31 July 2026

Get In Touch

ESI Surabaya Sesalkan Pembatalan Ekskul Mobile Legends, Sebut Sekolah Bisa Jadi Wadah Pembinaan Atlet

Ketua ESI Kota Surabaya, Achmad Nurdjayanto. (Amanah/Lentera)
Ketua ESI Kota Surabaya, Achmad Nurdjayanto. (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera) -Esports Indonesia (ESI) Kota Surabaya menyesalkani keputusan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang membatalkan rencana Mobile Legends sebagai kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) di sekolah.

Sebagai organisasi induk cabang olahraga esport itu menilai langkah tersebut kurang tepat karena dilakukan tanpa melibatkan para pemangku kepentingan di bidang esport.

Ketua ESI Kota Surabaya, Achmad Nurdjayanto, mengatakan pembatalan program seharusnya didahului dengan diskusi bersama ESI agar konsep ekstrakurikuler dapat disusun secara matang, ramah anak, sekaligus mendukung pembinaan prestasi.

"Kami sebagai pegiat olahraga esport tentunya sangat menyesalkan keputusan tersebut. Seharusnya kami sebagai cabang olahraga diajak duduk bersama terlebih dahulu untuk membahas konsep olahraga ini yang ramah anak," kata Achmad, Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, keberadaan ekstrakurikuler esport justru dapat menjadi wadah yang lebih terarah bagi siswa untuk menyalurkan bakat dan minat di bidang gim kompetitif. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, ia menilai anak-anak tidak mungkin dijauhkan sepenuhnya dari gim digital.

"Mustahil hari ini kita menolak perkembangan gim. Yang seharusnya dilakukan adalah merangkul dan mengakomodasi agar menjadi wadah prestasi, dengan waktu bermain yang tepat dan bermanfaat bagi siswa," katanya.

Achmad menjelaskan, melalui kegiatan ekstrakurikuler, sekolah bersama orang tua dapat mengawasi durasi bermain siswa sehingga aktivitas tersebut tetap terkontrol dan tidak mengganggu proses belajar.

Menurutnya, guru pembina yang berasal dari atlet maupun anggota ESI juga akan dibekali pemahaman agar mampu mendampingi siswa bermain secara sehat, disiplin, dan bertanggung jawab.

"Dengan adanya ekskul, orang tua dapat membatasi waktu bermain esport di sekolah maupun saat libur dengan durasi yang telah ditetapkan. Guru pembina yang berasal dari atlet maupun anggota ESI juga kami bekali pemahaman agar siswa bermain secara terukur dan tidak lupa waktu," jelasnya.

Tak hanya berorientasi pada pembinaan atlet usia dini, ESI juga melihat program ekstrakurikuler esport berpotensi membuka peluang kerja baru bagi mantan atlet maupun pelatih esport di Surabaya sebagai tenaga pembina di sekolah.

"Dengan adanya ekskul esport diharapkan dapat menjadi alternatif lapangan pekerjaan baru bagi mantan atlet atau pelatih esport di Kota Surabaya, sehingga dapat menyerap tenaga kerja di sektor informal," ujarnya.

Achmad menambahkan, besarnya minat masyarakat terhadap esport di Surabaya tercermin dari tingginya jumlah peserta dalam berbagai turnamen yang diselenggarakan ESI Kota Surabaya, termasuk Piala Wali Kota Surabaya.

"Antusiasme peserta di berbagai event yang diselenggarakan ESI Kota Surabaya sangat tinggi, termasuk Piala Wali Kota. Ini menunjukkan bahwa esport memiliki potensi besar jika dibina secara tepat," pungkasnya.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.