01 August 2026

Get In Touch

Dupe Culture, Bukan Barang KW tapi Duplikasi

Dupe Culture, Bukan Barang KW tapi Duplikasi

SURABAYA ( LENTERA ) - Sebotol parfum dengan aroma menyerupai merek mewah seharga Rp60 ribu. Lip tint lokal yang disebut-sebut memiliki hasil akhir mirip produk selebritas Hollywood. Tas bergaya rumah mode Eropa yang dijual murah meriah. 

Pemandangan seperti ini kini semakin lazim ditemukan di etalase pusat perbelanjaan, marketplace, hingga linimasa TikTok dan Instagram.

Di tengah kenaikan biaya hidup dan semakin kuatnya pengaruh media sosial terhadap gaya hidup, muncul satu istilah yang kian akrab di telinga konsumen, terutama Generasi Z dan milenial yaitu dupe.

Fenomena ini bukan sekadar tren belanja murah. Ia mencerminkan perubahan cara masyarakat memandang nilai sebuah produk. Jika dahulu logo dan prestise merek menjadi penentu utama, kini banyak konsumen lebih mengutamakan fungsi, kualitas, serta harga yang dianggap masuk akal.

Berbeda dengan barang palsu atau produk KW, dupe merupakan produk yang hanya mengambil inspirasi dari produk premium tanpa menggunakan nama, logo, maupun identitas merek aslinya.

The Fashion Law mendefinisikan dupe--singkatan dari duplicate--sebagai produk yang menyerupai produk lain yang lebih mahal, baik dari sisi tampilan, fungsi, maupun aroma, tetapi dijual dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Karena tidak memalsukan identitas merek, produk dupe secara hukum berada di wilayah yang berbeda dibanding barang tiruan ilegal.

Popularitas dupe tidak dapat dilepaskan dari perkembangan media sosial.
TikTok, Instagram, hingga YouTube dipenuhi video bertajuk "dupe check", "save or splurge", dan "luxury alternatives" yang membandingkan produk premium dengan versi yang jauh lebih murah. Kreator konten berlomba mengulas apakah suatu produk benar-benar memiliki kualitas yang setara dengan harga yang lebih bersahabat.

Reporter senior The Verge, Mia Sato, menyebut dupe culture sebagai konsekuensi logis dari internet yang memungkinkan siapa pun menemukan alternatif produk dengan harga lebih rendah.

"Dupe culture adalah konsep bahwa internet memungkinkan orang menemukan alternatif yang lebih murah, sebuah tiruan, atau pengganti yang layak dari barang yang sebenarnya mereka inginkan."

Algoritma media sosial kemudian mempercepat penyebaran tren tersebut. Satu video ulasan dapat ditonton jutaan kali dan langsung memicu lonjakan permintaan terhadap produk yang disebut sebagai "dupe terbaik".

Di TikTok sendiri, tagar seperti #dupe, #beautydupe, #perfumedupe, dan #luxurydupe telah mengumpulkan miliaran tayangan secara global. Fenomena ini membuat konsumen semakin mudah menemukan alternatif produk hanya dalam hitungan detik.

Data Statista pada 2025 menunjukkan bahwa kategori produk yang paling banyak memiliki versi dupe berasal dari sektor fesyen dan kecantikan.

Pakaian, tas, dan sepatu berada di posisi teratas, disusul parfum, kosmetik, serta skincare.

Fesyen menjadi sektor yang paling mudah melahirkan dupe karena desain dapat diinterpretasikan dalam berbagai bentuk selama tidak melanggar hak kekayaan intelektual.

Sebaliknya, produk skincare lebih kompleks karena harus menghadirkan formulasi dengan kandungan aktif yang mampu menghasilkan performa serupa.

Meski demikian, industri kecantikan berkembang sangat cepat sehingga alternatif baru terus bermunculan.

Produk yang Digemari

Fenomena dupe kini hampir ditemukan di seluruh kategori gaya hidup.
Di kategori parfum, salah satu contoh paling populer adalah British Pear dari Miniso yang kerap disebut memiliki karakter aroma menyerupai Jo Malone English Pear & Freesia. 

Dengan harga sekitar Rp60 ribu, produk tersebut menjadi alternatif bagi konsumen yang belum mampu membeli parfum Jo Malone yang dibanderol hingga jutaan rupiah.

Selain Miniso, lini parfum Zara juga dikenal luas sebagai produsen parfum dupe. Sejumlah variannya sering dibandingkan dengan parfum premium dari Maison Francis Kurkdjian, Yves Saint Laurent (YSL), Dior, hingga Tom Ford karena memiliki karakter aroma yang dinilai mirip dengan harga beberapa ratus ribu rupiah.

Di kategori kosmetik, produk Rhode Peptide Lip Tint milik Hailey Bieber, Soft Pinch Liquid Blush dari Rare Beauty, serta lip tint rom&nd menjadi produk yang paling sering dicari versi alternatifnya.

Di Indonesia, berbagai kreator kecantikan kerap membandingkannya dengan produk dari Hanasui, Implora, Wardah, OMG Beauty, Emina, Luxcrime, BLP Beauty, hingga Make Over yang menawarkan hasil akhir serupa dengan harga mulai puluhan ribu rupiah.

Kategori skincare juga mengalami perkembangan serupa. Produk seperti Beauty of Joseon Glow Serum, Skin1004 Madagascar Centella Ampoule, The Ordinary Niacinamide, Drunk Elephant Protini Cream, maupun La Roche-Posay Cicaplast Baume B5 memunculkan banyak alternatif dari merek Korea maupun produsen lokal yang menawarkan kandungan aktif serupa. Seperti niacinamide, centella asiatica, peptide, ceramide, dan hyaluronic acid.

Dalam dunia fesyen, tas bergaya Hermès Birkin, Louis Vuitton Neverfull, Dior Book Tote, Prada Re-Edition, hingga sandal Hermès Oran menjadi inspirasi berbagai produsen high street.

Merek seperti Charles & Keith, Pedro, JW PEI, Parfois, maupun sejumlah UMKM lokal menghadirkan desain yang mengikuti tren global tanpa menggunakan logo maupun identitas rumah mode premium tersebut.

Di kategori sepatu, model seperti Adidas Samba, Onitsuka Tiger Mexico 66, New Balance 530, dan Golden Goose juga melahirkan banyak alternatif dari produsen lokal seperti Compass, Piero, Aerostreet, hingga Kodachi.
Sementara pada produk rumah tangga, gelas, vas bunga, rak penyimpanan, hingga dekorasi bergaya IKEA, Zara Home, maupun H&M Home kini mudah ditemukan dalam versi alternatif di berbagai marketplace, Miniso, MR.DIY, hingga produsen lokal.

Dipicu Tekanan Ekonomi Global

Popularitas dupe juga berkaitan erat dengan situasi ekonomi dunia.
The Guardian menulis bahwa meningkatnya biaya hidup di berbagai negara membuat konsumen semakin berhati-hati mengeluarkan uang. Banyak orang tetap ingin mengikuti tren, tetapi memilih alternatif yang lebih terjangkau dibanding membeli produk premium.

Fenomena tersebut bahkan melahirkan istilah "dupe economy", yaitu pola konsumsi yang mengutamakan nilai guna dibanding status merek.

Laporan McKinsey & Company mengenai industri fesyen global juga menunjukkan bahwa Generasi Z dan milenial kini semakin mengutamakan konsep value for money. Mereka tetap mengikuti tren, tetapi lebih terbuka mencoba merek baru selama kualitasnya dinilai sebanding.

Sementara survei Morning Consult di Amerika Serikat menemukan sebagian besar responden Generasi Z pernah membeli atau mempertimbangkan membeli produk dupe. Harga yang lebih murah menjadi alasan utama, disusul kualitas dan kemudahan memperoleh produk.

Meski sering dianggap mengganggu eksklusivitas merek mewah, sebagian pakar justru melihat tren dupe sebagai peluang pemasaran.

The Guardian mengutip Sophie Hardie, Client Director di Goat Agency, yang menilai merek premium tidak perlu memandang dupe sebagai ancaman.

Menurutnya, keberadaan dupe justru menunjukkan kuatnya daya tarik sebuah produk.

"Alih-alih melawan tren dupes, merek premium sebaiknya memanfaatkannya untuk berinteraksi secara lebih santai dengan budaya pop. Mereka perlu merangkulnya secara autentik agar dapat menarik konsumen baru sekaligus menunjukkan kepercayaan diri terhadap kekuatan mereknya."

Di sisi lain, sejumlah rumah mode dunia tetap aktif memperkuat perlindungan hak kekayaan intelektual mereka. Selama beberapa tahun terakhir, berbagai perusahaan fesyen meningkatkan pengawasan terhadap desain yang dinilai terlalu menyerupai produk ikonik mereka.
Beda dengan Barang Palsu

Meski sama-sama terinspirasi dari produk populer, dupe tidak dapat disamakan dengan barang palsu.

Produk dupe tidak menggunakan nama merek, logo, maupun identitas perusahaan lain untuk menyesatkan konsumen. Sebaliknya, barang KW atau produk palsu sengaja meniru identitas merek agar terlihat seperti produk asli, sehingga berpotensi melanggar hukum dan merugikan pemilik merek.

Karena itu, pakar hukum kekayaan intelektual menilai konsumen perlu memahami perbedaan keduanya. Tidak semua produk yang bentuknya mirip merupakan barang palsu, tetapi tidak semua dupe juga bebas dari potensi sengketa apabila desainnya terlalu menyerupai produk asli.

Selama tidak melanggar hukum, tidak memalsukan identitas merek, dan tetap menghormati hak kekayaan intelektual, budaya dupe tampaknya akan terus menjadi bagian dari industri fesyen dan kecantikan global. Bagi sebagian orang, membeli dupe bukan sekadar cara berhemat, melainkan strategi konsumsi yang mencerminkan perubahan selera, kondisi ekonomi, dan cara baru mendefinisikan gaya hidup.(far,ist/dya)
 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.