14 August 2026

Get In Touch

Pemkot Malang Belum Prioritaskan Daging Sapi di Operasi Pasar Meski Harga Masih Tinggi

Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, meninjau salah satu lapak daging sapi di Pasar Bunul, Kamis (13/8/2026). (Santi/Lentera)
Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, meninjau salah satu lapak daging sapi di Pasar Bunul, Kamis (13/8/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang belum memprioritaskan daging sapi dalam operasi pasar meski harga komoditas tersebut masih tinggi di sejumlah pasar, termasuk Pasar Bunul. Harga daging sapi di pasar tersebut kini di kisaran Rp150.000 per kilogram, naik sekitar Rp10.000 dari harga sebelumnya Rp140.000 per kilogram.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, mengatakan kenaikan harga daging sapi telah terpantau selama lebih dari dua minggu terakhir. "Memang sudah naik sekitar Rp10.000-an. Dari Rp140 ribu naik jadi Rp150 ribu. Dari RPH Rp145.000," ujar Eko, ditemui di Pasar Bunul, Kota Malang, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi ketersediaan sapi lokal yang mulai menipis. Meski demikian, ia menyebut kondisi pasokan saat ini tidak separah sekitar satu bulan sebelumnya. "Ketersediaan untuk sapi lokal ini memang menipis. Tetapi tidak terlalu langka seperti sebulanan lalu," katanya.

Pemerintah Kota Malang, lanjut Eko, telah mengupayakan pemenuhan kebutuhan sapi melalui impor sebagai salah satu langkah untuk menjaga ketersediaan pasokan dan mengatasi kenaikan harga daging sapi.

Kendati demikian, Pemkot Malang belum memprioritaskan operasi pasar khusus untuk komoditas daging sapi. Pengawasan harga dan ketersediaan tetap dilakukan dengan memantau kondisi di sejumlah pasar.

"Kalau untuk daging sementara belum. Tapi kami tetap memantau perkembangan di setiap pasar. Kalau operasi pasar kami masih terkait dengan sembako. Kalau daging sapi ini kami masih belum memprioritaskan, tetapi tetap kami terus memantau," jelas Eko.

Kenaikan harga tersebut turut dirasakan pedagang daging sapi di Pasar Bunul. Salah seorang pedagang, Sarbin, mengatakan harga yang meningkat membuat penjualan daging sapi ikut terdampak.

Menurutnya, jumlah pembeli mengalami penurunan karena harga daging sapi semakin mahal. Kondisi tersebut juga dipengaruhi berkurangnya stok sapi hidup. "Memang agak repot jualnya. Pembeli berkurang," ujar Sarbin.

Ia menyebutkan, sebelum harga naik, penjualan daging sapi miliknya dapat mencapai sekitar 50 kilogram per hari. Namun, saat ini penjualan hanya berkisar 3 hingga 15 kilogram per hari.

Penurunan tersebut membuat stok daging yang biasanya dapat habis dalam sehari kini tidak lagi selalu terserap oleh pembeli. "Kurang lebih 50 kilogram. Tapi kalau sekarang lakunya sekitar 3-15 kilogram per hari," katanya.

Sarbin mengatakan, sebagian besar konsumennya merupakan pemilik usaha warung. Sementara untuk jenis daging, harga juga berbeda bergantung pada kualitas dan peruntukannya.

Untuk daging yang digunakan sebagai bahan rawon, misalnya, harganya sekitar Rp140.000 per kilogram. Sedangkan daging dengan kualitas lebih baik dijual sekitar Rp150.000 per kilogram.

Adapun harga jeroan relatif lebih rendah dibandingkan daging sapi, yakni sekitar Rp60.000 per kilogram. Di tengah kenaikan harga dan penurunan pembeli, Sarbin berharap harga daging sapi kembali normal sehingga aktivitas perdagangan kembali ramai. "Harapannya harga normal lagi, pembeli ramai lagi," pungkasnya. (*)

 

Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.