10 September 2026

Get In Touch

Abu Vulkanik Ancam Kesehatan: Lindungi Paru-paru, Mata dan Kulit

Abu Vulkanik Ancam Kesehatan: Lindungi Paru-paru, Mata dan Kulit

SURABAYA ( LENTERA ) - Enam gunung api di Indonesia tercatat berada dalam kondisi aktivitas tinggi, termasuk Gunung Anak Krakatau yang terus menjadi perhatian akibat erupsi dan sebaran abu vulkaniknya.. Abu vulkanik yang terbawa angin juga membawa risiko kesehatan, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat tidak panik, tetapi mengurangi paparan abu vulkanik dengan membatasi aktivitas di luar rumah. Imbauan itu disampaikan melalui video yang diunggah di akun Instagram @bgsadikin.

"Kalau bisa tinggal di rumah saja, tidak usah keluar-keluar sehingga tidak ada udara kotor yang masuk ke pernapasan kita," kata Budi.
Jika harus keluar, masyarakat dianjurkan menggunakan masker, dengan KN95 sebagai pilihan yang diutamakan. Bila masker tidak tersedia, masyarakat diminta menggunakan masker yang ada. Dalam kondisi terpaksa keluar tanpa masker, hidung dan mulut setidaknya harus ditutup untuk mengurangi paparan abu.

Anjuran tersebut sejalan dengan panduan kesehatan internasional. U.S. Geological Survey (USGS) menyebut abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk penyakit paru yang sudah ada, seperti asma dan bronkitis. Karena itu, masyarakat dianjurkan menghindari paparan yang tidak perlu dan menggunakan pelindung pernapasan ketika berada di tengah abu.

Risiko Utama Paru-paru

Abu vulkanik terdiri dari partikel yang sangat kecil. Sebagian dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan. Kementerian Kesehatan mencatat paparan abu dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, produksi dahak, mengi, rasa berat di dada hingga sesak napas.

Risikonya lebih besar bagi orang yang memiliki asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), bronkitis kronis, penyakit paru lainnya maupun penyakit jantung.

USGS juga mencatat partikel abu yang sangat halus dapat masuk lebih dalam ke paru-paru. Pada paparan tinggi, bahkan orang sehat dapat mengalami batuk, iritasi dan rasa tidak nyaman di dada.

Karena itu, berada di dalam rumah ketika kondisi udara dipenuhi abu merupakan salah satu langkah perlindungan paling sederhana. Pintu dan jendela sebaiknya ditutup untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah.

Mata Juga Rentan

Abu vulkanik tidak hanya masuk melalui pernapasan. Partikel halusnya dapat mengiritasi mata.

Kemenkes mencatat paparan abu dapat menyebabkan mata merah, perih, berair, gatal dan menimbulkan sensasi seperti ada benda asing. Pada kondisi tertentu, gesekan partikel abu bahkan dapat menyebabkan abrasi kornea.
"Abu ini ada partikel-partikel kecilnya yang bisa membuat mata kita jadi terganggu," ujar Budi.
Karena itu, masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan kacamata.

Panduan USGS juga merekomendasikan penggunaan pelindung mata untuk mengurangi risiko partikel abu masuk ke mata.

Kulit Dapat Mengalami Iritasi

Kontak langsung dengan abu juga dapat berdampak pada kulit. Menurut Kemenkes, paparan abu dapat menyebabkan iritasi, kemerahan dan rasa gatal, serta memperburuk penyakit kulit yang sebelumnya sudah ada.
Kementerian Kesehatan bahkan telah menyiapkan dukungan medis untuk menghadapi dampak erupsi. Menteri Kesehatan menyebut pemerintah menyiapkan nebulizer, konsentrator oksigen, obat tetes mata dan salep kulit.

Jangan Sapu Abu Kering

Salah satu kesalahan yang perlu dihindari adalah langsung menyapu abu vulkanik yang menempel di rumah atau halaman dalam kondisi kering.

Aktivitas menyapu dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan kemudian terhirup.
Budi menyarankan abu yang tipis terlebih dahulu dibasahi dengan sedikit air sebelum dibersihkan.

"Harus abunya disemprot dulu dengan air agar basah supaya abunya tidak terbang ke mana-mana saat kita bersihkan. Baru sesudah basah dan lembab, kita bersihkan," katanya.

Panduan USGS juga menekankan pentingnya mengurangi paparan ketika proses pembersihan berlangsung karena aktivitas manusia, kendaraan dan angin dapat membuat abu yang telah mengendap kembali beterbangan.

Lindungi Air dan Makanan 

Risiko abu vulkanik tidak berhenti pada udara. Kemenkes memperingatkan abu dapat mencemari sumber air terbuka, tempat penampungan air dan makanan yang tidak terlindungi.

Karena itu, wadah air sebaiknya ditutup dan makanan tidak dibiarkan terbuka selama abu masih berpotensi masuk ke lingkungan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut abu dan bahan kimia hasil erupsi dapat mencemari makanan dan air serta mengganggu layanan dasar masyarakat.

Waspada Jalan Licin-Jarak Pandang

Abu vulkanik juga menciptakan risiko yang tidak selalu berkaitan langsung dengan kesehatan pernapasan.

Tumpukan abu dapat mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan licin. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas maupun cedera.

USGS menyarankan masyarakat menghindari perjalanan yang tidak penting ketika terjadi hujan abu. Jika harus berkendara, kendaraan perlu dipacu secara perlahan dengan jarak aman yang lebih besar.

Anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan merupakan kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. USGS menyarankan kelompok tersebut menghindari paparan abu sebisa mungkin. Aktivitas fisik berat juga sebaiknya dihindari karena bernapas lebih cepat dapat membuat lebih banyak partikel masuk ke paru-paru.

Kemenkes sendiri telah menerbitkan Surat Edaran Nomor KL.01.02/A/17765/2026 mengenai kesiapsiagaan dan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap dampak erupsi dan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah berisiko diminta meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk mengatur pelayanan selama 24 jam, memastikan ketersediaan tenaga kesehatan serta menyiapkan logistik seperti masker dan kebutuhan medis lainnya.(far,ist/dya)

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.