SURABAYA (Lentera) -Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menilai pembahasan mengenai Pemilihan Gubernur Jawa Timur masih terlalu dini. Menurut dia, seluruh elemen politik sebaiknya lebih memprioritaskan penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Emil menanggapi penilaian Ketua DPW PKS Jawa Timur, Bagus Prasetiyo Lelono yang menyebut dirinya sebagai salah satu figur potensial untuk kontestasi Pilgub Jatim mendatang saat bersilaturahmi di DPD Demokrat Jatim.
“Oh iya. Sangat potensial,” kata Bagus saat ditanya mengenai peluang Emil dalam Pilgub Jatim. Menurut dia, Emil memiliki pengalaman sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur sehingga memiliki modal kepemimpinan yang kuat.
Bagus mengatakan pembahasan mengenai Pilgub Jatim sebenarnya masih terlalu dini karena masih menunggu kepastian sistem pemilu pasca Putusan Mahkamah Konstitusi mengenai pemisahan pemilu nasional dan daerah. Namun, komunikasi politik antarpartai pendukung Pemerintah Provinsi Jawa Timur dinilai tetap perlu diperkuat untuk mengawal jalannya pemerintahan.
Menanggapi hal itu, Emil yang juga Ketua DPD Demokrat Jatim itu mengaku menghargai penilaian yang diberikan kepadanya. Namun, ia menegaskan masa jabatan pemerintahan saat ini masih relatif baru sehingga perhatian utama seharusnya diarahkan pada penyelesaian berbagai persoalan publik.
“Saya tentu merasa terhormat bahwa wacana itu diperbincangkan. Tapi saya ingatkan, satu setengah tahun saja sebenarnya belum dari kami diambil sumpah,” ujar Emil, Kamis (23/7/2026).
Menurut Emil, masyarakat saat ini lebih membutuhkan solusi atas persoalan konkret, mulai dari menjaga stabilitas harga hingga memastikan roda perekonomian tetap bergerak di tengah dinamika global.
Ia juga mendorong agar komunikasi dan kolaborasi antarkekuatan politik tidak hanya berhenti pada pembahasan politik elektoral, tetapi diwujudkan melalui kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Ada ide bagus yang tadi muncul, yaitu bagaimana kalau ada kegiatan yang dilakukan bersama-sama? Bukan kaderisasi yang sifatnya misalnya membangun militansi atau strategi internal partai, tapi justru pengabdian masyarakat yang dilakukan kolektif bersama-sama. Nanti kalau PKS mau mengajak juga teman lain, kita bisa rembuk bersama-sama,” pungkas Emil.
Reporter: Pradhita|Editor: Arifin BH





.jpg)
