23 June 2026

Get In Touch

Harganas 2026: Kemendukbangga Ajak Ayah Hadir dalam Pengasuhan Anak

Sekretaris Kemendukbangga/Sekretaris Utama BKKBN, Budi Setiyono. (foto: Kemendukbangga/BKKBN)
Sekretaris Kemendukbangga/Sekretaris Utama BKKBN, Budi Setiyono. (foto: Kemendukbangga/BKKBN)

JAKARTA (Lentera) - Menjelang peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 yang jatuh pada 29 Juni mendatang, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN mengajak para ayah untuk hadir dalam kehidupan keluarga, khususnya dalam peran pengasuhan anak.

"Peran ayah tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Kehadiran ayah secara fisik dan emosional memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter, kepercayaan diri, serta kesehatan mental anak," ujar Sekretaris Kemendukbangga/Sekretaris Utama BKKBN, Budi Setiyono, dalam keterangannya di Jakarta, melansir Antara, Senin (22/6/2026).

Melalui momentum Harganas 2026, Kemendukbangga/BKKBN meminta para ayah di seluruh Indonesia untuk meluangkan waktu berkualitas bersama keluarga, membangun komunikasi yang hangat dengan anak, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, Budi menyoroti tantangan pengasuhan di era digital. Menurutnya, penggunaan gawai dan internet harus diarahkan sebagai sarana belajar, berkarya, dan berinovasi, bukan justru menjadi penyebab renggangnya hubungan antaranggota keluarga.

Karena itu, ia meminta orang tua aktif mendampingi anak saat menggunakan teknologi digital, membatasi durasi layar (screen time), serta memastikan anak tetap memiliki keseimbangan antara aktivitas digital dan interaksi sosial secara langsung.

Budi menilai pembangunan keluarga merupakan investasi jangka panjang untuk menyiapkan sumber daya manusia Indonesia dalam menghadapi bonus demografi.

Menurutnya, cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 hanya dapat dicapai apabila lahir generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing dari keluarga yang kuat.

Ia juga menegaskan, peringatan Harganas ke-33 bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum untuk mengingatkan seluruh elemen bangsa bahwa keluarga merupakan fondasi utama pembangunan manusia.

"Berbagai persoalan yang kita hadapi saat ini, seperti kekerasan remaja, perundungan, penyalahgunaan narkoba, hingga pergaulan bebas, merupakan tantangan serius yang memerlukan perhatian bersama," katanya.

Menurut Budi, keluarga menjadi benteng pertama dan utama dalam mencegah berbagai perilaku berisiko tersebut. Rumah, kata dia, harus menjadi tempat yang paling aman, nyaman, dan selalu dirindukan anak-anak.

"Kami mengajak seluruh orang tua untuk memperkuat fungsi pengasuhan, meningkatkan komunikasi dalam keluarga, menanamkan nilai-nilai agama dan moral, serta membangun kedekatan emosional dengan anak-anak sejak dini," tuturnya.

Budi menambahkan, keluarga Indonesia saat ini menghadapi tantangan baru akibat perubahan global yang berlangsung sangat cepat, mulai dari ketidakpastian ekonomi, disrupsi teknologi digital, hingga perubahan sosial yang dikenal sebagai kondisi Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity (VUCA).

Menurutnya, berbagai tantangan tersebut kini dengan mudah masuk ke lingkungan keluarga melalui perkembangan teknologi informasi. Karena itu, ketahanan keluarga menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.

"Dalam situasi seperti ini, ketahanan keluarga menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Keluarga yang kuat akan melahirkan generasi yang sehat, berkarakter, dan berdaya saing. Sebaliknya, keluarga yang rapuh akan semakin rentan menghadapi berbagai persoalan sosial yang berdampak pada masa depan bangsa," pungkasnya.

Editor: Santi

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.