12 August 2026

Get In Touch

Soal Bau Badan, Pahami Beda Deodorant dan Antiperspirant

Soal Bau Badan, Pahami Beda Deodorant dan Antiperspirant

 

SURABAYA ( LENTERA ) - Cuaca panas dan aktivitas padat sering membuat ketiak lebih mudah berkeringat. Masalahnya, keringat berlebih bukan hanya menimbulkan rasa lengket dan tidak nyaman, tetapi juga dapat memicu munculnya bau badan ketika bercampur dengan bakteri di permukaan kulit.

Dalam kondisi seperti ini, banyak orang mengandalkan deodorant. Namun, tahukah kamu bahwa deodorant dan antiperspirant sebenarnya memiliki fungsi berbeda?
Keduanya memang sama-sama digunakan pada area ketiak dan tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari spray, bubuk, gel, lotion hingga roll-on. Namun, pilihan produk sebaiknya disesuaikan dengan persoalan yang ingin diatasi yaitu bau badan atau produksi keringat yang berlebihan.

Cleveland Clinic menjelaskan, deodorant ditujukan untuk mengatasi bau badan, sedangkan antiperspirant bekerja mengurangi jumlah keringat. Keduanya juga dapat membantu mengurangi bau, tetapi melalui mekanisme yang berbeda. 

Mengatasi Bau Vs Mengurangi Keringat

Perbedaan paling mendasar terletak pada manfaat utamanya.

Deodorant bekerja terutama untuk mengendalikan bau badan. Produk ini tidak menghentikan produksi keringat. Kandungannya dapat berupa bahan antimikroba yang membantu mengurangi bakteri penyebab bau, sekaligus pewangi untuk menutupi aroma yang tidak sedap.

Hal ini penting karena keringat sebenarnya bukan sumber utama bau badan. Cleveland Clinic menjelaskan bahwa keringat pada dasarnya tidak berbau. Bau muncul ketika keringat berinteraksi dengan bakteri yang terdapat secara alami di kulit.

Sementara itu, antiperspirant dirancang untuk mengurangi produksi keringat. Produk ini umumnya menggunakan senyawa berbasis aluminium sebagai bahan aktif. Senyawa tersebut bekerja pada saluran keringat sehingga aliran keringat ke permukaan kulit berkurang. 

Karena jumlah keringat berkurang, kelembapan di area ketiak juga ikut berkurang. Kondisi ini pada akhirnya dapat membantu mengurangi bau badan.

American Academy of Dermatology Association (AAD) bahkan secara tegas membedakan keduanya. Antiperspirant membantu mengurangi keringat, sementara deodorant tidak. Deodorant ditujukan untuk mengatasi atau menutupi bau badan. 

Jika persoalan utamanya adalah bau badan tetapi produksi keringat masih tergolong normal, deodorant bisa menjadi pilihan.
Deodorant bekerja dengan membantu mengendalikan bakteri penyebab bau dan memberikan aroma tambahan. Produk ini tidak dirancang untuk menghentikan keringat.
Dengan kata lain, memakai deodorant bukan berarti ketiak tidak akan berkeringat. Fungsinya lebih kepada membuat bau badan tetap terkendali.

Dan ini penting untuk dipahami karena berkeringat sebenarnya merupakan proses normal tubuh. Keringat membantu tubuh mengatur suhu, terutama ketika cuaca panas atau saat melakukan aktivitas fisik. 

Tapi jika masalah utama adalah keringat berlebih, antiperspirant lebih sesuai.
American Academy of Dermatology menyebut antiperspirant sebagai salah satu cara utama untuk membantu mengatasi keringat berlebih atau hyperhidrosis. Produk yang dijual bebas dapat membantu kasus ringan, sedangkan sebagian orang dengan kondisi lebih berat mungkin membutuhkan antiperspirant dengan resep atau penanganan dermatologis lainnya. 

Mayo Clinic juga menyebut antiperspirant yang mengandung aluminum chloride dapat membantu mengatasi hyperhidrosis ringan. Produk tersebut umumnya digunakan pada kulit kering sebelum tidur dan dicuci pada pagi hari. 

Selain produk, pemilihan pakaian juga dapat membantu. Dermatolog menyarankan pakaian yang memungkinkan sirkulasi udara, seperti bahan yang lebih breathable. Pakaian yang terlalu ketat atau bahan sintetis tertentu dapat membuat panas dan kelembapan lebih terperangkap. 

Kapan Sebaiknya Digunakan?

Meski sama-sama dapat digunakan dalam rutinitas perawatan tubuh, waktu pemakaian antiperspirant dan deodorant bisa berbeda.
Untuk deodorant, penggunaannya relatif fleksibel. Produk dapat digunakan pada kulit yang bersih sesuai kebutuhan, misalnya setelah mandi pada pagi hari atau sebelum beraktivitas.

Sementara itu, antiperspirant justru sering bekerja lebih optimal ketika digunakan pada malam hari sebelum tidur, terutama pada kulit yang benar-benar kering.
AAD merekomendasikan antiperspirant diaplikasikan sebelum tidur pada kulit kering. Setelah produksi keringat terkendali, frekuensi pemakaian biasanya dapat dikurangi sesuai kebutuhan.

Cleveland Clinic juga menjelaskan bahwa pada banyak jenis antiperspirant, pemakaian malam hari memungkinkan produk berada di kulit selama sekitar enam hingga delapan jam ketika produksi keringat berada pada tingkat lebih rendah. Deodorant dapat digunakan pada pagi hari untuk membantu mengendalikan bau. 

Namun, penggunaan produk tidak berarti bebas dari risiko iritasi.
Deodorant maupun antiperspirant dapat menyebabkan iritasi, terutama jika mengandung pewangi atau pewarna tertentu. Risiko tersebut juga dapat meningkat apabila produk langsung digunakan setelah mencukur bulu ketiak ketika kulit masih mengalami iritasi.
Karena itu, Cleveland Clinic menyarankan produk diaplikasikan pada kulit yang bersih dan kering serta pengguna dengan kulit sensitif perlu memperhatikan daftar bahan pada kemasan.

Bagi pemilik kulit sensitif atau dermatitis, pilihan produk sebaiknya lebih selektif. Bila muncul kemerahan, rasa terbakar, gatal atau iritasi yang menetap, pemakaian sebaiknya dihentikan dan kondisi kulit diperiksa oleh tenaga medis.

Terkait Kandungan Aluminium

Aluminium menjadi salah satu bahan yang paling sering menimbulkan pertanyaan ketika membahas antiperspirant.

Senyawa berbasis aluminium memang merupakan bahan aktif yang umum digunakan dalam antiperspirant. FDA Amerika Serikat mencantumkan sejumlah bahan aktif berbasis aluminium, termasuk aluminum chloride, aluminum chlorohydrate dan berbagai senyawa aluminum zirconium dalam monograf obat antiperspirant yang dijual bebas. 

Namun, kekhawatiran bahwa aluminium dalam antiperspirant menyebabkan kanker payudara belum didukung bukti ilmiah yang kuat.
National Cancer Institute (NCI) menyatakan tidak ada bukti ilmiah yang menghubungkan penggunaan deodorant atau antiperspirant dengan perkembangan kanker payudara. 

AAD juga menyebut penelitian tidak menemukan hubungan penggunaan antiperspirant berbahan aluminium dengan kanker payudara maupun penyakit Alzheimer. 

Meski demikian, ada satu catatan penting. Orang dengan penyakit ginjal sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan antiperspirant tertentu, terutama produk dengan kandungan aluminium yang lebih tinggi.

Artinya, tidak perlu langsung panik hanya karena melihat kata “aluminium” pada label. Yang lebih penting adalah memahami fungsi bahan tersebut dan menyesuaikannya dengan kondisi kulit serta kebutuhan masing-masing.

Perlu Pakai Keduanya?

Tidak ada satu produk yang otomatis paling baik untuk semua orang.
Cleveland Clinic menekankan bahwa pilihan bergantung pada tujuan penggunaan dan seberapa banyak seseorang berkeringat.

Sementara jika ingin mengendalikan keduanya, konsumen juga dapat memilih produk kombinasi yang mengandung fungsi deodorant sekaligus antiperspirant.

Namun, jangan hanya terpaku pada klaim “48 jam”, “clinical protection” atau “extra dry” pada kemasan. Perhatikan pula bahan aktif, kondisi kulit, serta petunjuk penggunaan.
Bagi pemilik kulit sensitif, produk dengan kandungan pewangi atau bahan tertentu bisa lebih mudah memicu iritasi. Karena itu, membaca daftar bahan sebelum membeli bukan sekadar formalitas.


Keringat bukan selalu sekadar persoalan kosmetik.Jika seseorang berkeringat sangat banyak meski sedang tidak beraktivitas atau berada di lingkungan panas, pakaian terus-menerus basah, berkeringat ketika tidur, atau kondisi tersebut sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, keluhan tersebut dapat mengarah pada hyperhidrosis dan sebaiknya diperiksakan. 

Perubahan mendadak pada jumlah keringat atau bau badan juga patut diperhatikan. Cleveland Clinic menyebut perubahan bau tubuh yang tidak biasa dalam kondisi tertentu dapat berkaitan dengan masalah kesehatan sehingga perlu dievaluasi tenaga medis. 

Dengan memahami perbedaan deodorant dan antiperspirant, rutinitas perawatan tubuh bisa menjadi lebih tepat sasaran++terutama bagi mereka yang harus beraktivitas di tengah cuaca panas dan kelembapan tinggi.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.