MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang membuka opsi memanfaatkan armada Bus Halokes (armada antar jemput siswa sekolah sebelumnya), sebagai pendukung kegiatan pariwisata di wilayahnya.
Opsi tersebut disiapkan seiring beroperasinya Angkutan Pelajar Gratis, yang kini mulai melayani pelajar di Kota Malang.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat mengatakan untuk sementara waktu, Bus Halokes juga masih akan digunakan, untuk mendampingi operasional angkutan pelajar gratis.
"Sementara ini masih akan kami gunakan untuk mendampingi angkot pelajar juga," ujar Wahyu, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, pemanfaatan Bus Halokes secara bertahap dapat diarahkan untuk mendukung kegiatan lain, termasuk sektor pariwisata.
Hal itu melihat adanya permintaan dari pihak-pihak yang datang ke Kota Malang dan membutuhkan fasilitasi pemerintah daerah terkait kegiatan pariwisata.
"Nanti bertahap bisa kami manfaatkan dengan kegiatan-kegiatan yang lain. Karena sekarang banyak orang-orang yang datang ke Malang, meminta kepada Pemerintah Kota Malang untuk memfasilitasi terkait dengan pariwisata dan lain-lain," jelasnya.
Sebagai informasi, berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, terdapat 13 armada Halokes yang terdiri atas 6 unit bus dan 7 unit mobil elf.
Selama ini, armada tersebut digunakan untuk melayani antar-jemput siswa di sejumlah sekolah yang membutuhkan layanan transportasi khusus.
Sementara itu, program Angkutan Pelajar Gratis resmi diluncurkan Pemkot Malang pada Senin (31/8/2026). Sebanyak 66 armada angkot yang telah memenuhi kriteria kelayakan mulai dioperasikan untuk melayani pelajar melalui 15 rute.
Terpisah, Kepala Disdikbud Kota Malang, Suwarjana juga mengonfirmasi keberadaan Bus Halokes belum langsung dihentikan, setelah angkutan pelajar gratis beroperasi.
Menurutnya, selama satu bulan pertama, Bus Halokes tetap dioperasionalkan secara berdampingan dengan angkutan pelajar gratis.
Skema tersebut sekaligus menjadi masa transisi agar masyarakat dan pengemudi angkot dapat menyesuaikan diri dengan sistem baru.
"Kami sudah melakukan sosialisasi untuk angkutan pelajar gratis, kami juga sudah melakukan pertemuan. Kepala sekolah dan TU sudah kami undang, diajak bicara," kata Suwarjana.
"Namun untuk sementara selama satu bulan ini, tetap bus Halokes kami operasionalkan juga. Saling mengisi," imbuhnya.
Suwarjana menjelaskan, pendampingan tersebut juga dilakukan agar masyarakat tidak terlalu kaget dengan perubahan sistem transportasi pelajar.
Para pengemudi angkot pelajar diberikan waktu untuk beradaptasi dengan kondisi operasional di lapangan.
Selain itu, Bus Halokes juga masih difungsikan untuk mengantisipasi pelajar yang belum terangkut oleh angkutan pelajar gratis.
"Bus Halokes kami juga masih menyisir kalau misalnya ada siswa yang tidak terangkut di angkutan pelajar, yang mungkin ketinggalan," jelasnya.
Lebih lanjut, Suwarjana menilai, jumlah 66 armada yang saat ini beroperasi kemungkinan telah mencukupi kebutuhan. Namun, kepastian tersebut tetap harus dilihat melalui masa uji coba.
"Saya kira sudah cukup. Makanya ini diuji coba dulu selama satu bulan," katanya.
Setelah masa uji coba tersebut, pemerintah akan melihat apakah seluruh kebutuhan transportasi pelajar dapat dilayani hanya dengan angkot pelajar gratis atau masih membutuhkan dukungan armada Halokes.
Bahkan, akan dilakukan uji coba lanjutan dengan hanya mengoperasikan angkutan pelajar gratis untuk melihat kecukupan armada di lapangan.
Adapun mengenai status Bus Halokes setelah masa pendampingan berakhir, Suwarjana mengatakan, armada tersebut nantinya akan diserahkan kembali kepada Pemkot Malang.
"Nanti akan kami serahkan ke Pemkot. Itu kan asetnya Pemkot. Kami hanya pengguna saja," katanya.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





.jpg)
