TRENGGALEK (Lentera) – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah belum mengajukan pencabutan status suspend meski pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) telah selesai. Perbaikan internal masih dilakukan, sedangkan sekitar 2.000 penerima manfaat untuk sementara mendapat layanan dari SPPG lain di wilayah terdekat.
Koordinator Wilayah SPPI Trenggalek, Shiella Ammanda Yanu Fadilla, menjelaskan hasil pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu acuan dalam menentukan pembenahan yang harus dilakukan SPPG Tamanan. Evaluasi tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari rantai pasok bahan makanan hingga kondisi fasilitas dan tata kelola.
"Temuan dari laboratorium harus ditindaklanjuti sesuai dengan sumber permasalahannya. Bisa berupa evaluasi supplier, pembenahan sarana prasarana, maupun perbaikan dalam pengelolaan SPPG," ujar Shiella.
Ia menambahkan, proses perbaikan belum sepenuhnya rampung. Pengajuan untuk mengakhiri status suspend baru dapat dilakukan setelah berbagai pembenahan yang diperlukan diselesaikan.
"Saat ini proses peningkatan kualitas masih berlangsung. Kami masih melihat pembenahan sarana prasarana dan manajemen SPPG, sehingga pencabutan suspend belum diajukan," katanya.
Untuk sementara, distribusi MBG tidak dihentikan. Penerima manfaat yang sebelumnya berada dalam cakupan pelayanan SPPG Tamanan dialihkan kepada SPPG lain agar kebutuhan makanan tetap terpenuhi.
Shiella menyebut pengalihan dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi SPPG pengganti sekaligus kondisi penerima manfaat. Mereka yang menjadi sasaran program juga tetap memiliki pilihan terkait penerimaan makanan.
"Pelayanannya kami alihkan ke SPPG yang lokasinya paling dekat. Namun, penerima manfaat tetap memiliki hak untuk menentukan apakah mereka bersedia menerima makanan dari SPPG pengganti atau belum," jelasnya.
Dari pendataan yang dilakukan, seluruh penerima manfaat SPPG Tamanan telah diarahkan ke layanan SPPG lain. Jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 2.000 penerima manfaat.
"Untuk penerima manfaat dari SPPG Tamanan, sementara ini seluruhnya kami alihkan ke SPPG lain. Jumlahnya kurang lebih 2.000 orang, sehingga pelayanan MBG tetap bisa berjalan," kata Shiella.
Meski demikian, layanan bagi penerima manfaat di SMPN 1 Trenggalek masih belum kembali diberikan. Pihaknya masih menunggu perkembangan lebih lanjut terkait sekolah tersebut.
"Kalau untuk SMPN 1 Trenggalek, informasi yang kami terima sampai sekarang memang belum menerima layanan MBG kembali. Kami masih menunggu perkembangan berikutnya," ujarnya.
Menurut Shiella, keputusan tersebut tidak akan dipaksakan kepada penerima manfaat. Pihaknya akan menyesuaikan pelayanan dengan kesediaan masing-masing penerima.
"Prinsipnya kami menghormati keputusan penerima manfaat. Bagi yang bersedia menerima, tentu akan tetap kami layani, sedangkan yang belum bersedia juga tetap kami hormati," katanya.
Persoalan di SPPG Tamanan sebelumnya muncul setelah makanan MBG dibagikan kepada penerima manfaat pada 11 Agustus 2026. Menu yang disajikan ketika itu meliputi nasi putih, ayam bumbu sate, tahu fantasi, cah bayam dan jagung, serta semangka.
Pada hari berikutnya, sejumlah penerima manfaat mulai mengeluhkan gangguan kesehatan, di antaranya sakit perut, mual, muntah, dan diare.
Satgas MBG Trenggalek kemudian melakukan pendataan terhadap penerima manfaat yang mengalami keluhan. Tercatat 549 orang terdampak, dengan 493 orang berasal dari SMPN 1 Trenggalek, 30 orang dari SDI Luqman Al Hakim, dan 26 penerima manfaat Posyandu Kelurahan Tamanan.
Kasus tersebut juga menyebabkan seorang siswa SDI Luqman Al Hakim berinisial SA, 11 tahun, harus mendapatkan penanganan medis di RSUD dr. Soedomo Trenggalek. Ia mengalami muntah dan diare yang disertai dehidrasi.
SA tiba di IGD rumah sakit pada 12 Agustus sekitar pukul 20.00 WIB sebelum dipindahkan ke ruang Dahlia sekitar tiga jam kemudian. Setelah menjalani perawatan selama tiga hari, kondisi SA membaik dan diperbolehkan pulang pada 14 Agustus sekitar pukul 10.30 WIB.
Untuk memastikan penyebab munculnya keluhan tersebut, sampel makanan dari menu MBG kemudian diperiksa di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya.
Hasil pemeriksaan yang diterima Satgas MBG Trenggalek pada 24 Agustus, melalui surat tertanggal 20 Agustus 2026, menemukan Bacillus cereus pada sampel nasi putih. Sementara itu, bakteri Escherichia coli atau E. coli ditemukan pada sampel semangka.
Dari pemeriksaan terhadap menu lainnya, tidak ditemukan kuman pada sampel ayam, bayam dan jagung, maupun tahu fantasi. Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Sunarto.
Hasil laboratorium tersebut kemudian menjadi bagian dari evaluasi terhadap SPPG Tamanan. Pembenahan dilakukan sebagai langkah tindak lanjut sebelum pengelola mengajukan pencabutan status suspend.
Dengan demikian, hingga saat ini SPPG Tamanan belum kembali memberikan layanan MBG secara mandiri. Selama proses perbaikan berlangsung, kebutuhan penerima manfaat tetap dipenuhi melalui SPPG lain yang berada di sekitar wilayah pelayanan sebelumnya.
Reporter: Herlambang|Editor: Arifin BH




.jpg)
