07 June 2026

Get In Touch

Fashionology 2026, Ruang Belajar Mahasiswa UC Surabaya Jawab Tantangan Nyata Dunia Kreatif

Kegiatan Fashionology 2026 yang digelar Universitas Ciputra Surabaya. (Amanah/Lentera)
Kegiatan Fashionology 2026 yang digelar Universitas Ciputra Surabaya. (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera) – Fashionology 2026 yang digelar Program Studi Fashion Product Design and Business Universitas Ciputra (UC) Surabaya tidak hanya menjadi ajang pamer karya mahasiswa tingkat akhir, juga menjadi wadah pembelajaran nyata untuk mengintegrasikan kreativitas, riset, kewirausahaan, dan kepedulian sosial ke dalam produk fashion yang siap bersaing di industri.

Mengusung tema The Liminal, Fashionology 2026 mempertemukan dunia akademik dengan dunia profesional melalui berbagai karya yang mengangkat isu keberlanjutan, budaya, teknologi, hingga pemberdayaan ekonomi lokal.

Ketua Program Studi Fashion Product Design and Business Universitas Ciputra Surabaya sekaligus Ketua Fashionology 2026, Yoanita Kartika Sari Tahalele mengatakan Fashionology dirancang sebagai ruang belajar yang mempertemukan mahasiswa, dengan tantangan nyata industri kreatif.

"Fashionology bukan hanya tentang menampilkan koleksi terbaik mahasiswa. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka belajar melakukan riset, memahami kebutuhan pasar, membangun kolaborasi dengan industri dan UMKM, hingga menciptakan solusi melalui desain. Pengalaman ini menjadi bekal penting saat mereka memasuki dunia profesional," ujarnya, Sabtu (6/6/2026).

Menurutnya, tema keberlanjutan dan kolaborasi menjadi salah satu fokus utama tahun ini. Karena itu, mahasiswa didorong untuk menghasilkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki dampak sosial, budaya, dan ekonomi.

Sementara itu, salah satu karya yang mendapat perhatian datang dari mahasiswa tingkat akhir, Muhammad Atho’illah. Ia menghadirkan koleksi streetwear yang terinspirasi dari budaya skena hip hop lokal, dengan memanfaatkan limbah deadstock kain batik hasil kolaborasi bersama UMKM Mojokerto, Omah Batik Pina Pinu.

"Koleksi saya ini menampilkan karakter khas komunitas hip hop seperti celana sagging, denim gombrong, teknik layering, serta berbagai aksesori yang dipadukan dengan motif batik melalui teknik patchwork dan applique," ucapnya.

Ia menjelaskan, budaya skena dipilih karena dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini. Baginya, fashion menjadi bahasa yang digunakan anak muda untuk menunjukkan identitas dan nilai yang mereka yakini.

"Saya melihat budaya skena tidak hanya soal tren berpakaian, tetapi juga tentang komunitas, kreativitas, dan cara anak muda mengekspresikan diri. Melalui koleksi ini saya ingin menunjukkan bahwa unsur budaya lokal seperti batik bisa hadir dalam streetwear modern yang tetap relevan dengan tren global," jelasnya.

Ia menambahkan, penggunaan limbah kain batik juga menjadi bentuk kepedulian terhadap isu lingkungan sekaligus upaya mendukung keberlangsungan usaha para perajin lokal.

"Kolaborasi dengan UMKM memberikan pengalaman berharga bagi saya. Kami tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga memahami proses produksi, tantangan pelaku usaha, dan bagaimana desain dapat memberikan nilai tambah bagi produk lokal," tambahnya.

Melalui Fashionology 2026, mahasiswa tidak hanya diuji kemampuan desainnya, tetapi juga ditantang untuk menjadi calon fashionpreneur yang mampu membaca peluang pasar sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi industri fashion saat ini.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.