PARIS (Lentera) - Tiga reaktor nuklir di Prancis berhenti beroperasi, sedangkan delapan reaktor lainnya tetap operasi dengan daya yang dikurangi di tengah gelombang panas yang sedang berlangsung, demikian dilaporkan media setempat, pada Minggu (12/7/2026).
Badan cuaca nasional Prancis, pada Minggu (12/7/2026) menetapkan 37 departemen dalam status peringatan gelombang panas tingkat tertinggi (merah), sejak pukul 12.00 waktu setempat (pukul 17.00 WIB). Serta memperingatkan, bahwa suhu di wilayah-wilayah yang terdampak dapat mencapai antara 37 derajat hingga 41 derajat Celsius.
Surat kabar harian Prancis Le Parisien, mengutip pernyataan perusahaan utilitas listrik milik negara EDF yang menyebutkan, bahwa reaktor-reaktor tersebut dimatikan.
"Karena kondisi cuaca dan untuk mematuhi peraturan yang mengatur pembuangan panas, sehingga dapat melindungi lingkungan," tulisnya mengutip Antara, Senin (13/7/2026).
Suhu sungai yang tinggi dapat membatasi kemampuan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), untuk menggunakan air sungai sebagai pendingin. Sehingga operator terpaksa mengurangi output atau menghentikan sementara operasionalnya, demi mematuhi peraturan lingkungan.
Dalam sebuah laporan yang dirilis, pada Kamis (9/7/2026), Meteo-France menyatakan, bahwa menyusul gelombang panas luar biasa yang melanda Prancis pada akhir Juni, suhu yang sangat panas kembali menyebar ke sebagian besar wilayah negara tersebut.
Editor: Arief Sukaputra




.jpg)
