15 September 2026

Get In Touch

Influenza A dan B Merebak: Bukan Flu Biasa, Kenali dan Cegah

Influenza A dan B Merebak: Bukan Flu Biasa, Kenali dan Cegah

SURABAYA ( LENTERA ) - Keluhan warganet soal flu yang disertai demam, menggigil, nyeri badan hingga membuat tubuh terasa sangat lemas kembali ramai di media sosial. Di tengah keluhan tersebut, dokter mengingatkan masyarakat tidak buru-buru menganggap semua gejala sebagai flu biasa. Influenza A dan B sama-sama sedang ditemukan pada pasien dengan keluhan batuk dan demam.

Data surveilans Kementerian Kesehatan hingga awal September 2026 menunjukkan aktivitas influenza di Indonesia masih berada pada kategori rendah, tetapi sejumlah indikator mengalami kenaikan. Pada minggu ke-35 atau 30 Agustus–5 September, positivity rate influenza naik menjadi 27 persen dari 17 persen pada pekan sebelumnya. Sebelumnya, pada minggu ke-34, dari 119 spesimen yang diperiksa ditemukan 32 kasus positif influenza, terdiri atas empat influenza A(H3N2), 27 A(H1N1)pdm09, dan satu influenza B/Victoria. Kasus A(H3N2) tersebut terdeteksi di 13 provinsi, dengan Jawa Timur dan Kalimantan Selatan masing-masing menyumbang 24 persen dari temuan. 

Di Surabaya, dokter spesialis paru dan pernapasan RSUP Surabaya, dr Harman Prayitno, Sp.P, juga melihat peningkatan pasien dengan keluhan serupa. Dalam sepekan terakhir, menurut Harman, cukup banyak pasien datang dengan batuk, demam dan nyeri kepala. Pemeriksaan swab kemudian menunjukkan sebagian pasien positif influenza, baik tipe A maupun B.

"Sejak seminggu terakhir ini, memang banyak merawat pasien2 dengan gejala2 batuk2, disertai demam dan nyeri kepala," tulis Harman melalui akun Threads pribadinya.

"Ketika dicek, hasil swab nya menunjukkan Influenza POSITIF," lanjutnya.

Harman menyebut secara teori influenza A memang cenderung menimbulkan gejala lebih berat dibandingkan influenza B. Namun, perbedaan itu tidak mutlak. Ia pernah menemukan pasien influenza B dengan kondisi berat hingga berkembang menjadi pneumonia.

"Memang secara teori, gejala pada Influenza A lebih berat daripada Influenza B," katanya.
"Namun kemarin sempat menjumpai pasien dengan Influenza B yang gejalanya berat hingga pneumonia," lanjut Harman.

Influenza memang sering disebut "flu", tetapi tidak semua pilek dan batuk merupakan influenza. WHO menjelaskan influenza musiman terutama disebabkan virus influenza A dan B. Gejalanya dapat muncul mendadak berupa demam, menggigil, batuk, biasanya kering, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, sakit tenggorokan serta pilek.

Menurut praktisi kesehatan RS Pondok Indah, dr Hastomo Prabowo, MARS, terdapat tiga kelompok influenza yang dikenal menyerang manusia, yakni tipe A, B dan C.l

"Dari ketiga tipe tersebut, virus influenza A cenderung menyebabkan penyakit flu yang gejalanya lebih berat dan kerap menjadi penyebab wabah flu musiman, bahkan pandemi global," kata Hastomo kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Secara ilmiah, CDC saat ini menggolongkan virus influenza menjadi empat tipe, yaitu A, B, C dan D. Influenza A dan B merupakan penyebab utama flu musiman pada manusia. Influenza C umumnya menyebabkan penyakit ringan dan tidak dikenal menyebabkan epidemi, sedangkan influenza D terutama menyerang ternak dan belum diketahui menyebabkan penyakit pada manusia.

Perbedaan penting lainnya ada pada kemampuan virus berubah. Influenza A memiliki subtipe berdasarkan protein permukaan hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N), antara lain A(H1N1) dan A(H3N2). Virus A juga ditemukan pada berbagai hewan sehingga memiliki potensi menghasilkan varian baru. Influenza B tidak memiliki subtipe seperti A, tetapi diklasifikasikan berdasarkan garis keturunan atau lineage. 

Sementara itu, common cold atau selesma bukan disebabkan virus influenza. Rhinovirus dan adenovirus, misalnya, dapat menyebabkan gejala pilek dan batuk. Secara umum, flu biasa cenderung lebih ringan dan lebih jarang menyebabkan komplikasi dibandingkan influenza. 

Apa yang harus dilakukan saat meriang?

Harman menyarankan masyarakat tidak memaksakan diri beraktivitas di luar rumah ketika kondisi tubuh sedang tidak fit.
"Sebaiknya kembali digalakkan gerakan memakai masker di tempat umum. Hindari kerumunan/keramaian," tulisnya.

"Bila memang sedang tidak fit, sebaiknya stay di rumah saja," pesannya.

Anjuran tersebut sejalan dengan WHO. Orang yang sakit dianjurkan tetap berada di rumah sejauh memungkinkan. Jika harus berada di ruang ramai, penggunaan masker dapat membantu mengurangi risiko penularan. Influenza menyebar melalui partikel yang keluar ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara atau bernapas.

Untuk kasus ringan, Hastomo menyebut influenza A umumnya dapat sembuh dalam 5–7 hari. Penanganan dapat mencakup obat penurun panas atau pereda nyeri dan, bila berdasarkan penilaian dokter diperlukan, obat antivirus.

Istirahat juga menjadi bagian penting. Penderita perlu memastikan asupan cairan cukup untuk mencegah dehidrasi serta mengonsumsi makanan bergizi dengan kalori dan protein yang memadai.


Perlukah langsung PCR?

Tidak setiap orang yang batuk dan demam otomatis membutuhkan PCR. Pemeriksaan influenza dapat dilakukan dengan berbagai metode, tergantung kondisi pasien dan kebutuhan klinis.

CDC menyebut tes influenza dapat berupa rapid influenza diagnostic tests (RIDTs), rapid molecular assays hingga RT-PCR. Tes cepat antigen dapat mendeteksi influenza A dan B, sementara pemeriksaan molekuler memiliki akurasi lebih tinggi. Hasil negatif pada tes cepat juga tidak selalu berarti seseorang pasti bebas influenza. 

Karena itu, ketika gejala cukup berat, menetap, atau muncul pada kelompok berisiko tinggi, pemeriksaan oleh tenaga medis lebih tepat dibandingkan membeli obat secara sembarangan.

Cara sederhana mencegah influenza

Pencegahan tidak membutuhkan langkah rumit. Dokter spesialis anak dr Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH, menyebut vaksinasi sebagai salah satu perlindungan utama bagi anak.
"Vaksin influenza tahunan mulai usia enam bulan adalah pilar utama untuk mencegah influenza A dan B," ujar Mesty.

Ia mengatakan vaksin tidak hanya membantu menurunkan risiko terkena influenza, tetapi juga dapat mengurangi risiko gejala berat hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.

"Musim 2023–2024, vaksin terbukti menurunkan risiko rawat inap akibat influenza B pada dewasa sebesar sekitar 67 persen di jejaring rumah sakit AS (Amerika Serikat), dan pada anak memberi proteksi bermakna di data CDC," tambahnya.

CDC dan WHO sama-sama menempatkan vaksinasi tahunan sebagai langkah utama untuk mengurangi risiko influenza dan komplikasinya. Vaksin influenza diperbarui secara berkala karena virus terus mengalami perubahan. Perlindungan dari vaksin juga tidak muncul seketika; tubuh membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk membentuk antibodi. 

Selain vaksin, Mesty mengingatkan pentingnya kebiasaan sehari-hari.
"Kebiasaan cuci tangan, etika batuk, ventilasi yang baik, dan menjaga jarak saat ada yang sakit tetap penting," kata Mesty.

Ia juga mengingatkan orang tua memastikan anak memperoleh tidur, cairan dan nutrisi yang cukup.
"Pastikan tidur, minum, asupan nutrisi kalori sesuai kebutuhan individu anak masing-masing," jelasnya.

WHO menekankan ventilasi karena influenza dapat menyebar melalui partikel di udara. Membuka jendela, memperbaiki aliran udara dan menghindari ruang tertutup yang padat dapat membantu menurunkan risiko penularan. (far ist/dya)
 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.