04 September 2026

Get In Touch

Roket China Zhuque-3 Berhasil Kembali ke Bumi

Roket China Zhuque-3 Berhasil Kembali ke Bumi

SURABAYA ( LENTERA ) - Startup antariksa China, LandSpace, mencetak tonggak penting dalam perlombaan roket yang dapat digunakan kembali. Perusahaan swasta tersebut berhasil meluncurkan roket Zhuque-3 sekaligus mengembalikan booster tahap pertamanya ke daratan dalam pendaratan vertikal pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Keberhasilan itu menjadikan LandSpace perusahaan swasta China pertama yang berhasil memulihkan booster kelas orbital di darat menggunakan kaki pendarat. Pencapaian tersebut menempatkan LandSpace dalam kelompok perusahaan swasta yang telah menguasai teknologi pendaratan kembali roket orbital, bersama SpaceX dan Blue Origin. 

Keberhasilan ini disebut memperkecil kesenjangan China dengan Amerika Serikat dalam teknologi roket yang dapat digunakan kembali. 

Zhuque-3 Y2 meluncur dari Zona Percontohan Inovasi Antariksa Komersial Dongfeng di barat laut China, kawasan dekat pusat peluncuran Jiuquan, pada pukul 07.35 waktu Beijing. Sekitar enam menit kemudian, booster tahap pertama mendarat di Kabupaten Minqin, Provinsi Gansu, sekitar 390 kilometer dari lokasi peluncuran. Pada saat yang sama, tahap kedua meneruskan penerbangan dan berhasil menempatkan satelit Honghu-03 ke orbit yang telah ditentukan.

Pendaratan tersebut bukan sekadar keberhasilan peluncuran, melainkan pembuktian teknologi yang menjadi inti model bisnis roket masa depan: menerbangkan, mengembalikan, memeriksa, lalu menggunakan kembali booster untuk misi berikutnya.

Profesor astrofisika Macquarie University Australia, Richard de Grijs, menilai pencapaian LandSpace sebagai perkembangan penting bagi industri antariksa komersial China.
"Pendaratan sukses LandSpace adalah tonggak penting bagi sektor luar angkasa komersial China," ujar Richard de Grijs kepada AFP.

Ia menilai China kini telah menunjukkan dua pendekatan berbeda dalam pemulihan roket, yakni melalui sektor negara dan perusahaan swasta.

"China kini telah menunjukkan dua arsitektur pemulihan roket yang berbeda melalui sektor milik negara dan swasta. Kombinasi kompetisi institusional dan eksperimen teknis ini akan membantu China membangun kapasitas peluncuran berfrekuensi tinggi yang lebih murah untuk konstelasi megasatelit mereka," tambahnya.

Keberhasilan LandSpace menjadi lebih signifikan karena terjadi setelah China sebelumnya berhasil memulihkan tahap pertama roket Long March-10B milik badan antariksa negara melalui metode penangkapan menggunakan jaring di laut pada 10 Juli 2026. Zhuque-3 menjadi demonstrasi berbeda: booster kembali ke daratan dan mendarat secara vertikal menggunakan kaki pendarat yang dapat dibuka. 

Media antariksa Space.com mencatat bahwa Zhuque-3 merupakan roket orbital China kedua yang berhasil dipulihkan, tetapi menjadi yang pertama dari perusahaan swasta China yang melakukan pendaratan di darat dengan kaki pendarat. Keberhasilan itu juga merupakan upaya kedua LandSpace setelah penerbangan perdana Zhuque-3 pada Desember 2025 berakhir dengan kegagalan pada fase pendaratan booster.

Dirancang Saingi Falcon 9

Zhuque-3 memiliki panjang sekitar 66,1 meter dan diameter badan 4,5 meter. Roket dua tahap ini menggunakan struktur utama berbahan baja tahan karat. Menurut LandSpace, material tersebut memiliki ketahanan panas lebih tinggi dan berpotensi menekan biaya produksi dibandingkan paduan aluminium-litium yang digunakan pada Falcon 9 milik SpaceX. 

Roket ini juga menggunakan kombinasi propelan metana cair dan oksigen cair atau methalox. Pembakaran bahan bakar tersebut dinilai lebih bersih dibandingkan kombinasi oksigen cair dan minyak tanah yang digunakan Falcon 9.

Tahap pertama Zhuque-3 ditenagai sembilan mesin TQ-12A berbahan bakar oksigen cair dan metana. Mesin tersebut memiliki kemampuan mengatur daya dorong sehingga dapat digunakan tidak hanya saat peluncuran, tetapi juga dalam manuver perlambatan dan pendaratan booster. 

Dalam konfigurasi sekali pakai, Zhuque-3 mampu membawa hingga 14,2 metrik ton muatan ke orbit rendah Bumi atau Low Earth Orbit (LEO). Kapasitas itu masih di bawah Falcon 9 yang mampu membawa sekitar 22,8 ton ke LEO dalam konfigurasi tanpa pemulihan booster. 

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa LandSpace belum menyamai Falcon 9 dalam kapasitas angkut maupun pengalaman operasional. Namun, strategi perusahaan bukan sekadar mengejar daya angkut. Fokusnya adalah membangun kendaraan yang dapat digunakan berulang kali sehingga biaya setiap penerbangan dapat ditekan.

LandSpace merancang booster Zhuque-3 untuk dapat digunakan kembali hingga 20 kali. Perusahaan juga menargetkan booster yang baru mendarat itu dapat kembali diterbangkan dalam waktu sekitar enam bulan. Target tersebut menjadi ujian berikutnya untuk membuktikan apakah teknologi yang berhasil dalam satu penerbangan dapat berubah menjadi sistem peluncuran komersial yang rutin. 

Media teknologi Ars Technica menilai keberhasilan tersebut menunjukkan semakin terbukanya persaingan dalam industri roket reusable. Amerika Serikat membutuhkan waktu sekitar satu dekade hingga Blue Origin mengikuti keberhasilan SpaceX dalam pendaratan booster orbital pada 2015. Kini perusahaan-perusahaan di China mulai mempercepat pengembangan teknologi serupa. 

Dari Eksperimen ke Bisnis

Bagi LandSpace, keberhasilan Zhuque-3 tidak hanya berkaitan dengan teknologi. Pendaratan booster juga datang ketika perusahaan tengah mengejar pendanaan besar melalui pasar modal.

LandSpace menargetkan penghimpunan dana sekitar 7,5 miliar yuan atau sekitar US$1,1 miliar melalui penawaran umum perdana (IPO) di STAR Market, bursa teknologi Shanghai. Reuters melaporkan dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan teknologi roket yang dapat digunakan kembali serta memperluas layanan peluncuran komersial. 

Perusahaan telah memperbarui prospektus IPO pada Juni 2026 dan menargetkan mencapai profitabilitas pada 2029. Keberhasilan Zhuque-3 dinilai dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek bisnis perusahaan. 

South China Morning Post sebelumnya melaporkan status pengajuan IPO LandSpace di STAR Market kembali berada pada tahap inquiry setelah perusahaan memperbarui data keuangannya. Penggalangan dana tersebut menjadi bagian dari strategi China untuk memperkuat industri antariksa komersial sekaligus mengembangkan teknologi roket reusable.

Namun, pendaratan satu booster belum otomatis membuktikan bahwa model bisnis tersebut sudah ekonomis. Tantangan sebenarnya adalah berapa besar biaya inspeksi, perbaikan, dan pengisian ulang yang dibutuhkan sebelum booster dapat terbang kembali.

Karena itu, rencana LandSpace untuk menerbangkan kembali booster yang telah dipulihkan dalam enam bulan mendatang menjadi fase penting. Jika berhasil, perusahaan bukan hanya membuktikan kemampuan mendaratkan roket, tetapi juga kemampuan mengubah roket bekas menjadi aset yang kembali menghasilkan pendapatan.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.