Hampir 10 Tahun Rawat ODGJ, Pak Pur Kembali ke Bangku Kuliah untuk Perdalam Ilmu Psikologi
SURABAYA (Lentera) - Hampir satu dekade mendampingi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan kelompok rentan membuat Ipda Purnomo merasa pengalaman saja tidak cukup.
Polisi yang dikenal dengan sapaan Pak Pur itu kini menempuh pendidikan Magister Psikologi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk memperkuat pengetahuan yang selama ini diperolehnya dari lapangan.
Selama menjalankan pengabdian, Pak Pur mengaku banyak menangani persoalan psikologis masyarakat secara otodidak. Karena itu, ia merasa perlu memiliki landasan keilmuan yang lebih kuat agar pendampingan yang diberikan kepada para penerima manfaat dapat dilakukan secara lebih tepat.
“Manusia itu wajib menuntut ilmu sampai kapan pun. Setiap hari saya bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan tempat curhat dan konseling. Selama ini saya mendapatkan ilmu secara otodidak, sehingga saya merasa harus memiliki dasar ilmu Psikologi yang kuat dan teruji,” ucapnya, Selasa (22/9/2026).
Selama hampir 10 tahun, ia telah mendampingi dan merawat hampir 500 ODGJ. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan dirinya memutuskan kembali ke bangku kuliah.
Di luar tugasnya sebagai anggota kepolisian, Pak Pur juga mengelola Yayasan Berkas Bersinar Abadi di Desa Nguwok, Kecamatan Modo, Lamongan. Yayasan tersebut menjadi tempat perlindungan dan pendampingan bagi sejumlah kelompok rentan, mulai dari ODGJ, lansia terlantar, anak jalanan hingga penyintas penyalahgunaan narkoba.
Menurutnya, kebutuhan terhadap pendampingan yang lebih profesional semakin besar. Di yayasannya terdapat empat klaster layanan, yakni ODGJ, lansia, anak terlantar, serta rehabilitasi narkoba.
“Harapan saya, setelah mendapatkan ilmu di sini semakin bermanfaat dampak pengabdian kami bagi masyarakat. Ilmu ini nantinya wajib saya tularkan kepada tim pendamping dan masyarakat,” katanya.
Keputusan melanjutkan pendidikan juga menjadi upaya Pak Pur meningkatkan kualitas layanan yang selama ini dijalankan bersama timnya. Ia berharap ilmu yang diperoleh di bangku kuliah tidak berhenti pada dirinya, tetapi dapat diterapkan oleh para pendamping di yayasan.
Kesibukannya kini bertambah. Selain menjalankan tugas sebagai anggota kepolisian dan mengelola yayasan, ia harus membagi waktu dengan kegiatan perkuliahan. Namun, Pak Pur menyebut telah mendapatkan izin dari pimpinan serta dukungan dari timnya.
Ia bahkan mengajak istrinya untuk turut menempuh pendidikan di Unesa. Ke depan, ia juga berencana mendorong sekitar 30 anggota tim yayasannya untuk mempelajari ilmu Psikologi.
Bagi Pak Pur, pendidikan bukan sekadar upaya meraih gelar akademik. Pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah diharapkan dapat menjadi bekal untuk memahami kondisi penerima manfaat secara lebih baik, sekaligus meningkatkan kualitas pendampingan terhadap kelompok rentan.
“Ilmu itu harus terus dipelajari dan dibagikan. Apa yang saya dapatkan di sini nantinya harus kembali untuk masyarakat,” pungkasnya. (*)
Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi




.jpg)
