Anggaran Proyek Penyediaan Layanan Publik Turun, Pengolahan Sampah di Kota Malang Ikut Menyesuaikan
MALANG (Lentera) -Rencana pengelolaan sampah melalui Local Service Delivery Project (LSDP) di Kota Malang mengalami penyesuaian, setelah terjadi penurunan anggaran dari Rp200 miliar menjadi sekitar Rp130 miliar. Penyesuaian anggaran tersebut berdampak pada target volume sampah yang akan ditangani, dari sebelumnya 150 ton menjadi sekitar 120 ton per hari.
"Tetapi kami masih bersyukur karena meskipun ada penyesuaian anggaran dari pusat, Kota Malang tetap masih di angka 10 besar. Harapannya nanti Kota Malang akan menjadi contoh untuk pelaksanaan LSDP tersebut," ujar Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Matondang, ditemui di Balai Kota Malang, Senin (17/8/2026).
Dikatakannya, tim dari Kemendagri dijadwalkan kembali melakukan penilaian terhadap Kota Malang pada Rabu dan Kamis pekan ini.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Wali Kota Malang dan Dirjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri ditargetkan berlangsung pada Desember mendatang.
Seiring proses tersebut, Raymond mengatakan, DLH kini harus melakukan penyesuaian terhadap feasibility study (FS) atau studi kelayakan yang sebelumnya telah disusun pada 2023.
Menurut Raymond, FS sebelumnya hanya memuat rencana pembangunan fasilitas pengolahan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Sementara dalam skema LSDP baru, Kemendagri meminta adanya pengembangan pengelolaan sampah yang mencakup TPST sekaligus Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).
"Karena FS yang kami buat waktu itu hanya untuk TPST. Sedangkan yang sekarang dari Depdagri minta selain TPST juga ada TPS3R," terangnya.
Dalam rencana terbaru, pembangunan TPS3R akan diarahkan ke Kelurahan Merjosari. Sementara fasilitas TPST direncanakan tetap berada di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang.
Penyesuaian tersebut juga berdampak terhadap kapasitas sampah yang dapat ditangani melalui program. Sebelumnya, rencana pengolahan sampah mencapai sekitar 150 ton per hari dengan estimasi anggaran Rp200 miliar.
Namun, setelah anggaran yang direncanakan turun menjadi sekitar Rp130 miliar, kapasitas penanganan sampah ikut disesuaikan menjadi sekitar 120 ton per hari. Dari total tersebut, kata Raymond, sekitar 100 ton sampah per hari akan ditangani melalui TPST, sedangkan 20 ton per hari melalui TPS3R.
Dari sisi output pengolahan, rencana dalam FS sebelumnya mengarah pada produksi Refuse Derived Fuel (RDF), yakni bahan bakar yang berasal dari pengolahan sampah.
RDF tersebut sebelumnya direncanakan untuk dimanfaatkan melalui kerja sama dengan industri semen. Namun, menurut Raymond, terdapat pertimbangan terkait jarak antara Kota Malang dengan pabrik semen yang berada di Tuban.
Jarak yang cukup jauh dikhawatirkan dapat memengaruhi nilai kalor RDF ketika didistribusikan untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar. "FS yang sebelumnya RDF. Kami tambahkan satu inovasi lagi menjadi batubara sintetis dan pirolisis menjadi petasol," kata Raymond.
Disinggung terkait waktu pelaksanaan, Raymond memastikan proyek tersebut direncanakan mulai dikerjakan pada 2027, setelah seluruh tahapan persiapan dan proses penetapan program selesai. "Tetap di tahun depan. Tahun depan, 2027," pungkasnya.
Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH





.jpg)
