01 August 2026

Get In Touch

Pjs Gubernur BI Jelaskan Penyebab Rupiah Melemah, InsyaAllah Membaik

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam sesi BI Mengajar di SMA Taruna Nala Jawa Timur, Jumat (31/7/2026). (Santi/Lentera)
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti dalam sesi BI Mengajar di SMA Taruna Nala Jawa Timur, Jumat (31/7/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) -Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menjelaskan sejumlah faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

BI memastikan akan terus menjalankan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak berdampak lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Dalam sesi BI Mengajar di SMA Taruna Nala Malang, Jumat (31/7/2026), Destry menjawab pertanyaan sejumlah siswa mengenai pelemahan rupiah yang belakangan menjadi perhatian publik.

Ditegaskannya, meski saat ini kurs rupiah berada di kisaran Rp18 ribu per dolar AS, kondisi tersebut diyakini masih dapat membaik.

"Sekarang memang satu dolar sekitar Rp18 ribu, tetapi Insyaallah tidak sampai Rp20 ribu. Malah Insyaallah bisa kembali lagi menguat," ujarnya.

Destry mengatakan, pergerakan nilai tukar pada dasarnya ditentukan oleh mekanisme permintaan (demand) dan penawaran (supply) valuta asing, termasuk dolar AS. Menurutnya, salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah saat ini adalah meningkatnya harga minyak dunia yang dipicu berbagai ketidakpastian geopolitik global.

"Kenaikan harga minyak dunia sangat tinggi. Walaupun sempat turun di kisaran 80 dolar per barel, tetapi dengan konflik yang masih terjadi, harganya kembali naik. Itu tentu memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah," katanya.

Ia menambahkan, Indonesia hingga kini masih bergantung pada impor energi, baik minyak maupun gas. Ketika harga energi dunia meningkat, kebutuhan pembayaran impor dalam mata uang dolar otomatis ikut naik.

Akibatnya, permintaan dolar AS meningkat, sementara pasokan dolar di pasar relatif terbatas karena kondisi ekonomi global yang melambat.

Menghadapi kondisi tersebut, BI menjalankan mandat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar pelemahannya tidak berlangsung terlalu tajam dan mengganggu perekonomian nasional.

BI telah melakukan berbagai langkah stabilisasi, termasuk masuk ke pasar valuta asing untuk memenuhi kekurangan pasokan dolar ketika permintaan meningkat.

Selain menjaga nilai tukar, BI juga bertanggung jawab mengendalikan inflasi di dalam negeri. Menurut Destry, penguatan ketahanan pangan menjadi salah satu kunci agar harga kebutuhan pokok tetap stabil sehingga inflasi dapat terkendali.

Dalam kesempatan tersebut, Destry juga mengingatkan generasi muda agar memahami berbagai tantangan ekonomi global yang akan dihadapi pada masa mendatang.

Menurutnya, perkembangan ekonomi dunia tidak bisa diabaikan karena akan berdampak langsung terhadap berbagai sektor, mulai dari pangan, energi hingga nilai tukar. Untuk itu, ia mengajak para pelajar tetap optimistis dengan memanfaatkan berbagai keunggulan yang dimiliki Indonesia.

Indonesia memiliki modal besar berupa letak geografis yang strategis, sumber daya alam melimpah, bonus demografi, serta pasar domestik yang sangat besar. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, termasuk sekitar 190,9 juta penduduk usia produktif, Indonesia dinilai memiliki kekuatan ekonomi yang mampu menopang pertumbuhan nasional.

Ia juga menekankan pentingnya tiga pilar utama yang perlu terus diperkuat, yakni ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan keamanan sebagai fondasi menghadapi ketidakpastian global.

Sementara itu, Kepala SMA Taruna Nala Malang, Husnul Chatimah, menyebut sekolahnya juga telah mengembangkan program ketahanan pangan yang sejalan dengan pesan yang disampaikan BI.

Program tersebut merupakan bagian dari implementasi Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan yang diluncurkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Berbagai tanaman pangan hingga buah-buahan dibudidayakan di lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran sekaligus mendukung kemandirian pangan.

"Mulai dari kepala sekolah hingga murid ikut menanam. Ketika panen buah maupun sayur, semuanya bisa menikmati. Kami juga membudidayakan padi yang ditanam di galon, sehingga selain mendukung ketahanan pangan, tanaman itu juga menjadi media belajar bagi siswa," pungkasnya.

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.