17 June 2026

Get In Touch

Ubaya Gandeng BPOM RI, Perkuat Hilirisasi Riset hingga Menjadi Produk Siap Pasar

Kuliah tamunya yang bertajuk Dari Penelitian ke Pasar: Peran BPOM dalam Mendukung Hilirisasi Inovasi Produk Pangan, Suplemen Kesehatan, Kosmetik, Obat Bahan Alam, dan Obat yang Aman, Bermutu, dan Bermanfaat bagi Masyarakat yang digelar Ubaya.
Kuliah tamunya yang bertajuk Dari Penelitian ke Pasar: Peran BPOM dalam Mendukung Hilirisasi Inovasi Produk Pangan, Suplemen Kesehatan, Kosmetik, Obat Bahan Alam, dan Obat yang Aman, Bermutu, dan Bermanfaat bagi Masyarakat yang digelar Ubaya.

SURABAYA (Lentera) – Universitas Surabaya (Ubaya) memperkuat komitmennya dalam mendorong hilirisasi hasil riset, melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Senin (15/6/2026).

Kerja sama ini diharapkan menjadi jembatan bagi inovasi kampus agar tidak berhenti di laboratorium, tetapi berkembang menjadi produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan industri.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Rektor Ubaya, Dr. Benny Lianto bersama Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., di Ruang Serbaguna Perpustakaan Lantai 5 Kampus Ubaya Tenggilis.

Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan kuliah tamu yang diikuti ratusan mahasiswa Fakultas Farmasi, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Teknobiologi.

Rektor Ubaya, Benny Lianto mengatakan kerja sama tersebut merupakan langkah strategis dalam mewujudkan visi Ubaya, sebagai entrepreneur university yang mampu menghasilkan inovasi bernilai ekonomi dan berdampak bagi masyarakat.

Menurutnya, hasil penelitian yang lahir dari perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai laporan penelitian atau publikasi ilmiah semata, tetapi harus diarahkan menuju hilirisasi agar dapat diadopsi industri dan memasuki pasar.

“Riset harus menjadi produk nyata yang diadopsi industri, mampu memasuki pasar, dan yang terpenting membawa manfaat bagi kesehatan serta kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Benny menilai, BPOM RI memiliki peran penting dalam mendukung proses tersebut, khususnya melalui penguatan aspek regulasi dan pengawasan produk obat maupun makanan. Kerja sama ini juga merupakan tindak lanjut dari kolaborasi yang sebelumnya telah terjalin antara Pusat Unggulan Iptek Produk Pangan dan Suplemen Kesehatan untuk Kondisi Degeneratif (PUI Pasdeg) Ubaya dengan Balai Besar POM (BBPOM) Surabaya.

Sebelumnya, kedua institusi telah bekerja sama dalam berbagai kegiatan, seperti studi ekskursi, kerja praktik mahasiswa, kunjungan akademik, hingga kuliah tamu. Melalui MoU yang berlaku selama lima tahun ke depan, kolaborasi akan diperluas dengan melibatkan berbagai fakultas dan unit di lingkungan Ubaya bersama BPOM RI dan BBPOM Surabaya.

Dalam kuliah tamunya yang bertajuk: Dari Penelitian ke Pasar: Peran BPOM dalam Mendukung Hilirisasi Inovasi Produk Pangan, Suplemen Kesehatan, Kosmetik, Obat Bahan Alam, dan Obat yang Aman, Bermutu, dan Bermanfaat bagi Masyarakat. 

Kepala BPOM RI, Prof. Taruna Ikrar menekankan, pentingnya hilirisasi sebagai strategi menghadapi tantangan global sekaligus memperkuat kemandirian nasional.

Ia menyoroti, masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku obat impor. Saat ini, hanya sekitar 6 persen bahan baku obat yang dapat diproduksi di dalam negeri, padahal Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia dan memiliki kebutuhan obat yang sangat besar.

“Dengan dinamika geopolitik global yang rentan, hilirisasi menjadi semakin penting. Apalagi Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas terbesar kedua di dunia yang menjadi modal besar untuk mengembangkan industri kesehatan berbasis sumber daya alam,” ujarnya.

Menurut Taruna, salah satu tantangan terbesar dalam hilirisasi adalah memastikan hasil riset dapat memenuhi standar mutu, keamanan, dan manfaat sehingga layak dipasarkan. Karena itu, BPOM terus mengembangkan ekosistem regulatori yang mampu menyelaraskan kebutuhan inovasi dengan aspek perlindungan masyarakat.

Ia juga menekankan, pentingnya kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah atau yang dikenal dengan konsep ABG (Academia, Business, Government) dalam mendorong lahirnya inovasi yang berdaya saing.

“Perguruan tinggi menjadi pusat lahirnya riset dan inovasi. Industri berperan mengembangkan dan mengomersialisasikan hasil riset tersebut, sedangkan pemerintah hadir sebagai regulator yang memastikan inovasi dapat dihadirkan kepada masyarakat secara aman, bermutu, dan bermanfaat,” jelasnya.

Melalui kerja sama ini, Ubaya dan BPOM RI berharap dapat memperkuat ekosistem inovasi nasional sekaligus mempercepat transformasi hasil penelitian menjadi produk yang mampu memberikan nilai tambah bagi industri kesehatan dan pangan Indonesia.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.