19 June 2026

Get In Touch

Treb Curhat ke AI, Ahli Harvard Ingatkan Gangguan Kesehatan Sosial dan Emosional

Treb Curhat ke AI, Ahli Harvard Ingatkan Gangguan Kesehatan Sosial dan Emosional

SURABAYA ( LENTERA ) - Fenomena orang yang semakin sering menjadikan chatbot AI seperti ChatGPT atau Claude sebagai tempat bercerita kini makin umum. Banyak pengguna merasa nyaman karena respons AI cepat, terdengar ramah, dan seolah selalu memahami apa yang mereka rasakan. Bahkan, sebagian orang mulai menjadikannya “teman curhat” untuk mencari dukungan emosional sehari-hari.

Namun, sejumlah peneliti dan ahli etika dari Harvard University mengingatkan bahwa kebiasaan ini tidak sepenuhnya aman jika dilakukan terus-menerus. Dalam diskusi etika teknologi, mereka menilai chatbot yang terlalu suportif dapat memengaruhi cara manusia berpikir, berinteraksi, hingga memahami relasi sosial di kehidupan nyata.

Empati AI Hanya Simulasi

Para ahli menegaskan bahwa empati yang ditampilkan AI bukanlah empati sungguhan. Sistem tersebut hanya menyusun respons berdasarkan pola bahasa, bukan karena benar-benar memahami perasaan manusia.
Pandangan ini sejalan dengan penjelasan Carissa Véliz, Associate Professor of Philosophy dari University of Oxford, yang menilai bahwa chatbot didesain untuk membuat pengguna merasa nyaman agar terus menggunakannya.
Ia menegaskan, “Tidak ada siapa pun di balik layar yang benar-benar peduli pada Anda.”

Menurutnya, istilah “empati AI” sebenarnya menyesatkan karena mesin hanya meniru bahasa emosional manusia, bukan merasakan emosi itu sendiri.

Risiko Terlalu Banyak Validasi

Véliz juga mengingatkan bahwa jika seseorang terlalu sering menerima validasi dari AI, ia bisa menjadi kurang siap menghadapi kritik dari manusia lain di dunia nyata. Padahal, perbedaan pendapat justru penting untuk perkembangan pribadi.

Ia bahkan mencontohkan secara lugas, “Kalau Anda membosankan, penting juga untuk tahu bahwa Anda memang membosankan.”
Maksudnya, umpan balik yang tidak selalu menyenangkan tetap diperlukan dalam interaksi sosial yang sehat.

Dampak pada Relasi Sosial

Para panel ahli juga menyoroti risiko ketergantungan emosional pada AI, terutama pada anak dan remaja. Chatbot yang selalu setuju dan sabar bisa membuat ekspektasi terhadap hubungan manusia menjadi tidak realistis.

Akibatnya, interaksi dengan orang lain yang lebih kompleks bisa terasa melelahkan atau mengecewakan.

Profesor dari Harvard Law School, Jonathan Zittrain, menilai bahwa AI memang bisa bermanfaat dalam pendidikan maupun layanan tertentu. Namun ia mengingatkan adanya risiko ketergantungan sosial.

Ia menyebut, “Itu menjadi versi murah dari hubungan manusia yang sebenarnya.”

Selain itu, muncul pertanyaan serius soal tanggung jawab ketika AI memberikan saran yang keliru, terutama di bidang kesehatan atau kesehatan mental. Karena bersifat algoritmik, sulit menentukan pihak yang harus bertanggung jawab jika terjadi dampak negatif.

AI Tidak Bisa Menggantikan Dunia Nyata

Meski demikian, para ahli tidak menolak keberadaan AI. Teknologi ini tetap dianggap bermanfaat untuk membantu pekerjaan, riset, hingga akses informasi.

Namun, mereka menekankan pentingnya menjaga keseimbangan agar manusia tidak kehilangan interaksi sosial nyata.
Véliz menambahkan bahwa perkembangan AI justru bisa menjadi pengingat pentingnya pengalaman langsung yang tidak tergantikan teknologi, seperti berbicara tatap muka, membaca buku, atau beraktivitas di ruang publik.

Ia menegaskan, “Tidak peduli seberapa canggih AI nantinya, AI tidak akan pernah menjadi dunia analog.”

AI dapat menjadi alat bantu yang berguna, termasuk sebagai teman diskusi ringan. Namun, hubungan sosial di dunia nyata tetap tidak bisa digantikan. Perbedaan pendapat, kritik, dan interaksi langsung tetap menjadi bagian penting dalam perkembangan emosi dan sosial manusia, terutama dalam lingkungan keluarga dan pendidikan.(ist/dya)

Tren Pertumbuhan AI Chatbot Skala Global

Lonjakan pengguna aktif: ChatGPT mencapai sekitar 900 juta pengguna aktif mingguan, naik lebih dari dua kali lipat dari sebelumnya yang sekitar 400 juta.
Interaksi harian tinggi: Sekitar 88% orang di dunia pernah berinteraksi dengan chatbot. Dari jumlah itu, sekitar 65% pengguna menggunakannya secara rutin (harian atau mingguan).
Pasar terus tumbuh pesat: Nilai pasar global AI chatbot sekitar $9,56 miliar, diproyeksikan meningkat hingga $41,24 miliar dengan pertumbuhan tahunan sekitar 19,6% (CAGR).

Penetrasi AI Chatbot di Indonesia

Adopsi luas: Sekitar 59% masyarakat Indonesia sudah pernah mencoba atau menggunakan teknologi AI dalam aktivitas sehari-hari.
Ketergantungan meningkat: 69% pengguna memakai chatbot lebih dari 3 kali per minggu, dan 68% responden mengaku mulai bergantung pada AI untuk tugas harian.
Dominasi Gen Z: Sekitar 43,7% pengguna AI di Indonesia adalah Gen Z, dengan penggunaan utama untuk:
49,89%: pendidikan dan belajar
25,89%: hiburan/konten
12,21%: produktivitas seperti menulis dan analisis

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.