10 August 2026

Get In Touch

Saat Kacamata Samsung Bisa Jadi Asisten Pintar

Saat Kacamata Samsung Bisa Jadi Asisten Pintar

SURABAYA ( LENTERA ) - Suatu hari nanti, merekam video mungkin tak lagi membutuhkan telepon genggam. Tidak perlu lagi mengangkat ponsel, membuka kamera, lalu menekan tombol rekam. Cukup memakai kacamata, semua yang dilihat mata dapat terdokumentasi.

Teknologi itu bukan lagi bayangan masa depan. Perangkat smart glasses atau kacamata pintar kini menjadi salah satu arena persaingan baru industri teknologi global. Setelah Meta lebih dulu mempopulerkan Ray-Ban Meta Smart Glasses, Samsung resmi memperkenalkan kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam ajang Galaxy Unpacked 2026 di London.

Namun, di balik kecanggihan itu, muncul satu pertanyaan besar yang terus menghantui perkembangan teknologi wearable: bagaimana memastikan seseorang tidak diam-diam merekam orang lain?Pertanyaan itulah yang berusaha dijawab Samsung.

Dalam peluncurannya di London, Samsung berkali-kali menekankan bahwa perlindungan privasi menjadi bagian dari desain produk sejak awal.

Jaein Choi, Executive Vice President Samsung Electronics sekaligus Head of XR R&D Team Mobile eXperience Business, mengatakan kepercayaan pengguna akan menjadi faktor utama keberhasilan perangkat AI yang semakin menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
"Privasi bukan pemikiran belakangan. Kami mendesain inovasi baru dengan mempertimbangkan privasi sejak awal," ujarnya.

Pernyataan itu bukan tanpa alasan.
Selama dua tahun terakhir, dunia dihadapkan pada berbagai kontroversi mengenai kacamata pintar. Perangkat yang awalnya dipuji karena mampu mengambil foto secara praktis justru memunculkan kecemasan baru di ruang publik.
Apakah seseorang sedang melihat kita?
Atau sedang merekam kita?

Lampu Kecil  Penjaga Privasi

Samsung mencoba mengatasi persoalan tersebut melalui pendekatan berbasis perangkat keras (hardware).

Saat kamera aktif, lampu LED indikator wajib menyala. Jika lampu itu ditutup menggunakan jari, plester, atau cara lain, sistem otomatis mematikan kamera.

Tidak berhenti di situ.Perangkat juga dibekali block detection, yakni sensor yang mampu mengenali upaya menghalangi lampu indikator. Begitu sistem mendeteksi adanya manipulasi, fungsi perekaman langsung dihentikan.
Samsung juga menambahkan fitur wear detection.

Artinya, kamera hanya dapat bekerja ketika kacamata benar-benar dipakai di wajah. Jika dilepas dan diletakkan di atas meja, digantung di saku, atau sengaja diarahkan untuk merekam tanpa dikenakan, kamera tidak akan aktif.

Teknologi ini dirancang untuk menutup celah yang selama ini menjadi kekhawatiran banyak orang: perekaman diam-diam tanpa sepengetahuan orang di sekitar.

Belajar dari Kontroversi Meta

Langkah Samsung tidak muncul dalam ruang kosong.Perusahaan ini memasuki pasar ketika kompetitornya, Meta, sedang menghadapi gelombang kritik mengenai privasi. Dalam beberapa bulan terakhir, Meta bahkan memperbarui perangkat lunak Ray-Ban Meta agar kamera otomatis nonaktif bila sistem mendeteksi lampu indikator telah dirusak atau ditutupi. 

Perubahan tersebut dilakukan setelah muncul laporan adanya modifikasi ilegal yang membuat lampu indikator tidak lagi menyala ketika proses perekaman berlangsung.

Media internasional juga mencatat bahwa keresahan publik terhadap kacamata pintar semakin meningkat. Banyak orang merasa tidak nyaman karena sulit mengetahui apakah mereka sedang direkam atau tidak. Bahkan sejumlah aktivis menyebut perangkat semacam ini berpotensi mengubah ruang publik menjadi ruang pengawasan (surveillance). 

Berbeda dengan kamera ponsel yang harus diarahkan secara jelas kepada objek, kamera pada kacamata pintar hampir tidak terlihat.
Inilah yang menjadi persoalan.

Seseorang dapat tetap melakukan kontak mata, berbicara, bahkan tersenyum, sementara kamera yang berada di bingkai kacamata sedang merekam.

Sejumlah pengamat teknologi menilai tantangan terbesar bukan lagi kemampuan AI, melainkan penerimaan sosial.

Teknologi boleh berkembang pesat, tetapi masyarakat membutuhkan kepastian bahwa hak atas privasi tetap dihormati.

Karena itu, banyak produsen kini mulai mengembangkan berbagai mekanisme transparansi, mulai dari lampu indikator, sensor pendeteksi manipulasi, hingga pembatasan fungsi kamera.

AI yang Semakin Personal

Kacamata pintar bukan sekadar kamera.
Perangkat ini diproyeksikan menjadi asisten pribadi berbasis AI.

Pengguna dapat meminta penerjemahan bahasa secara langsung, mengenali objek, mencari informasi, menerima navigasi, hingga berinteraksi dengan asisten digital tanpa harus mengeluarkan telepon genggam.

Kemampuan tersebut membuat interaksi manusia dengan AI menjadi jauh lebih personal.

Semakin banyak data visual, suara, dan lokasi yang diproses, semakin besar pula tuntutan agar perusahaan menjaga keamanan data pengguna.

Samsung bahkan menyatakan tidak akan menggunakan data audio, video, maupun tangkapan layar pengguna dari kacamata pintarnya untuk melatih model AI mereka, sebagai bagian dari komitmen membangun kepercayaan konsumen. 

Perkembangan teknologi wearable berjalan jauh lebih cepat dibanding regulasi.
Di banyak negara, aturan mengenai perekaman di ruang publik masih disusun ketika kamera hanya ada pada ponsel.

Kini kamera berpindah ke jam tangan, kacamata, bahkan mulai diuji pada perangkat lain yang lebih kecil.

Akibatnya, muncul pertanyaan baru.
Apakah lampu indikator sudah cukup?
Bagaimana jika seseorang tetap tidak menyadarinya?

Bagaimana perlindungan bagi anak-anak?
Bagaimana jika perangkat digunakan di sekolah, rumah sakit, ruang ibadah, atau ruang privat lainnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kini menjadi diskusi serius di kalangan regulator, perusahaan teknologi, hingga organisasi perlindungan privasi.

Kacamata pintar menawarkan banyak manfaat.
Bagi penyandang disabilitas, perangkat ini dapat membantu mengenali objek atau membaca teks. Bagi pekerja lapangan, teknologi ini memudahkan dokumentasi tanpa harus menggunakan tangan. Dalam dunia pendidikan maupun industri, potensinya bahkan lebih besar lagi.

Namun sejarah menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi.

Ia juga bergantung pada kepercayaan.
Samsung tampaknya memahami hal itu. Dengan menghadirkan sistem LED indikator, deteksi penutupan lampu, serta sensor yang memastikan kamera hanya aktif saat kacamata dikenakan, perusahaan mencoba mengirim pesan bahwa kecerdasan buatan harus berjalan berdampingan dengan perlindungan privasi.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.