SURABAYA (Lentera) – Kemunculan pagar besi di area luar sejumlah pusat perbelanjaan di Surabaya belakangan menjadi perhatian masyarakat. Selain dinilai sebagai upaya meningkatkan keamanan, pemasangan pembatas fisik tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap wajah kota dan keterbukaan ruang publik.
Terkait hal itu, Dosen Arsitektur Universitas Kristen (UK) Petra, Rully Damayanti, menilai pemasangan pagar seharusnya tidak hanya mempertimbangkan aspek keamanan, tetapi juga memperhatikan keselarasan desain dengan bangunan utama.
"Dalam arsitektur, biasanya ada pengulangan elemen visual, seperti material, warna, atau pola bentuk dari bangunan utama ke rancangan pagar agar menciptakan kesatuan desain," ujar Rully, Minggu (26/7/2026).
Menurutnya, tanpa adanya benang merah dalam desain, pagar dapat mengurangi nilai estetika bangunan secara keseluruhan. Kesatuan visual menjadi penting agar elemen pembatas tidak terlihat terpisah dari karakter dan proporsi bangunan.
Rully yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan UK Petra menjelaskan, keberadaan pagar juga memengaruhi persepsi masyarakat terhadap sebuah ruang.
Pagar yang terlalu tinggi dinilai dapat membatasi pandangan visual dan menimbulkan kesan eksklusif, padahal pusat perbelanjaan merupakan fasilitas publik yang seharusnya terasa terbuka bagi masyarakat.
Ia menjelaskan, pendekatan desain yang mengedepankan pembatasan dan keamanan dalam dunia arsitektur dikenal sebagai arsitektur defensif. Konsep ini bertujuan mencegah tindak kejahatan, vandalisme, maupun gangguan terhadap fasilitas melalui berbagai elemen desain.
"Implementasinya dapat berupa elemen fisik pada ruang publik, misalnya pagar tinggi dengan bilah horizontal atau ujung tajam yang mengarah ke luar untuk menghambat intrusi," jelasnya.
Selain pagar, strategi arsitektur defensif juga dapat diterapkan melalui pengaturan tata ruang, seperti penggunaan kolam air yang mengelilingi bangunan sebagai penghalang fisik. Bahkan, dalam sejarah, sejumlah bangunan pertahanan memanfaatkan parit berair yang diisi hewan berbahaya untuk memperkuat fungsi perlindungan.
Meski demikian, Rully menawarkan pendekatan yang lebih ramah melalui konsep soft border atau pembatas halus. Konsep ini memanfaatkan elemen seperti pagar tanaman, struktur transparan, maupun kombinasi vegetasi sehingga fungsi pembatas tetap berjalan tanpa menghilangkan keterbukaan ruang.
"Pilihan soft border atau pagar dengan batas ketinggian yang terukur, misalnya sekitar 80 sentimeter, tetap dapat memenuhi fungsi pembatas area tanpa memutus koneksi visual warga. Dengan begitu, fungsi keamanan tetap berjalan tanpa menghilangkan kesan terbuka dari sebuah fasilitas publik," pungkasnya. (*)
Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi




.jpg)
