14 July 2026

Get In Touch

Pengembangan Wisata Dinilai Belum Maksimal, Disparpora Madiun Berdalih Terkendala Efisiensi Anggaran

Kepala Disparpora Kabupaten Madiun, Puji Rahmawati. Foto: Instagram Pemkab Madiun.
Kepala Disparpora Kabupaten Madiun, Puji Rahmawati. Foto: Instagram Pemkab Madiun.

MADIUN (Lentera) – Kinerja Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Madiun dalam mengembangkan sektor pariwisata kembali menjadi perhatian. Setelah mendapat kritik dari DPRD terkait minimnya pengembangan destinasi wisata, Disparpora mengakui masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan fiskal dan akses menuju lokasi wisata.

Kepala Disparpora Kabupaten Madiun, Puji Rahmawati, mengatakan pemerintah kini tidak lagi berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana wisata secara besar-besaran.

"Kami tidak lagi secara masif membangun sarana dan prasarana di destinasi. Di tengah efisiensi fiskal, kami memilih membangun ekosistem wisata yang melibatkan masyarakat melalui konsep Community Based Tourism," ujar Puji, Senin (13/7/2026).

Ia juga mengakui akses jalan menuju sejumlah destinasi wisata unggulan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

"Kami menyadari sepenuhnya bahwa tantangan terbesar yang masih kami hadapi adalah akses jalan menuju beberapa destinasi unggulan. Namun daripada menunggu infrastruktur sempurna, kami mengambil langkah kreatif melalui paket wisata," katanya.

Menurut Puji, Disparpora lebih memprioritaskan anggaran untuk pelatihan pengelola destinasi, sertifikasi pemandu wisata, promosi digital, serta penyelenggaraan berbagai event dibanding pembangunan fisik.

"Kami memilih tidak terjebak dalam perlombaan membangun fasilitas berbiaya tinggi yang belum tentu berdampak jangka panjang. Saat ini wisatawan lebih mencari pengalaman daripada sekadar bangunan fisik," ujarnya.

Meski demikian, Disparpora mengklaim strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Jumlah kunjungan wisata meningkat dari 848.007 wisatawan pada 2024 menjadi 848.587 wisatawan pada 2025. Sementara perputaran ekonomi dari sektor pariwisata disebut naik dari Rp505 miliar menjadi Rp683 miliar.

Selain itu, Desa Wisata Gunungsari meraih Juara I Kategori Digital Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), Desa Wisata Kare masuk 50 besar, dan Desa Wisata Mendak masuk 100 besar desa wisata nasional.

Sebelumnya, Anggota DPRD Kabupaten Madiun dari Partai NasDem, Purwadi, menilai pengembangan pariwisata Kabupaten Madiun masih berjalan monoton. Ia menyoroti buruknya akses menuju destinasi wisata, minimnya amenitas, serta belum optimalnya atraksi wisata. Purwadi meminta pemerintah daerah menjadikan konsep 3A, yakni akses, atraksi, dan amenitas, sebagai prioritas agar potensi wisata Kabupaten Madiun dapat berkembang dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah. (*)

 

Reporter : Wiwiet Eko Prasetyo
Editor: Lutfiyu Handi

 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.