05 September 2026

Get In Touch

Iran Minta AS Penuhi Komitmen Sebelum Selat Hormuz Dibuka Kembali

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf pada Rabu  (2/9/2026). (Foto: anadolu) 
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf pada Rabu  (2/9/2026). (Foto: anadolu) 

SURABAYA (Lentera) - Iran menegaskan Amerika Serikat (AS) harus terlebih dahulu memenuhi komitmennya berdasarkan memorandum saling pengertian Islamabad sebelum Teheran mengambil langkah untuk membuka kembali Selat Hormuz.

“Amerika harus memenuhi komitmen mereka agar kami dapat melanjutkan proses pembukaan kembali Selat Hormuz,” kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf pada Rabu  (2/9/2026) melansir anadolu. 

Iran dan AS menandatangani memorandum saling pengertian di Islamabad pada 18 Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar.

Kesepakatan tersebut memuat ketentuan mengenai penghentian permusuhan, pelayaran melalui Selat Hormuz, serta perundingan lanjutan antara Teheran dan Washington.

Para pejabat Iran sejak saat itu menuduh Washington gagal menjalankan komitmennya dan mengaitkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh dengan kepatuhan AS terhadap kesepakatan tersebut.

Teheran hingga kini masih memberlakukan pembatasan pelayaran melalui jalur perairan strategis yang menghubungkan Teluk dengan Teluk Oman dan menjadi salah satu rute utama pengiriman energi global.

Para pejabat Iran mengatakan persyaratan mereka mencakup pelonggaran sanksi, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian operasi militer terhadap Iran dan sekutu-sekutunya di kawasan.

Pada akhir Agustus, para pejabat Iran mengatakan Teheran dan Oman tengah membahas pengaturan transit maritim melalui Selat Hormuz.

Namun, mereka menegaskan pengaturan tersebut tidak berarti pembukaan kembali jalur perairan itu secara penuh.

Terkait perundingan tersebut, Qalibaf mengatakan Teheran tidak menolak diplomasi, tetapi memandang negosiasi sebagai salah satu instrumen dalam perjuangan yang lebih luas. “Kami tidak menolak negosiasi, tetapi negosiasi adalah alat perjuangan,” katanya.

Dia menambahkan bahwa meninggalkan konfrontasi dengan AS dan Israel dalam berbagai bentuknya akan berarti sebuah “kekalahan.”

Qalibaf juga menyinggung memorandum Islamabad antara Teheran dan Washington. Dia juga mengatakan ketentuan pertama dalam kesepakatan tersebut menekankan penghentian perang terhadap Iran dan sekutunya dalam apa yang disebut Teheran sebagai “front perlawanan.”

Dia mengeklaim pihak AS pada awalnya mengajukan proposal 15 poin yang menuntut penghentian total aktivitas rudal dan nuklir Iran serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok sekutunya di kawasan. (*)


Editor: Lutfiyu Handi
 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.