dengan pemerintah diperlukan agar inovasi yang dikembangkan di kampus memiliki akses terhadap pasar yang lebih luas.

"Berbagai pihak, mulai perguruan tinggi, pemerintah, hingga industri, diharapkan dapat terus bersinergi dalam menyediakan 'kolam' pasar yang luas bagi para wirausahawan baru," ujarnya.

Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Timur 2026 mengusung tema "Berani Mulai, Bertumbuh, Siap Berdampak". Kegiatan tersebut diisi dengan lokakarya, pameran produk inovasi, dan sesi pitching bisnis.

Dua startup mahasiswa ITS yang dibina Inkubator Layanan Bisnis Inovatif (ILBI) ITS, turut mempresentasikan model bisnisnya, yakni Vityuu dan IncludeVision.

Vityuu mengembangkan produk berbasis herbal, bernama sweet block spray yang ditujukan untuk membantu mengurangi konsumsi gula. Startup tersebut dikembangkan tiga mahasiswa Departemen Manajemen Bisnis ITS, yakni Muhammad Nadhif Ikmalsyah, Kevin Ananta Marga, dan Naila Zanuba Mustikaningrum.

Sementara IncludeVision menawarkan, platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memanfaatkan rekaman CCTV untuk menghasilkan data yang dapat digunakan dalam pengelolaan fasilitas dan efisiensi operasional.

Startup tersebut dikembangkan Singgih Ardiansyah dari Departemen Teknik Komputer dan Raul Ilma Rajasa dari Departemen Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) ITS.

Selain mempertemukan pelaku usaha dengan mitra, kegiatan tersebut menyediakan empat kluster layanan, yakni pembiayaan, perizinan usaha, akses pasar digital, dan inkubator.

"Melalui kegiatan tersebut diharapkan proses pembinaan tidak berhenti pada tahap pendampingan, tetapi dapat mendorong tenant berkembang menjadi wirausaha mandiri dan berkelanjutan," tutupnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.