05 July 2026

Get In Touch

Diproyeksikan jadi Pengganti Beras, Konsumsi Ubi Jalar di Kota Malang Baru 6 Persen

Ilustrasi: Petani ubi jalar. (foto: ist/Antara)
Ilustrasi: Petani ubi jalar. (foto: ist/Antara)

MALANG (Lentera) - Di tengah upaya pemerintah memproyeksikan ubi jalar sebagai salah satu alternatif pengganti beras, tingkat konsumsi komoditas tersebut di masyarakat masih tergolong rendah, yakni baru sekitar 6 persen.

"Meskipun mempunyai potensi besar, tetapi berdasarkan data survei kami tahun lalu menunjukkan tingkat konsumsi ubi jalar di Kota Malang baru menyentuh angka 6 persen," ujar Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Elfiatur Roikhah, Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, rendahnya konsumsi pangan lokal tersebut turut memengaruhi capaian Pola Pangan Harapan (PPH). Pola konsumsi masyarakat, termasuk di Kota Malang, masih didominasi beras sehingga belum memenuhi komposisi pangan yang ideal.

"Saat ini pola pangan harapan kita di Indonesia, termasuk di Kota Malang, masih di bawah standar karena konsumsi masyarakat masih sangat tergantung pada bahan tertentu, dalam hal ini adalah beras," katanya.

Diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal sendiri, merupakan bagian dari implementasi Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. 

Melalui kebijakan tersebut, Dispangtan mengembangkan pemanfaatan ubi jalar dan labu kuning sebagai pangan lokal alternatif. Khusus ubi jalar, lanjut Elfi, komoditas ini diproyeksikan menjadi salah satu sumber karbohidrat pengganti beras.

Pengembangan tidak hanya difokuskan pada peningkatan konsumsi, tetapi juga dimulai dari sektor hulu. Sejak 2024, Dispangtan telah menyalurkan bantuan bibit serta sarana dan prasarana kepada 115 kelompok urban farming yang tersebar di 57 kelurahan.

Untuk mengatasi keterbatasan lahan di kawasan perkotaan, budidaya juga dilakukan menggunakan media tanam karung. Pihaknya juga menggandeng Universitas Brawijaya dalam pengembangan Varietas Brawijaya.

Lebih lanjut, berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi selama 3 bulan, Elfi menyebut satu karung media tanam tercatat mampu menghasilkan sekitar 100 umbi ubi jalar dengan total bobot panen mencapai sekitar 10 kilogram.

Namun demikian, pengembangan di sektor hulu masih menghadapi tantangan. Elfia mengatakan belum seluruh kelompok urban farming konsisten melakukan pembibitan ulang setelah masa panen sehingga keberlanjutan produksi masih perlu diperkuat.

Untuk itu, Dispangtan juga mendorong peningkatan konsumsi melalui sektor hilir. Salah satunya dengan menggelar Pelatihan Pangan Olahan Berbasis Sumber Daya Lokal yang telah diikuti 640 peserta dari berbagai kelurahan.

Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan mengatakan pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah komoditas lokal menjadi pangan yang sehat, aman, higienis, sekaligus memiliki nilai ekonomi.

"Di lingkungan sekitar kita tersedia berbagai sumber daya pangan lokal yang kaya nutrisi. Komoditas seperti ubi jalar, labu kuning, singkong, hingga pisang memiliki potensi besar untuk diolah menjadi makanan yang sehat, aman, dan higienis," katanya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali keterampilan mengolah ubi jalar dan labu kuning menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari mi berbahan ubi hingga aneka roti.

Hasil pengembangan produk tersebut bahkan telah dimanfaatkan dalam program pemenuhan gizi nasional. Roti tawar berbahan ubi jalar dan labu kuning hasil inovasi Dispangtan telah didistribusikan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

"Berdasarkan petunjuk teknis dari Badan Gizi Nasional, dalam satu minggu memang diwajibkan ada menu pangan lokal, yang salah satunya disajikan dalam bentuk roti tawar," jelas Slamet.

Melalui penguatan budidaya, pengembangan produk olahan, hingga perluasan konsumsi pangan lokal, Slamet berharap masyarakat mulai menerapkan pola konsumsi Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) sehingga ketergantungan terhadap beras dapat dikurangi secara bertahap.


Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.