SURABAYA (Lentera) - Iran memperingatkan akan membalas setiap serangan Amerika Serikat (AS) terhadap fasilitas nuklir atau lokasi strategis lainnya. Bahkan serangan balasan akan dilakukan terhadap kepentingan AS serta sekutu dan negara-negara pendukungnya di kawasan.
Peringatan itu disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang fasilitas bawah tanah Gunung Pickaxe yang berada di dekat kompleks nuklir Natanz.
Dalam pernyataan yang dirilis Selasa (21/7/2026) malam, melansir Anadolu, Markas Pusat Khatam al-Anbiya Angkatan Bersenjata Iran menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas sensitif negara itu akan dianggap sebagai perluasan perang di kawasan.
Menurut pernyataan tersebut, langkah semacam itu akan mendapat respons "kuat" dari angkatan bersenjata Iran.
Pernyataan Iran disampaikan setelah Trump mengatakan Amerika Serikat siap menyerang kawasan Gunung Pickaxe "dengan kekuatan yang sangat besar." Trump menyatakan dirinya meyakini Iran kemungkinan telah memindahkan sentrifus nuklir ke lokasi tersebut, meski mengakui Washington belum memiliki konfirmasi atas informasi itu.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menghancurkan radar peringatan dini, kompleks radar taktis di dekat Pangkalan Udara Ali Al Salem, serta sistem radar lain di Pulau Bubiyan, Kuwait, dalam gelombang ke-24 Operasi Nasr 2.
IRGC menyatakan seluruh sistem radar tersebut telah dilumpuhkan dan operasi militer terhadap pihak yang disebut sebagai "agresor" akan terus berlanjut.
AS meningkatkan serangan terhadap Iran sejak pekan lalu, sementara Teheran membalas dengan menyerang sejumlah fasilitas dan pangkalan yang disebut digunakan militer AS di beberapa negara kawasan.
Aksi saling serang tersebut terjadi meski kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni untuk mengakhiri perang yang dimulai pada Februari serta membuka jalan menuju perjanjian damai yang bersifat permanen. (*)
Editor: Lutfiyu Handi





.jpg)
