22 July 2026

Get In Touch

Brida Surabaya Luncurkan Game “Mangrove Throne”, Ajak Anak Aktif Bergerak dan Peduli Lingkungan

Pengembangan permainan daring berbasis web bertajuk Mangrove Throne.
Pengembangan permainan daring berbasis web bertajuk Mangrove Throne.

SURABAYA (Lentera) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memadukan teknologi, edukasi lingkungan, dan gaya hidup sehat melalui pengembangan permainan daring berbasis web bertajuk Mangrove Throne. 

Inovasi yang digagas Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Surabaya ini dirancang khusus untuk dimainkan di kawasan Kebun Raya Mangrove (KRM) dan akan resmi diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) KRM ke-3 pada Sabtu (25/7/2026).

Melalui situs mangrovethrone.com, para pemain diajak menjelajahi kawasan mangrove sambil mengenal ekosistem dan satwa yang hidup di dalamnya. Tak hanya itu, permainan ini juga dirancang untuk mendorong anak-anak dan remaja agar lebih aktif bergerak di luar ruangan.

Kepala Brida Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, mengatakan pengembangan game tersebut berangkat dari kebiasaan anak-anak usia sekolah yang gemar bermain game, tetapi cenderung menghabiskan waktu berjam-jam di dalam rumah.

“Anak-anak kita suka main game, tapi biasanya duduk di kamar berjam-jam. Itu kan tidak sehat. Dengan permainan ini, anak-anak didorong harus bermain di luar rumah, dalam hal ini di KRM yang udaranya segar dan bagus, sehingga anak-anak jadi lebih sehat,” ujar Agus, Selasa (21/7/2026).

Ia menjelaskan, Mangrove Throne mengusung konsep geolocation dan daily care yang mengharuskan pemain datang langsung ke kawasan Kebun Raya Mangrove untuk menyelesaikan berbagai misi. 

Alur cerita permainan mengangkat kisah tiga kerajaan hewan yang terinspirasi dari ikon lokal Surabaya, yakni Rajoboyo dari Kerajaan Tahta Sungai, Ratu Sura dari Kerajaan Laut, dan Pangeran Kera dari Kerajaan Mangrove.

Dalam permainan tersebut, ketiga kerajaan yang semula hidup terpisah harus bekerja sama menghadapi berbagai monster yang merepresentasikan persoalan lingkungan, seperti sampah plastik, limbah medis, hingga polusi udara.

Selain bertarung melawan ancaman lingkungan, pemain juga dituntut untuk merawat karakter hewan yang dimiliki agar tetap sehat, kenyang, dan bahagia. Pemain bahkan dapat meningkatkan kemampuan karakternya melalui kuis dan soal-soal edukatif.

“Pemain juga bisa meningkatkan poin kepintaran hewannya dengan menjawab kuis atau soal-soal sederhana yang ada di game. Untuk materi kuis ini, kami akan berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan agar materi pelajaran sekolah bisa diserap dengan menyenangkan,” jelas Agus.

Sementara itu, pengembang Mangrove Throne, David Hermansyah, menjelaskan format web apps dipilih agar permainan dapat diakses oleh berbagai jenis perangkat tanpa terkendala spesifikasi.

“Kenapa kita tidak bikin aplikasi Android atau iOS, karena kalau gadget-nya berbeda atau jadul, itu susah. Makanya kita bikin web apps supaya cukup menuju ke websitenya, mereka sudah bisa langsung main,” jelas David.

Ia menerangkan mekanisme permainan mengadopsi konsep populer seperti Pokemon Go dan Tamagotchi. Pemain dapat mengumpulkan berbagai karakter hewan di titik-titik tertentu di kawasan KRM, termasuk satwa musiman seperti burung migrasi asal Australia yang hanya muncul dalam periode tertentu.

Karakter yang telah ditemukan juga harus dirawat secara berkala di area mangrove untuk menjaga tingkat kebahagiaan dan kesehatannya. Tak hanya itu, pemain dapat saling bertukar kartu karakter, membagikan pencapaian di media sosial, hingga melakukan pertarungan antarkarakter dalam radius sekitar 100 meter.

“Ke depannya, karakter-karakter unik dalam game ini berpotensi dikembangkan menjadi merchandise fisik seperti kaos, topi, hingga kartu koleksi melalui kerja sama dengan UMKM lokal,” terangnya.

David menyebutkan, pengembangan Mangrove Throne memakan waktu sekitar tiga bulan dan akan terus disempurnakan dengan penambahan karakter, fitur hadiah, serta papan peringkat bagi para pemain.

Menurutnya, konsep permainan edukatif berbasis lokasi ini juga berpotensi diterapkan di destinasi lain milik Pemkot Surabaya.

“Fitur ini tidak hanya terbatas di Mangrove. Ke depannya bisa juga diterapkan di Kebun Binatang Surabaya atau kawasan Kota Tua untuk menarik kerumunan dan menghidupkan suasana di titik-titik yang membutuhkan edukasi,” ungkapnya.

Keseruan permainan tersebut telah dirasakan oleh siswa SMPN 48 Surabaya, Iqbal Surya Pratama. Ia mengaku harus berkeliling kawasan mangrove untuk menemukan berbagai karakter hewan yang tersedia di dalam permainan.

“Seru permainannya, bisa keliling juga dapat hewan yang macam-macam. Nanti, mau ke sini lagi dan coba main supaya dapat Cobra. Karena, saya baru tahu kalau di lingkungan mangrove ada cobranya,” tutupnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.