15 August 2026

Get In Touch

Dokter Baru Unusa Diminta Kuasai Teknologi Tanpa Kehilangan Empati

Pelantikan dan pengambilan sumpah dokter baru Fakultas Kedokteran (FK) Unusa.
Pelantikan dan pengambilan sumpah dokter baru Fakultas Kedokteran (FK) Unusa.

SURABAYA (Lentera) - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi kesehatan diprediksi semakin mengubah cara dokter memberikan pelayanan kepada pasien. Namun, kemajuan teknologi tersebut dinilai tidak boleh menggeser nilai kemanusiaan yang menjadi inti profesi kedokteran.

Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Prof. Tri Yogi Yuwono, saat melantik dan mengambil sumpah dokter baru Fakultas Kedokteran (FK) Unusa, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, dokter masa kini tidak cukup hanya memiliki kompetensi klinis. Mereka juga dituntut memiliki integritas, adab, sopan santun, empati, solidaritas, serta menghormati sesama dalam menjalankan profesinya.

Ia mengatakan, sumpah dokter yang diikrarkan para lulusan bukan sekadar formalitas untuk memenuhi persyaratan profesi. Sumpah tersebut merupakan janji moral yang harus melekat sepanjang perjalanan pengabdian seorang dokter.

“Profesi dokter harus kalian dudukkan sebagai sebuah panggilan kemanusiaan, bukan alat mengejar materi semata,” ucapnya.

Ia mengatakan, dokter lulusan Unusa memiliki tanggung jawab moral untuk mengamalkan ilmu kedokteran sejalan dengan nilai Rahmatan lil 'Alamin. Karena itu, kemampuan medis harus berjalan beriringan dengan akhlak dan kepedulian terhadap manusia.

Tri Yogi juga mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam memberikan pelayanan, termasuk ketika dokter berkomunikasi melalui ruang digital.

Ia menyinggung kasus almarhum Yurizal Tri Chaerawan, seorang pasien yang sebelumnya menyampaikan keluhan terkait pelayanan kesehatan melalui media sosial. Menurutnya, peristiwa tersebut harus menjadi bahan refleksi bagi dunia kesehatan mengenai pentingnya menjaga nurani, adab, dan empati kepada pasien.

“Kejadian memilukan seperti itu tidak boleh terjadi lagi. Saya haramkan perbuatan nirempati itu keluar dari jari atau lisan seorang dokter lulusan Unusa,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Tri Yogi menitipkan enam karakter yang diharapkan menjadi bagian dari kepribadian setiap dokter lulusan Unusa. Keenamnya adalah integritas, adab, sopan santun, empati, solidaritas, dan menghormati sesama.

Ia menuturkan, integritas dibutuhkan agar dokter tetap teguh memegang prinsip moral, baik ketika memberikan pelayanan medis maupun saat berkomunikasi di ruang digital.

Adab dan sopan santun juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antara dokter dan pasien. Sementara empati diperlukan agar dokter memahami kondisi pasien yang datang dengan berbagai persoalan, mulai dari rasa sakit, ketakutan hingga kecemasan. “Pasien adalah amanah kudus, bukan beban,” ujarnya.

Ia juga meminta dokter memberikan pelayanan secara adil tanpa membedakan latar belakang sosial maupun kondisi pasien. Enam karakter tersebut diharapkan menjadi ciri khas dokter lulusan Unusa. 

"Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengenal mereka karena kompetensi klinis, tetapi juga melalui sikap dan perilaku ketika memberikan pelayanan," ucapnya.

Di sisi lain, Tri Yogi mengingatkan para dokter baru bahwa mereka memasuki dunia kedokteran yang berkembang sangat cepat. Kehadiran AI, telemedicine, genomik, big data, dan berbagai teknologi kesehatan telah mengubah cara tenaga medis bekerja.

Dengan latar belakang sebagai insinyur, Tri Yogi menilai perkembangan teknologi membuka ruang kolaborasi yang semakin luas antara kedokteran dengan berbagai disiplin ilmu.

“Dunia kedokteran masa depan adalah dunia yang sangat bergantung pada inovasi dan teknologi interdisipliner,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak membuat dokter kehilangan sentuhan kemanusiaan.

Menurutnya, AI dapat membantu dokter meningkatkan kualitas pelayanan, mendukung analisis dan pengambilan keputusan, tetapi tidak dapat menggantikan nilai kemanusiaan dalam hubungan antara dokter dan pasien.

“Teknologi medis akan terus berubah, penyakit baru akan terus muncul, namun esensi kemanusiaan dari seorang dokter tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun,” ujarnya.

Karena itu, para dokter baru diminta menjadi pembelajar sepanjang hayat (lifelong learner). Gelar dokter yang diperoleh pada hari pelantikan bukan akhir dari proses belajar, melainkan awal dari perjalanan untuk terus memperbarui kompetensi sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tri Yogi juga berpesan kepada para dokter baru yang akan menjalani program internship dan mengabdi di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia agar selalu menjaga nama baik almamater.

Ia meminta para dokter tidak menjadikan keterbatasan dalam sistem pelayanan kesehatan sebagai alasan untuk melampiaskan kekecewaan kepada pasien.

“Di mana pun kalian ditempatkan, jaga nama baik almamater Unusa. Kibarkan bendera Unusa melalui prestasi, dedikasi, dan akhlakul karimah yang kalian tunjukkan kepada masyarakat,” pesannya.

Kepada para orang tua, Tri Yogi menyampaikan apresiasi atas dukungan dan pengorbanan yang diberikan selama putra-putri mereka menempuh pendidikan kedokteran.

Menurutnya, keberhasilan seorang dokter tidak terlepas dari dukungan keluarga yang mendampingi proses pendidikan yang panjang dan penuh tantangan.

“Kepada para dokter baru, selamat berjuang, selamat mengabdi. Selamat menyelamatkan kehidupan. Jadilah lilin yang menerangi kegelapan, dan jadilah rahmat bagi alam semesta,” pungkasnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.