SURABAYA ( LENTERA ) - Para peneliti menemukan spesies ikan gua langka dengan penampilan tidak biasa di Gua Bobcat, dekat Huntsville, Amerika Serikat. Ikan tersebut tidak memiliki mata dan pigmen tubuh, memiliki punggung bungkuk, sirip berduri, serta bentuk moncong yang berbeda dari ikan gua lain yang pernah diidentifikasi.
Temuan itu berawal dari survei yang dilakukan Profesor Madya Ilmu Biologi Universitas Alabama di Huntsville, Dr. Matthew Niemiller. Hasil penelitian mengenai spesies tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports.
Niemiller mengatakan, ia sebelumnya telah menemukan dan mempelajari berbagai jenis ikan gua yang memiliki kemiripan secara genetik. Namun, ikan yang ditemukan di Gua Bobcat menunjukkan karakteristik yang berbeda.
“Tetapi yang satu ini berbeda dalam beberapa hal yang terus terbukti benar,” kata Niemiller.
Untuk mengidentifikasi spesies tersebut, tim peneliti melakukan serangkaian pemeriksaan, mulai dari pemindaian CT, pengujian genetik, hingga analisis lainnya. Hasilnya menunjukkan struktur kerangka ikan itu berbeda dibandingkan hewan lain yang sebelumnya telah diidentifikasi di dalam gua tersebut.
Temuan ini juga memunculkan kekhawatiran terkait kelangsungan hidup spesies tersebut. Berdasarkan pengetahuan para peneliti saat ini, ikan itu hanya diketahui hidup di satu lokasi.
“Spesies ini hanya dikenal dari satu lokasi berdasarkan pengetahuan terbaik kami, dengan kemungkinan ukuran populasi yang sangat kecil,” ungkap Niemiller.
Tak Miliki Pigmen
Adaptasi terhadap kehidupan di lingkungan gelap membuat ikan tersebut memiliki ciri fisik yang mencolok. Niemiller menjelaskan, spesies itu tidak memiliki mata, memiliki punggung bungkuk, sirip berduri, serta moncong yang berbeda dibandingkan spesies ikan gua lainnya.
Tubuhnya juga tidak memiliki pigmen atau warna. Kondisi tersebut membuat bagian otak ikan dapat terlihat jelas ketika terkena cahaya terang.
Karakteristik itu membedakan spesies baru tersebut dari sejumlah ikan gua lain yang pernah diamati para peneliti. Lingkungan gua yang gelap secara permanen memang dapat mendorong munculnya adaptasi khusus pada organisme yang hidup di dalamnya, termasuk perubahan pada penglihatan dan pigmentasi tubuh.
Selain karakteristik fisiknya yang unik, penamaan ikan tersebut juga memiliki cerita tersendiri..
Salah satu penulis penelitian, Armbruster, diketahui memiliki keterkaitan dengan munculnya julukan ikan gua “iblis”. Ia merupakan penggemar serial Stranger Things.
Ketika spesies itu ditemukan, serial tersebut disebut tengah mendekati perilisan musim berikutnya. Armbruster kemudian mengusulkan nama Demogorgon, tokoh monster dalam serial Stranger Things, karena dianggap memiliki kemiripan dengan penampilan ikan tersebut.
“Apa sebutan untuk benda putih polos, tanpa mata, dan agak tidak mencolok? Maksud saya, sulit untuk menemukan nama deskriptif untuk sesuatu seperti itu, jadi yang akan Anda lihat adalah banyak organisme gua memiliki semacam keterkaitan dengan makhluk bawah tanah tertentu,” ujarnya.
Julukan “ikan iblis” pun melekat pada spesies tersebut karena keterkaitannya dengan nama Demogorgon, makhluk fiktif yang dikenal sebagai monster dari dunia lain dalam serial tersebut.
Selain mengidentifikasi ciri fisik dan genetika spesies tersebut, para peneliti juga mencoba memahami pola makannya.
Armbruster menyebut ikan gua tersebut kemungkinan bukan pemakan yang terlalu selektif. Di tengah lingkungan gua yang memiliki sumber makanan terbatas, spesies itu diduga memanfaatkan apa pun yang dapat dikonsumsinya.
“Ikan gua iblis kemungkinan besar memakan apa pun yang muat di mulutnya,” imbuhnya.
Penemuan ini menambah daftar organisme unik yang beradaptasi dengan kehidupan bawah tanah. Namun, fakta bahwa spesies tersebut sejauh ini hanya diketahui berada di satu lokasi juga membuat keberadaannya menjadi perhatian tersendiri.
Jika populasi ikan itu memang sangat kecil dan hanya bergantung pada satu ekosistem gua, perubahan lingkungan atau gangguan terhadap habitat dapat menjadi ancaman serius bagi kelangsungan spesies tersebut.
Temuan di Gua Bobcat itu sekaligus menunjukkan bahwa ekosistem bawah tanah masih menyimpan banyak organisme yang belum sepenuhnya dipahami. Di balik kegelapan gua, spesies tanpa mata dan tanpa warna itu kini menjadi salah satu contoh bagaimana kehidupan dapat beradaptasi dalam kondisi yang jauh berbeda dari lingkungan di permukaan.(far,ist/dya)





.jpg)
