04 September 2026

Get In Touch

Capaian CKG di Malang Baru 26 Persen, Dinkes Genjot Jemput Bola

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Wiyanto Wijoyo. (Santi/Lentera)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Wiyanto Wijoyo. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Capaian program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Malang hingga Agustus 2026 baru mencapai sekitar 26 persen. Untuk mengejar capaian tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang menggenjot pelaksanaan CKG dengan strategi jemput bola, mulai dari menyasar sekolah hingga pondok pesantren.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Wiyanto Wijoyo, mengatakan capaian tersebut masih berada di bawah target nasional CKG tahun kedua yang ditetapkan sebesar 46 persen.

"Program CKG di tahun kedua ini sesuai target nasional harus mencapai 46 persen dari jumlah orang yang harus di-CKG," ujar Wiyanto, Kamis (3/9/2026).

Ia menjelaskan capaian CKG pada 2025 berada di kisaran 30 persen. Sementara pada periode Januari hingga Agustus 2026, pelaksanaan CKG baru mencapai sekitar 26 persen.

Meski demikian, Wiyanto mengaku optimistis capaian tersebut masih dapat dikejar hingga akhir 2026. Pihaknya berharap realisasi CKG nantinya tidak hanya memenuhi target nasional, tetapi bahkan dapat melampauinya. "Kami berharap sampai di 2026 akhir nanti bisa melampaui target nasional," katanya.

Untuk mengejar target tersebut, Dinkes terus mendorong setiap puskesmas agar meningkatkan pelaksanaan CKG. Evaluasi capaian dilakukan setiap bulan untuk melihat puskesmas yang telah memenuhi target maupun yang masih membutuhkan peningkatan.

Menurut Wiyanto, jumlah pemeriksaan yang mampu dilakukan masing-masing puskesmas dapat berbeda-beda. Salah satu faktor yang memengaruhi, yakni jumlah penduduk yang menjadi sasaran pemeriksaan di wilayah kerja masing-masing puskesmas.

Ia mencontohkan wilayah Poncokusumo yang memiliki jumlah penduduk cukup besar. Kondisi serupa juga terdapat di Sumberpucung dan Donomulyo sehingga jumlah sasaran CKG di wilayah tersebut juga relatif besar.

Namun, pelaksanaan CKG tidak lepas dari sejumlah kendala. Salah satunya adalah waktu masyarakat yang sebagian besar digunakan untuk bekerja pada pagi hingga sore hari. Kondisi tersebut membuat sebagian warga baru memiliki waktu untuk mengikuti pemeriksaan pada malam hari.

Karena itu, Wiyanto menegaskan puskesmas perlu lebih aktif melakukan upaya jemput bola agar masyarakat yang belum menjalani pemeriksaan tetap dapat dijangkau.

"Pokoknya puskesmas harus mempunyai target satu hari pemeriksaan bisa berapa. Mungkin kalau targetnya 200, maka tenaga kesehatannya digerakkan, bagaimanapun caranya. Kalau hari ini hanya 180, berarti besoknya harus 220," katanya.

Ia menekankan, angka 200 pemeriksaan per hari bukan merupakan target yang ditetapkan Dinkes Kabupaten Malang secara seragam untuk seluruh puskesmas. Target tersebut disesuaikan dengan kemampuan masing-masing puskesmas serta jumlah penduduk yang menjadi sasaran CKG di wilayahnya.

Selain mendatangkan masyarakat ke fasilitas kesehatan, pelaksanaan CKG juga dapat dilakukan dengan menyisir berbagai kelompok dan lokasi yang menjadi sasaran pemeriksaan.

Di sisi lain, pelaksanaan CKG juga menjadi pintu masuk untuk menemukan penyakit yang sebelumnya belum terdeteksi. Dari pemeriksaan yang telah dilakukan, penyakit tidak menular seperti hipertensi menjadi salah satu temuan yang banyak ditemukan.

Wiyanto mengataka, CKG tidak sekadar ditujukan untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat yang sudah mengalami keluhan. Program tersebut juga diarahkan untuk menemukan masyarakat yang masih terlihat sehat tetapi memiliki faktor risiko atau berpotensi mengalami penyakit.

Menurutnya, pendekatan melalui CKG mendorong pemerintah untuk lebih banyak melakukan upaya promotif dan preventif. Masyarakat yang masih sehat maupun yang berpotensi mengalami penyakit dapat diketahui kondisinya lebih awal sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum penyakit berkembang menjadi lebih berat. (*)

 

Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.