21 July 2026

Get In Touch

Profil Andy Burnham, Eks Jurnalis yang Jadi PM Baru Inggris

Andy Burnham (Facebook)
Andy Burnham (Facebook)

SURABAYA (Lentera) -Andy Burnham resmi menggantikan Keir Starmer sebagai Perdana Menteri Inggris usai Keir Starmer resmi menyerahkan jabatannya kepada Raja Charles pada Senin (20/7/2026).

Meski namanya belum begitu dikenal di panggung internasional, Burnham merupakan figur yang memiliki tingkat popularitas tinggi di dalam negeri setelah terpilih sebagai pemimpin Partai Buruh.

Berikut profil Andy Burnham dan perjalanan politik yang membawanya menduduki jabatan tertinggi di pemerintahan Inggris, seperti dilansir BBC.

Berawal dari Putra Liverpool

Andy Burnham lahir di Liverpool pada 1970 dan menghabiskan masa kecilnya di Culcheth, desa di Cheshire yang berada di dekat Warrington. Ayahnya bekerja sebagai teknisi British Telecom (BT), sedangkan ibunya merupakan resepsionis di klinik dokter umum. Keduanya dikenal sebagai pendukung setia Partai Buruh (Labour Party), sehingga Burnham telah mengenal dunia politik sejak usia dini.

Ketertarikannya terhadap politik semakin menguat saat berusia 14 tahun setelah menyaksikan drama BBC Boys from the Blackstuff, yang mengangkat kehidupan para pengangguran di Liverpool. Burnham kemudian memutuskan bergabung dengan Partai Buruh dan menjadikan isu keadilan sosial sebagai salah satu landasan utama pandangan politiknya.

Sebagai penggemar berat klub sepak bola Everton, Burnham dikenal semasa kecil sebagai pribadi yang kompetitif dan sangat menyukai olahraga. Ia bahkan pernah menjadi pelempar cepat dalam tim kriket pelajar Lancashire. Saat bersekolah di sekolah menengah Katolik di daerahnya, Burnham mencalonkan diri sebagai kandidat Partai Buruh dalam pemilihan simulasi di sekolah dan menang dengan selisih suara telak.

Burnham menilai latar belakangnya sebagai anak dari keluarga Katolik kelas pekerja memberi pengaruh besar terhadap pandangan politiknya, terutama terkait pentingnya keadilan sosial.

Meski mengaku "dibesarkan sebagai seorang Katolik" namun tidak terlalu religius, ia dilantik sebagai anggota parlemen dengan menggunakan Alkitab dan menjadi perdana menteri pertama Britania Raya yang memasuki Downing Street sebagai seorang penganut Katolik.

Menjelang pelantikannya sebagai perdana menteri, Burnham mengungkapkan bahwa ibunya sangat terharu atas pencapaiannya. Namun, sang ayah, Roy Burnham, tidak lagi dapat memahami momen tersebut karena menderita demensia.

"Itu adalah sebuah kesedihan karena saya yakin beliau akan bangga. Cara saya memandangnya, ini juga merupakan pencapaiannya. Ini adalah pencapaian seluruh keluarga meskipun beliau tidak lagi mengetahuinya," kata Burnham kepada The Times.

Di luar aktivitas politik, Burnham juga dikenal sebagai pencinta musik independen Inggris, khususnya band-band asal Manchester seperti The Smiths dan The Stone Roses. Menurutnya, ketertarikan terhadap musik Manchester justru membantunya menemukan jati diri selama berada di Cambridge.

Berkarier dari Jurnalis

Setelah lulus dari Cambridge, Burnham memulai karier sebagai jurnalis dengan bekerja di sejumlah majalah industri, termasuk Tank World dan Passenger World Management. Karier politiknya dimulai saat menjadi peneliti bagi anggota parlemen Tessa Jowell, yang kemudian menjabat menteri pada pemerintahan Tony Blair dan Gordon Brown.

Karier Burnham berkembang pesat. Ia sempat menjadi penasihat khusus Menteri Kebudayaan Chris Smith sebelum terpilih sebagai anggota parlemen dari daerah Leigh, Greater Manchester, pada 2001.

Di pemerintahan Partai Buruh, Burnham pernah menduduki berbagai posisi strategis, mulai dari menteri junior pada era Tony Blair, Kepala Sekretaris Kementerian Keuangan (Chief Secretary to the Treasury), Menteri Kebudayaan, Media dan Olahraga, hingga Menteri Kesehatan pada pemerintahan Gordon Brown.

Saat menjabat Menteri Kebudayaan, Media dan Olahraga, Burnham menghadiri peringatan 20 tahun tragedi Hillsborough pada 2009. Dalam acara tersebut, ia sempat mendapat sorakan dari keluarga korban dan para pendukung Liverpool. Peristiwa itu mendorongnya membawa kembali kasus Hillsborough ke kabinet, yang kemudian berujung pada penyelidikan kedua atas tragedi yang menewaskan 97 suporter Liverpool tersebut.

Burnham dua kali mencalonkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh. Pada 2010 ia kalah dari Ed Miliband, sedangkan pada 2015 ia kembali gagal setelah dikalahkan Jeremy Corbyn. Meski demikian, ia tetap bertahan di kabinet bayangan sebagai Menteri Dalam Negeri Bayangan di bawah kepemimpinan Corbyn.

Seiring waktu, pandangan politik Burnham bergeser semakin ke kiri. Ia mendukung nasionalisasi sektor air dan energi, serta tidak ikut mengundurkan diri ketika sejumlah politisi Partai Buruh memprotes kepemimpinan Jeremy Corbyn pada 2016.

Membangun Reputasi Nasional

Pada 2017, Burnham meninggalkan Westminster untuk mencalonkan diri sebagai Wali Kota Greater Manchester. Ia memenangkan pemilihan dengan lebih dari 60% suara dan kembali terpilih pada 2021 dengan margin kemenangan yang lebih besar.

Selama menjabat, Burnham mendapat apresiasi atas reformasi sistem transportasi publik melalui pengembangan Bee Network. Greater Manchester menjadi wilayah pertama di Inggris di luar London yang mengembalikan layanan bus ke bawah kendali pemerintah daerah serta mengintegrasikannya dengan moda transportasi lain dalam satu jaringan.

Burnham juga berjanji menghapus tunawisma di Greater Manchester pada 2020, meski target tersebut tidak sepenuhnya tercapai.

Popularitasnya melonjak saat pandemi Covid-19 setelah secara terbuka mengkritik pemerintah Konservatif yang dinilainya memperlakukan wilayah Inggris utara dengan "penghinaan" melalui kebijakan pembatasan aktivitas selama pandemi. Sikap tersebut membuat Burnham dijuluki "King of the North" oleh sejumlah media.

Menjelang akhir 2025, Burnham mulai secara terbuka dikaitkan sebagai kandidat pemimpin Partai Buruh. Pada awalnya ia sempat gagal kembali ke Westminster setelah pencalonannya dalam pemilihan sela ditolak oleh badan pengurus Partai Buruh.

Situasi berubah setelah Partai Buruh mencatat hasil pemilu yang mengecewakan di Inggris, Skotlandia, dan Wales pada 2026. Tekanan terhadap kepemimpinan Keir Starmer meningkat, sementara anggota parlemen Josh Simons memutuskan mundur agar Burnham dapat kembali maju sebagai calon anggota parlemen.

Burnham kemudian terpilih sebagai kandidat Partai Buruh untuk daerah pemilihan Makerfield dan berhasil kembali ke Westminster. Beberapa pekan kemudian, ia dipercaya memimpin Partai Buruh dan resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Inggris (*)

Editor: Arifin  BH

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.