30 August 2026

Get In Touch

Jangan Asal Layering, Ini Kombinasi Kandungan Skincare Pemicu Breakout

Jangan Asal Layering, Ini Kombinasi Kandungan Skincare Pemicu Breakout

SURABAYA ( LENTERA ) - Rutinitas skincare yang panjang belum tentu membuat kulit semakin sehat. Alih-alih mendapatkan wajah lebih cerah dan mulus, terlalu banyak bahan aktif dalam satu waktu justru bisa membuat kulit terasa perih, kering, kemerahan, hingga muncul breakout.

Tren skin cycling dan rutinitas berlapis membuat berbagai kandungan aktif seperti retinol, AHA, BHA, vitamin C, dan benzoyl peroxide semakin mudah ditemukan dalam produk perawatan kulit. Masalahnya, tidak semua bahan tersebut ideal digunakan dalam rutinitas yang sama.

American Academy of Dermatology (AAD) mengingatkan bahwa penggunaan produk eksfoliasi ketika kulit sudah terpapar bahan seperti retinol atau benzoyl peroxide dapat memperburuk kekeringan dan bahkan memicu munculnya jerawat. 

Karena itu, kuncinya bukan sekadar mengetahui kandungan apa yang bagus untuk kulit, tetapi juga memahami kapan bahan tersebut sebaiknya digunakan.

Retinol dan AHA/BHA

Retinol merupakan turunan vitamin A yang banyak digunakan untuk membantu mengatasi jerawat, pigmentasi, tekstur kulit, serta tanda-tanda penuaan. Sementara AHA dan BHA bekerja sebagai eksfoliator.

Ketiganya sama-sama memiliki efek aktif terhadap pergantian sel kulit. Ketika digunakan bersamaan, terutama pada kulit yang belum terbiasa, risiko kulit menjadi kering, mengelupas, merah, atau terasa terbakar dapat meningkat.

AAD juga mencatat bahwa penggunaan retinoid atau retinol bersamaan dengan eksfoliasi dapat memperburuk iritasi. 

Bukan berarti ketiganya sama sekali tidak boleh digunakan dalam satu rutinitas perawatan. Strategi yang lebih aman adalah mengatur waktunya. Misalnya, retinol digunakan pada malam tertentu, sementara AHA atau BHA digunakan pada malam berbeda.

Retinol dan Benzoyl Peroxide

Kombinasi ini cukup sering menjadi perhatian bagi pemilik kulit berjerawat. Retinol bekerja dengan meningkatkan pergantian sel kulit, sedangkan benzoyl peroxide digunakan untuk membantu menangani jerawat.

Masalahnya, keduanya dapat sama-sama menyebabkan kulit kering dan iritasi. Beberapa formulasi benzoyl peroxide juga dapat memengaruhi stabilitas jenis retinoid tertentu.
Verywell Health memasukkan retinol dan benzoyl peroxide sebagai kombinasi yang perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan kekeringan dan iritasi. 

Bila keduanya memang dibutuhkan, penggunaannya dapat dipisahkan berdasarkan waktu atau hari. Namun, untuk produk obat jerawat atau retinoid resep, sebaiknya mengikuti petunjuk dokter karena kombinasi tertentu justru memang digunakan dalam terapi jerawat.

AAD mencatat bahwa obat jerawat topikal dapat menyebabkan efek samping seperti kulit kering, iritasi, rasa terbakar, pengelupasan, bahkan jerawat yang tampak memburuk sementara. 

Retinol dan Vitamin C

Vitamin C merupakan antioksidan yang populer digunakan pada rutinitas pagi untuk membantu menangani kulit kusam dan kerusakan akibat paparan lingkungan. Retinol biasanya lebih sering digunakan pada malam hari.

Keduanya tidak otomatis menjadi kombinasi yang "haram" bagi semua orang. Namun, ketika dipakai bersamaan, terutama dalam konsentrasi tinggi dan pada kulit sensitif, beban bahan aktif bisa membuat kulit lebih mudah mengalami iritasi.

Karena itu, memisahkan waktunya menjadi pilihan sederhana. Vitamin C dapat digunakan pada pagi hari, sementara retinol digunakan pada malam hari.

Pendekatan tersebut juga membuat rutinitas lebih mudah dikontrol ketika kulit mulai menunjukkan tanda-tanda tidak cocok.

AHA/BHA dan Vitamin C

AHA seperti glycolic acid dan lactic acid serta BHA seperti salicylic acid sama-sama memiliki fungsi eksfoliasi. Sementara itu, vitamin C dalam bentuk asam tertentu juga dapat memberikan efek aktif pada kulit.

Menggabungkannya dalam satu sesi bukan selalu berarti pasti menyebabkan masalah. Namun, pada kulit sensitif atau ketika konsentrasi bahan aktif cukup tinggi, kombinasi tersebut dapat meningkatkan risiko kering, perih, kemerahan, dan gangguan pada skin barrier.

AAD menyarankan pengguna mempertimbangkan produk yang sudah digunakan sebelum melakukan eksfoliasi karena sejumlah bahan aktif dapat membuat kulit lebih sensitif. 

Cara praktisnya adalah memisahkan penggunaannya. Vitamin C bisa ditempatkan dalam rutinitas pagi, sedangkan AHA atau BHA digunakan pada malam tertentu.

Benzoyl Peroxide dan Vitamin C

Benzoyl peroxide banyak digunakan untuk menangani jerawat, sedangkan vitamin C lebih dikenal sebagai antioksidan dan bahan pencerah.

Keduanya dapat memberikan manfaat berbeda, tetapi menumpuk bahan aktif dalam satu rutinitas bukan selalu pilihan terbaik. Benzoyl peroxide dapat meningkatkan kekeringan dan iritasi, terutama bila kulit sudah menggunakan beberapa bahan aktif lainnya.
AAD bahkan menyarankan pasien yang sedang menggunakan isotretinoin untuk menghindari benzoyl peroxide dan vitamin C karena kondisi kulit selama terapi tersebut menjadi lebih sensitif. 

Untuk penggunaan sehari-hari di luar terapi isotretinoin, pemisahan waktu tetap menjadi pilihan yang lebih mudah untuk mengurangi beban pada kulit.

Jangan Lupakan Niacinamide

Niacinamide sering dianggap sebagai bahan yang mudah dipadukan dengan berbagai produk. Anggapan bahwa semua bahan aktif pasti tidak boleh bertemu niacinamide juga tidak tepat.

Verywell Health mencatat bahwa niacinamide justru dapat dipasangkan dengan sejumlah bahan aktif dan berpotensi membantu mengurangi efek kering atau iritasi. 

Karena itu, persoalan skincare tidak sesederhana membuat daftar "boleh" dan "tidak boleh". Konsentrasi bahan, jenis formulasi, kondisi skin barrier, frekuensi pemakaian, serta sensitivitas kulit ikut menentukan apakah suatu kombinasi dapat ditoleransi.

Kulit Perih Bukan Tanda Skincare Sedang Bekerja

Salah satu kekeliruan yang masih sering terjadi adalah menganggap rasa perih, panas, kemerahan, atau kulit mengelupas sebagai tanda produk sedang bekerja.
Padahal, gejala tersebut bisa menjadi tanda kulit mengalami iritasi.

AAD menyarankan menghentikan penggunaan produk ketika muncul reaksi kulit dan melakukan evaluasi terhadap bahan yang digunakan. Untuk produk baru, pengujian pada area kecil kulit juga dapat membantu mengetahui kemungkinan reaksi sebelum produk diaplikasikan secara lebih luas. 

Prinsip yang sama berlaku ketika memperkenalkan bahan aktif baru. Tidak perlu memasukkan retinol, exfoliating acid, vitamin C, dan obat jerawat sekaligus dalam satu minggu hanya karena semuanya sedang populer.
Dermatolog juga cenderung menyarankan pendekatan bertahap. AAD, misalnya, menyebut penggunaan retinoid sebaiknya dimulai perlahan dan dapat dilakukan setiap dua malam sekali sebelum frekuensinya ditingkatkan, terutama untuk mengurangi kemungkinan iritasi.

Sederhanakan Rutinitas

Ketika kulit mulai bermasalah, menambah produk baru justru sering membuat sumber masalah semakin sulit dilacak.
Rutinitas dasar sebenarnya tidak perlu rumit: pembersih yang lembut, pelembap untuk membantu menjaga skin barrier, serta sunscreen pada pagi hari. Bahan aktif dapat ditambahkan secara bertahap sesuai kebutuhan kulit.

AAD juga merekomendasikan pelembap setelah penggunaan bahan eksfoliasi karena proses tersebut dapat membuat kulit lebih kering. 

Jadi, sebelum melakukan layering banyak serum sekaligus, perhatikan kembali kandungan yang ada di setiap produk. Skincare bukan perlombaan untuk memakai sebanyak mungkin bahan aktif.

Kulit yang sehat justru sering kali dimulai dari rutinitas yang sederhana, konsisten, dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.