17 August 2026

Get In Touch

Lewat Petualangan Zuan dan Wony, Mahasiswa Unesa Ajarkan Konsep 5R kepada Anak

Tabitha Ayu Putri Ning Bestari, mahasiswa D4 Desain Grafis Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menunjukkan karyanya.
Tabitha Ayu Putri Ning Bestari, mahasiswa D4 Desain Grafis Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menunjukkan karyanya.

SURABAYA (Lentera) – Edukasi tentang pengelolaan sampah kini dikemas lebih dekat dengan dunia anak melalui buku ilustrasi interaktif yang memadukan cerita, permainan, aktivitas fisik, dan teknologi digital. 

Inovasi tersebut dikembangkan Tabitha Ayu Putri Ning Bestari, mahasiswa D4 Desain Grafis Universitas Negeri Surabaya (Unesa), melalui karya berjudul “Zuan dan Wony: Petualangan 5R”.

Karya tersebut dikembangkan sebagai proyek tugas akhir sekaligus media edukasi lingkungan dalam program SIER Mengajar 1. Melalui buku ini, Tabitha berupaya mengenalkan gaya hidup zero waste kepada siswa sekolah dasar dengan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan mudah dipahami.

Ia menjelaskan, gagasan pembuatan buku tersebut berangkat dari kebutuhan menghadirkan media pembelajaran lingkungan yang sesuai dengan karakteristik anak sekolah dasar. Menurut Tabitha, isu ekologi kerap memiliki konsep yang kompleks sehingga membutuhkan pendekatan kreatif agar dapat dipahami dan diterapkan anak dalam kehidupan sehari-hari.

“Desain grafis memiliki kekuatan luar biasa untuk menyederhanakan isu ekologi yang kompleks menjadi petualangan visual yang taktil dan mudah dipahami oleh kognisi anak-anak,” ujar Tabitha, Sabtu (15/8/2026).

Dalam buku tersebut, anak-anak diajak mengikuti petualangan dua karakter, Zuan dan Wony, untuk mengenal konsep 5R, yakni Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot. Kelima prinsip pengelolaan sampah itu tidak disampaikan dalam bentuk teori semata, tetapi dikemas melalui alur cerita dan aktivitas interaktif.

Konsep Refuse mengajak anak belajar menolak barang yang tidak diperlukan, sedangkan Reduce menekankan pengurangan penggunaan barang. Selanjutnya, Reuse mengenalkan pemanfaatan kembali barang, Recycle mengajarkan proses daur ulang, dan Rot memperkenalkan pengolahan sampah organik.

Untuk memperkuat pengalaman belajar, buku tersebut menggabungkan metode membaca konvensional dengan aktivitas fisik dan teknologi digital. Sejumlah halaman dilengkapi elemen visual yang dapat disentuh melalui fitur buka-tutup, sementara QR Code mengarahkan pembaca ke konten digital berupa permainan edukatif.

Dengan pendekatan tersebut, anak tidak hanya membaca cerita, tetapi juga melakukan aktivitas langsung dan mengeksplorasi materi tambahan menggunakan perangkat digital. Cara ini diharapkan dapat membantu anak memahami pentingnya memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, serta memanfaatkan kembali barang yang masih memiliki nilai guna.

Tak berhenti pada buku, Tabitha juga mengembangkan sejumlah media pendukung untuk memperluas pesan edukasi lingkungan. Media tersebut antara lain video animasi motion graphic, pemetaan konten media sosial, hingga produk turunan seperti tas bekal dan perangkat berkebun.

Berbagai media tersebut dirancang agar prinsip zero waste dapat diperkenalkan melalui aktivitas sederhana yang dekat dengan keseharian anak. "Dengan demikian, edukasi lingkungan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi dapat diarahkan menjadi kebiasaan yang dilakukan sejak usia sekolah dasar," tuturnya.

Melalui inovasi tersebut, Tabitha berharap anak-anak semakin mengenal gaya hidup ramah lingkungan dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. "Karya ini sekaligus menunjukkan bahwa desain grafis tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi visual, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi untuk mendorong perubahan perilaku menuju kehidupan yang lebih berkelanjutan," tutupnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.