21 July 2026

Get In Touch

Sebanyak 19 Siswa SDN Sendangrejo Blora Diduga Keracunan Menu MBG

Siswa SD Negeri 1 Sendangrejo dirawat di Puskesmas Ngawen, Blora diduga keracunan setelah menyantap menu MBG, Senin (20/7/2026). (Beritasatu)
Siswa SD Negeri 1 Sendangrejo dirawat di Puskesmas Ngawen, Blora diduga keracunan setelah menyantap menu MBG, Senin (20/7/2026). (Beritasatu)

BLORA (Lentera) - Sebanyak 19 siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 1 Sendangrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, Jawa Tengah diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu program makan bergizi gratis (MBG) pada Senin (20/7/2026). Mereka harus dirawat di Puskesmas Ngawen karena perutnya sakit dan mual. 

"Sudah pulang semua dan dipantau sampai hari ini tidak ada gejala yang muncul lagi," ujar Bupati Blora, Arief Rohman, melansir tempo Selasa (21/7/2026).

Dia mengatakan satuan pelayanan pemenuhan gizi atau SPPG yang menyuplai MBG ke SDN Sendangsari telah berhenti beroperasi sementara. "Mulai hari ini SPPG Bogowanti tutup sementara," tuturnya.

Rincian para siswa yang mengalami keracunan, yaitu kelas III ada tiga anak, kelas IV ada tujuh anak, kelas V ada delapan anak, dan kelas VI ada satu anak.

Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Blora langsung mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium guna memastikan penyebab kejadian tersebut.

Berdasarkan salinan laporan hasil penyelidikannya, SPPG itu dikelola Yayasan Mitra Cendikia Waskita. Selama ini SPPG itu menyalurkan MBG kepada 2.341 penerima.

SPPG Bogowati menyajikan menu MBG berupa nasi putih; telur bumbu kuning; tumis kacang, wortel, dan putren; buah anggur; serta susuk kemasan. Kesimpulan laporan itu menyebut keracunan diduga lantaran mengonsumsi susu yang tak disimpan dengan baik.

Koordinator Wilayah SPPG Artika Diannita mengatakan kejadian tersebut dikategorikan sebagai insiden menonjol dalam pelaksanaan Program MBG di Kecamatan Ngawen.

"Berdasarkan laporan dari koordinator kecamatan dan Kepala SPPG, ada indikasi awal yang mengarah pada susu. Namun, kami tetap menunggu hasil laboratorium sebagai dasar memastikan penyebabnya," kata Artika melansir beritasatu.

Artika menjelaskan hasil pemeriksaan awal menunjukkan kondisi dapur secara umum telah memenuhi standar. Namun, pengawasan, pengendalian kualitas, serta fasilitas penyimpanan makanan masih perlu ditingkatkan.

"Kemungkinan susu memuai karena penyimpanannya terlalu lama atau suhu penyimpanan yang kurang sesuai. Meski demikian, masa kedaluwarsa produk masih berlaku hingga Januari 2027," ujarnya. (*)

Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.