JAKARTA (Lentera) -Istana menyatakan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) tidak dibangun untuk bersaing secara langsung dengan jaringan ritel modern seperti Indomaret maupun FamilyMart.
Menurut pemerintah, koperasi tersebut dirancang sebagai simpul distribusi yang menghubungkan produk badan usaha milik negara (BUMN) dan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) desa dalam satu ekosistem.
Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analis Kebijakan Dirgayuza Setiawan mengatakan kesimpulan itu diperolehnya setelah mengunjungi sejumlah gerai Kopdes Merah Putih dan menghadiri peringatan Hari Koperasi ke-79.
"Kalau Indomaret membangun jaringan distribusi untuk memperkuat ekosistem Salim Group, dan FamilyMart memperkuat ekosistem Wings Group, maka Koperasi Desa Merah Putih membangun jaringan distribusi untuk memperkuat ekosistem ekonomi BUMN dan desa Indonesia," kata Dirgayuza dalam catatan yang dibagikan kepada wartawan, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, konsep yang diterapkan pada Kopdes Merah Putih memiliki kemiripan dengan model bisnis ritel modern yang terintegrasi dengan kelompok usahanya masing-masing. Jika Indomaret menjadi bagian dari ekosistem distribusi produk-produk Salim Group dan FamilyMart terhubung dengan ekosistem Wings Group, maka Kopdes Merah Putih dibangun melalui sinergi koperasi dengan berbagai BUMN.
Dalam satu gerai, masyarakat dapat mengakses berbagai layanan dan produk milik negara, mulai dari pupuk bersubsidi PT Pupuk Indonesia, LPG bersubsidi PT Pertamina, beras SPHP Bulog, layanan Pos Indonesia, layanan perbankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), produk ID FOOD, benih Sang Hyang Seri, hingga layanan kesehatan dan apotek dengan produk farmasi BUMN.
Dirgayuza menilai model tersebut bertujuan mempersingkat rantai distribusi sehingga tercipta sistem distribusi terintegrasi dari produsen hingga konsumen.
"Model ini memiliki tujuan yang sangat jelas, memendekkan rantai distribusi dan menciptakan single end-to-end ownership of the supply chain yang sebelumnya belum pernah ada untuk produk buatan BUMN," ujarnya, dikutip laman Bisnis.
Menurut dia, integrasi tersebut juga diharapkan membantu menjaga penyaluran barang-barang bersubsidi sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Pangkas Rantai Distribusi Produk Desa
Selain menghubungkan produk-produk BUMN, Dirgayuza mengatakan Kopdes Merah Putih juga dirancang menjadi saluran pemasaran bagi produk-produk UMKM desa.
Dia menilai selama ini banyak produk hasil pertanian dan industri rumahan harus melewati rantai distribusi yang panjang sebelum kembali dijual di wilayah asalnya melalui ritel modern.
Akibatnya, harga yang diterima petani jauh lebih rendah dibandingkan harga yang dibayar konsumen. Dia mencontohkan harga tomat yang dibeli dari petani sekitar Rp2.000 per kilogram dapat meningkat menjadi sekitar Rp14.000 di tingkat konsumen. Sementara cabai yang dibeli seharga Rp45.000 per kilogram dapat dijual hingga sekitar Rp100.000.
Mengacu pada kajian Agrinas Pangan, Dirgayuza menyebut total inefisiensi logistik komoditas pangan di Indonesia mencapai sekitar Rp202,6 triliun setiap tahun.
"Koperasi Desa Merah Putih dirancang untuk memangkas mata rantai tersebut sehingga harga bagi masyarakat lebih rendah, sementara petani dan UMKM memperoleh harga jual yang lebih baik," katanya (*)
Editor: Arifin BH





.jpg)
