18 August 2026

Get In Touch

Layak Ditiru, Korsel Lawan Panas Ekstrem dengan Hutan Kota

Layak Ditiru, Korsel Lawan Panas Ekstrem dengan Hutan Kota

SURABAYA ( LENTERA ) - Saat gelombang panas semakin sering melanda berbagai negara akibat perubahan iklim, pendingin ruangan bukan lagi satu-satunya solusi. Korea Selatan justru menunjukkan bahwa pepohonan di tengah kota mampu bekerja layaknya "AC alami" yang efektif menurunkan suhu udara.
Temuan tersebut berasal dari penelitian National Institute of Forest Science (NIFoS) yang mengamati 17 kawasan hutan kota di Seoul selama satu tahun. Hasilnya menunjukkan kawasan berhutan mampu menjaga suhu udara 1,3–1,6 derajat Celsius lebih rendah pada malam hari, sementara pada siang hari efek pendinginannya mencapai 1,8–1,9 derajat Celsius dibanding kawasan perkotaan yang didominasi beton dan aspal.
Peneliti Urban Forest Research Center NIFoS, Choi Su-min, mengatakan hutan kota merupakan bagian penting dari infrastruktur hijau untuk menghadapi cuaca ekstrem.
"Hutan kota merupakan infrastruktur hijau yang sangat penting untuk melindungi masyarakat dari gelombang panas ekstrem. Hutan berdaun lebar bertingkat dan hutan campuran menunjukkan kemampuan pendinginan yang sangat baik," ujar Choi Su-min, dikutip dari The Korea Times.
Efek penurunan suhu bukan terjadi secara kebetulan. Menurut penelitian tersebut, pepohonan mendinginkan lingkungan melalui dua mekanisme utama.
Pertama, tajuk pohon menghalangi sinar matahari langsung sehingga permukaan tanah tidak cepat menyerap panas. Kedua, daun melepaskan uap air melalui proses evapotranspirasi, yang membantu menyerap panas dari udara di sekitarnya.
Sebaliknya, permukaan beton dan aspal menyimpan panas sepanjang siang, kemudian melepaskannya kembali saat malam. Fenomena ini dikenal sebagai urban heat island atau pulau panas perkotaan, yang menyebabkan suhu kota tetap tinggi bahkan setelah matahari terbenam.
"Hutan melepaskan jauh lebih sedikit energi panas yang tersimpan sehingga membantu mengatur iklim mikro perkotaan sepanjang waktu," kata Choi.
Penelitian juga menemukan bahwa tidak semua ruang hijau memberikan manfaat yang sama.
Kawasan dengan hutan campuran dan pepohonan berdaun lebar bertingkat memberikan efek pendinginan paling besar dibanding taman yang hanya ditumbuhi rumput atau pohon dengan jarak tanam renggang.
Karena itu, para peneliti menyarankan pemerintah kota tidak hanya memperbanyak ruang hijau, tetapi juga memperhatikan komposisi vegetasi ketika merancang taman dan kawasan hijau baru.
Temuan dari Korea Selatan sejalan dengan berbagai penelitian internasional mengenai nature-based solutions atau solusi berbasis alam untuk menghadapi perubahan iklim.
Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UN Environment Programme (UNEP) serta World Health Organization (WHO) sebelumnya menekankan bahwa penambahan tutupan pohon di perkotaan dapat membantu menurunkan suhu lingkungan, meningkatkan kualitas udara, mengurangi risiko penyakit akibat panas, sekaligus mendukung kesehatan mental masyarakat.
Di banyak kota dunia seperti Singapura, Melbourne, Paris, hingga Barcelona, penghijauan menjadi bagian penting dari strategi adaptasi iklim. Pemerintah daerah memperluas taman kota, menanam pohon peneduh di sepanjang jalan, hingga membangun koridor hijau untuk mengurangi dampak gelombang panas yang semakin sering terjadi.
Bagi Indonesia, yang juga menghadapi peningkatan suhu di sejumlah kota besar, hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa ruang hijau bukan sekadar elemen estetika. Keberadaan pepohonan dapat menjadi investasi jangka panjang untuk menciptakan kota yang lebih nyaman, sehat, dan tangguh menghadapi perubahan iklim.
 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.