11 August 2026

Get In Touch

Bukan Sekadar Kimchi, Ini Gaya Hidup Ala Korea Pembentuk Tubuh Ideal

Bukan Sekadar Kimchi, Ini Gaya Hidup Ala Korea Pembentuk Tubuh Ideal

SURABAYA ( LENTERA ) - Budaya Korea Selatan (Korsel) bukan hanya populer lewat K-pop dan drama Korea. Pola makan, kebiasaan bergerak, hingga tren olahraga masyarakatnya juga ikut menjadi perhatian dunia.

Salah satu yang kerap membuat penasaran adalah citra tubuh ramping yang banyak terlihat pada selebritas Korea. Dari adegan makan dalam drama Korea hingga konten gaya hidup di media sosial, masyarakat Korea sering digambarkan memiliki pola makan yang sehat, aktif bergerak, dan mampu menjaga berat badan.

Namun, benarkah tubuh ramping orang Korea semata-mata karena kimchi, makan menggunakan sumpit, atau rajin berjalan kaki?

Jawabannya jauh lebih kompleks.
Berat badan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, lingkungan, genetik, kondisi sosial hingga kebiasaan hidup. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menegaskan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang dipengaruhi interaksi kompleks antara faktor biologis, perilaku makan, akses terhadap makanan sehat, lingkungan dan perubahan gaya hidup.

Karena itu, ada sejumlah kebiasaan masyarakat Korea yang menarik untuk dipelajari, tetapi tidak tepat jika seluruh penduduk Korea Selatan dianggap memiliki tubuh langsing atau berat badan ideal.

Lima faktor yang sering dikaitkan dengan pola hidup sehat masyarakat Korea.

Banyak Sayuran dan Banchan 

Salah satu ciri khas makanan Korea adalah keberadaan banchan, yakni berbagai lauk pendamping yang disajikan bersama makanan utama.

Kimchi, sayuran berbumbu, tauge, rumput laut, mentimun, atau berbagai jenis sayuran lainnya kerap hadir dalam satu meja makan. Pola seperti ini membuat konsumsi sayuran menjadi bagian dari struktur makanan sehari-hari, bukan sekadar tambahan sesekali.

Penelitian yang diterbitkan di BMJ Open menganalisis 115.726 orang dewasa Korea berusia 40-69 tahun. Studi tersebut menemukan adanya hubungan antara konsumsi kimchi dalam jumlah moderat dan prevalensi obesitas yang lebih rendah pada kelompok tertentu. Pada pria, konsumsi total kimchi satu hingga tiga porsi per hari dikaitkan dengan prevalensi obesitas yang lebih rendah dibandingkan konsumsi kurang dari satu porsi.

Namun, penelitian yang sama memberikan catatan penting jika kimchi bukan makanan ajaib untuk menurunkan berat badan.

Kimchi juga merupakan salah satu sumber natrium dalam pola makan Korea. Berdasarkan data Korea National Health and Nutrition Examination Survey 2019-2020 yang dikutip dalam penelitian tersebut, konsumsi kimchi menyumbang sekitar 500,1 miligram natrium per hari atau sekitar 15,1 persen dari total asupan natrium orang dewasa.

Penelitian lain yang menggunakan data KNHANES 2013-2017 menemukan rata-rata asupan natrium masyarakat Korea berada di kisaran 3.477-3.890 miligram per hari. Kimchi termasuk tiga kelompok hidangan yang menjadi penyumbang natrium terbesar, bersama mi atau pangsit serta sup.

Artinya, pelajaran yang bisa diambil bukan sekadar “makan kimchi agar langsing”, melainkan membangun pola makan yang lebih kaya sayuran dan mengontrol keseluruhan asupan energi serta natrium.

Bukan Sumpitnya, tapi Mengatur Porsi

Menggunakan sumpit sering disebut sebagai salah satu rahasia tubuh langsing masyarakat Korea karena makanan yang diambil dalam satu waktu relatif sedikit.

Namun, tidak ada dasar kuat untuk menyimpulkan bahwa sumpit secara otomatis membuat seseorang makan lebih sedikit dan menjadi langsing.

Yang lebih penting adalah porsi, kecepatan makan, komposisi makanan dan kesadaran terhadap rasa kenyang.

Pola makan tradisional Korea sendiri memiliki berbagai komponen makanan dalam satu meja, sehingga seseorang tidak hanya mengandalkan satu makanan utama. Lauk sayuran, sumber protein, nasi, sup dan makanan fermentasi dapat hadir secara bersamaan.

Penelitian terhadap pola makan masyarakat Korea juga menunjukkan bahwa tidak semua pola makan tradisional otomatis berkaitan dengan berat badan yang lebih rendah.
Sebuah studi terhadap lebih dari 10 ribu orang dewasa Korea menemukan bahwa pola makan yang didominasi nasi putih dan kimchi justru memiliki hubungan positif dengan obesitas setelah sejumlah faktor diperhitungkan. 

Sebaliknya, pola yang terdiri dari biji-bijian, sayuran dan ikan tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan obesitas dalam penelitian tersebut.

Temuan ini memperlihatkan satu hal penting, yang menentukan bukan satu jenis makanan, melainkan keseluruhan pola makan.

Kebiasaan Pakai Transportasi Umum

Kebiasaan menggunakan transportasi umum juga sering disebut sebagai salah satu faktor yang membuat masyarakat perkotaan Korea lebih aktif bergerak.

Di kota besar seperti Seoul, perjalanan menggunakan kereta bawah tanah dan bus sering melibatkan aktivitas berjalan kaki dari rumah menuju stasiun, berpindah jalur, atau berjalan dari stasiun menuju tempat tujuan.
Dengan kata lain, aktivitas fisik tidak selalu harus berupa satu jam olahraga di pusat kebugaran.

Berjalan kaki menuju transportasi umum, menaiki tangga, bersepeda atau melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih aktif dapat menjadi bagian dari pengeluaran energi harian.
Konsep ini sejalan dengan prinsip kesehatan modern bahwa aktivitas fisik dapat dikumpulkan dari berbagai kegiatan sepanjang hari, bukan hanya olahraga formal.

Karena itu, kebiasaan masyarakat Korea menggunakan transportasi umum tidak bisa langsung disebut sebagai “rahasia langsing”. Namun, lingkungan perkotaan yang mendorong seseorang berjalan lebih banyak dapat membantu menciptakan gaya hidup yang lebih aktif.

Tren Olahraga 

Pilates, gym, tenis, golf hingga berbagai kelas kebugaran menjadi bagian dari tren wellness di Korea Selatan.

Media sosial dan industri hiburan ikut membuat olahraga terlihat sebagai bagian dari gaya hidup. Selebritas dan influencer kerap membagikan rutinitas latihan mereka, sehingga aktivitas fisik tidak hanya dipandang sebagai kewajiban kesehatan, tetapi juga sebagai aktivitas sosial dan gaya hidup.

Namun, ada perbedaan antara olahraga untuk kesehatan dan olahraga semata-mata untuk mengejar bentuk tubuh tertentu.

Jika olahraga dilakukan secara teratur dengan tujuan meningkatkan kebugaran, kekuatan otot, kesehatan jantung dan kualitas hidup, manfaatnya jauh lebih luas daripada sekadar angka di timbangan.

Sebaliknya, olahraga yang dilakukan secara berlebihan demi mengejar standar tubuh tertentu justru dapat menjadi tidak sehat.

Ada Tekanan untuk Kurus

Di balik citra tubuh ramping Korea Selatan, terdapat sisi sosial yang tidak boleh diabaikan.
Standar kecantikan yang tinggi dapat membuat seseorang merasa harus memiliki bentuk tubuh tertentu agar dianggap menarik.

Penelitian terhadap 472 perempuan mahasiswa Korea menemukan bahwa tekanan dari media, teman sebaya dan orang tua berhubungan dengan internalisasi terhadap ideal tubuh kurus dan ketidakpuasan terhadap tubuh. Dalam penelitian tersebut, tekanan dari media memiliki pengaruh paling besar terhadap internalisasi standar tubuh kurus.

Penelitian lain terhadap perempuan Korea Selatan juga menemukan hubungan antara paparan media, internalisasi standar kecantikan, pengawasan terhadap tubuh dan rasa malu terhadap tubuh. Dalam penelitian tersebut, internalisasi standar kecantikan juga berkaitan dengan gejala gangguan perilaku makan.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa tubuh langsing tidak selalu identik dengan tubuh sehat.

Seseorang dapat memiliki berat badan rendah tetapi tidak mendapatkan nutrisi yang cukup. Sebaliknya, seseorang dengan tubuh lebih besar belum tentu tidak sehat.
Karena itu, menjadikan tubuh selebritas Korea sebagai ukuran kesehatan pribadi bukanlah pendekatan yang tepat.(far,ist/dya)

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.