24 June 2026

Get In Touch

Viral Garam Dicampur Kopi, Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya

Viral Garam Dicampur Kopi, Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya

SURABAYA ( LENTERA ) - Secangkir kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas banyak keluarga Indonesia. Ada yang menikmatinya saat sarapan, menemani bekerja dari rumah, hingga menjadi teman bersantai di sore hari. Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan tren menambahkan sejumput garam ke dalam kopi. Meski terdengar tidak biasa, ternyata kebiasaan ini memiliki penjelasan ilmiah yang menarik.

Bagi sebagian orang, rasa pahit merupakan ciri khas yang membuat kopi disukai. Namun tidak sedikit pula yang merasa rasa pahit kopi terlalu kuat, terutama pada kopi dengan tingkat sangrai gelap atau kopi yang diseduh kurang tepat. Di sinilah garam disebut-sebut dapat membantu memperbaiki cita rasa.

Praktik menambahkan garam ke kopi sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai negara, kebiasaan ini sudah dilakukan sejak lama. Di Turki, misalnya, kopi asin menjadi bagian dari tradisi menjelang pernikahan. Sementara di Taiwan, minuman sea salt coffee yang memadukan kopi dengan busa susu asin telah menjadi favorit banyak penikmat kopi.

Secara ilmiah, garam tidak menghilangkan zat penyebab rasa pahit pada kopi. Namun, kandungan natrium dalam garam dapat memengaruhi cara lidah dan otak memproses rasa. Ketika reseptor rasa asin dan pahit aktif secara bersamaan, sensasi pahit akan berkurang sehingga rasa kopi terasa lebih lembut dan seimbang.

Menariknya, rasa pahit pada kopi tidak hanya berasal dari kafein. Saat biji kopi melalui proses sangrai, terbentuk berbagai senyawa yang memberikan karakter pahit. Semakin gelap tingkat sangrai kopi, semakin banyak senyawa pahit yang muncul. Karena itu, kopi dark roast umumnya memiliki rasa pahit yang lebih dominan dibandingkan kopi dengan sangrai yang lebih ringan.

Meski demikian, penggunaan garam harus dilakukan dengan bijak. Menambahkan terlalu banyak garam justru dapat merusak cita rasa kopi dan membuat minuman terasa tidak nyaman di lidah. Jika ingin mencoba, cukup tambahkan sejumput kecil garam ke dalam kopi yang sudah diseduh, lalu sesuaikan dengan selera.

Para ahli juga mengingatkan bahwa tidak semua jenis kopi cocok dipadukan dengan garam. Pada kopi specialty yang memiliki karakter rasa kompleks, seperti aroma buah, bunga, atau keasaman yang khas, garam dapat menutupi keunikan rasa tersebut. Sebaliknya, garam lebih bermanfaat untuk kopi yang terasa terlalu pahit atau memiliki kualitas kurang baik.

Bagi keluarga yang gemar bereksperimen dengan minuman di rumah, tren kopi campur garam bisa menjadi pengalaman baru yang menarik untuk dicoba. Namun, perlu diingat bahwa kualitas biji kopi dan teknik penyeduhan tetap menjadi faktor utama dalam menghasilkan secangkir kopi yang nikmat.

Sea Salt, Kaya Mineral

Garam tak selalu berakibat buruk bagi tubuh sehingga harus disingkirkan dari pola makan sehari-hari. Fungsi pentingnya adalah menyeimbangkan air dalam tubuh agar tak mengalami dehidrasi.

Menurut ahli kesehatan di Miami, Dr. Esteban Genoa, hal yang perlu dilakukan adalah menggunakan garam yang tepat untuk dikonsumsi. Sehingga kandungan mineral garam dapat memaksimalkan kerja ginjal dalam mendistribusikan cairan tubuh melalui sistem yang seharusnya.

Menurut penelitian  yang dimuat di The New England Journal of Medicine tahun 2014 tentang  konsumsi  Natrium  di lebih dari 100.000  orang  di 17 negara,  menemukan kesimpulan  bahwa konsumsi garam yang ideal untuk manusia adalah 3.000-6.000 mg per hari.

Jumlah konsumsi garam yang kurang dari 3.000 mg per hari memiliki  risiko  penyakit  kardiovaskular  yang  lebih  tinggi  daripada  kelebihan garam.

Seluruh manfaat itu dapat dijumpai di sea salt atau garam laut. Sesuai  namanya,  sea  salt  diproduksi melalui penguapan  air laut.

Garam memiliki komponen  basa dan asam, umumnya dalam  bentuk  Natrium  Klorida  (NaCl).  Namun  karena  tidak  melalui  proses  kimia, maka  sea  salt  masih  mengandung  banyak  mineral  yang  didapatkan  dari air laut.

Menurut Western Analysis, Inc. (testing laboratory di Utah, Amerika Serikat), sea salt mengandung 75 mineral dan nutrisi yang dibutuhkan manusia sehingga dapat mengoptimalkan metabolisme tubuh.

Selain   NaCl,   sea  salt  juga   mengandung   magnesium   yang   bermanfaat   untuk mengatur   ratusan proses biokimia dalam sistem metabolisme  dan kardiovaskular. Kalsium yang dikandung sea salt sangat bermanfaat untuk tulang dan gigi.

Kandungan  mineral utama  lainnya  dalam sea salt adalah potasium  yang berguna mendukung sistem syaraf, serta zat besi dan yodium yang membantu menstabilkan kondisi tubuh.

Selain itu, sea salt juga mengandung sulfur yang mendukung sistem imun tubuh dan detoksifikasi.

Kandungan   mineral  dalam  sea  salt  merepresentasikan   elemen  penting  dalam kehidupan yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. Kombinasi kandungannya menjaga keseimbangan elektrolit dalam tubuh yang penting untuk mempertahankan komposisi dan sirkulasi darah, kekuatan otot, serta keseluruhan fungsi tubuh.

Kualitas mineral yang terkandung dalam sea salt sangat tergantung dari kondisi  air  laut  asalnya  serta  proses  evaporasi  yang  terjadi.  Kealamian  ini  yang membuat  sea salt memiliki rasa, tekstur, dan warna yang berbeda-beda. 

Berbeda dengan  garam  meja,  sea  salt  memiliki  tekstur  yang  agak  besar  dan  kasar,  serta warna agak kecoklatan atau bahkan merah muda.

Mengkonsumsi sea salt paling mudah adalah dengan mencampurkannya  ke dalam makanan  atau minuman.  Larutan  sea salt dalam  minuman  mengubah  kandungan mineralnya   menjadi   ion-ion   yang   lebih   mudah   diserap   tubuh.  

Penjualan  sea salt di Indonesia  belum  tersebar  merata. Selain di supermarket besar dan toko yang menjual bahan organik, sea salt dijual di sejumlah toko online.(wid,ist/dya)

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.