SURABAYA ( LENTERA ) - Google dilaporkan tengah menjalankan sebuah proyek yang tergolong tidak biasa, yaitu membiakkan hingga 32 juta nyamuk untuk kemudian dilepaskan ke alam liar di Amerika Serikat. Program ini diberitakan oleh Kompas Cyber Media pada 3 Juni 2026 pukul 15:01 WIB, dengan sumber tambahan dari PC Gamer dan The Guardian.
Proyek tersebut dijalankan melalui inisiatif bernama “Debug”, istilah yang umum digunakan dalam dunia teknologi untuk proses menemukan dan memperbaiki kesalahan dalam sistem. Dalam situs resmi Debug.com, Google menyebut tujuan utama proyek ini adalah untuk menekan penyebaran penyakit berbahaya yang ditularkan oleh nyamuk.
Beberapa penyakit yang menjadi target penanggulangan antara lain demam berdarah dengue (DBD), Zika, chikungunya, demam kuning, hingga malaria.
Untuk mengurangi populasi nyamuk pembawa penyakit, Google membentuk tim ilmuwan dan insinyur yang mengembangkan teknologi pembiakan “nyamuk baik”.
Program Debug ini berfokus pada pembiakan nyamuk jantan spesies Aedes aegypti yang membawa bakteri alami bernama Wolbachia. Bakteri ini membuat nyamuk jantan tidak mampu menghasilkan keturunan ketika kawin dengan nyamuk betina liar.
“Ketika nyamuk jantan yang membawa Wolbachia kawin dengan nyamuk betina di alam, telur yang dihasilkan tidak akan menetas.”
Dengan mekanisme ini, populasi nyamuk pembawa penyakit akan menurun secara bertahap dari waktu ke waktu, sehingga diharapkan mampu mengurangi penyebaran penyakit yang mereka bawa.
Penggunaan teknologi AI
Dalam pengelolaan program ini, Google juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). AI digunakan untuk analitik data, sistem sensor, otomasi pembiakan, serta computer vision untuk mengelola jutaan nyamuk secara terkontrol.
AI juga membantu proses pemisahan nyamuk jantan dan betina dalam skala besar agar hanya nyamuk jantan yang dilepaskan ke alam liar. Selain itu, AI digunakan untuk menentukan lokasi dan jumlah pelepasan nyamuk yang dianggap paling efektif dalam menekan populasi nyamuk liar.
Google menegaskan bahwa proyek ini tidak melibatkan rekayasa genetika, melainkan hanya memanfaatkan bakteri Wolbachia yang ditemukan secara alami, tanpa penggunaan bahan kimia maupun racun.
Saat ini, nyamuk hasil budidaya Google direncanakan akan dilepaskan di dua negara bagian Amerika Serikat, yaitu California dan Florida. Untuk itu, Google telah mengajukan izin kepada Environmental Protection Agency (EPA).
Izin tersebut mencakup pelepasan hingga total 32 juta nyamuk selama dua tahun, atau sekitar 16 juta ekor per tahun di California dan Florida.
Google menjelaskan bahwa “nyamuk baik” ini sebenarnya masih merupakan spesies yang sama dengan nyamuk penyebar penyakit, namun berupa nyamuk jantan yang tidak menggigit manusia dan tidak dapat menularkan penyakit, sehingga dianggap aman dilepaskan ke alam.
Uji coba sebelumnya di Singapura
Program Debug sebenarnya bukan hal baru. Google telah mengembangkan proyek ini selama hampir satu dekade dan menjadikan Singapura sebagai pusat penelitian dan uji coba internasional pertamanya.
Menurut Google, pelepasan nyamuk jantan ber-Wolbachia di Singapura terbukti mampu menekan populasi Aedes aegypti hingga 80–90 persen. Selain itu, kasus dengue di wilayah uji coba juga dilaporkan turun lebih dari 70 persen dalam 6 hingga 12 bulan setelah program berjalan.
Keberhasilan ini menjadi dasar bagi perluasan program ke wilayah lain, termasuk California dan Florida.
Dengan pendekatan ini, Google berharap dapat membantu menekan penyakit yang ditularkan nyamuk di berbagai negara, terutama wilayah dengan kasus DBD yang tinggi. Proyek Debug menggabungkan bioteknologi berbasis bakteri alami dengan kecerdasan buatan untuk menciptakan metode pengendalian populasi nyamuk yang lebih efektif dan ramah lingkungan.(ist/dya)




.jpg)
