26 May 2026

Get In Touch

Menolak Gulung Tikar: Napas Panjang Wayang Orang Bharata Melawan Zaman

Pertunjukan Wayang Orang Baratha di Gedung Kesenian Wayang Orang Baratha, Senen, Jakarta Pusat (Dokumentasi Paguyuban Wayang Orang Baratha)
Pertunjukan Wayang Orang Baratha di Gedung Kesenian Wayang Orang Baratha, Senen, Jakarta Pusat (Dokumentasi Paguyuban Wayang Orang Baratha)

JAKARTA (Lentera) -Di tengah gempuran hiburan modern seperti media sosial dan layanan streaming digital, ada sebuah panggung yang tetap setia menjaga cerita-cerita yang tak lekang oleh waktu.

Di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Wayang Orang Bharata masih berdiri tegak mempertahankan panggung seni tradisional.

Para pelakunya bertahan bukan demi kemewahan, melainkan demi menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Lampu panggung yang menyala, alunan gamelan, hingga para pemain berkostum tokoh pewayangan masih rutin hadir dalam pertunjukan di Gedung Wayang Orang Bharata.

Ketua Paguyuban Wayang Orang Bharata (PWOB), Teguh 'Kenthus' Ampiranto, mengatakan Wayang Orang Bharata berdiri pada 5 Juli 1972 dan bertahan hingga kini sebagai salah satu kelompok seni tradisional yang masih aktif di Jakarta.

Namun, jauh sebelum Wayang Orang Bharata berdiri, Jakarta pernah memiliki banyak kelompok wayang orang dari berbagai daerah.

Seiring perkembangan dunia hiburan, kelompok-kelompok tersebut perlahan gulung tikar karena masyarakat memiliki semakin banyak pilihan tontonan tanpa harus datang langsung ke gedung pertunjukan.

“Dengan beriringnya perkembangan zaman, terus banyak-banyak pilihan tontonan di TV dan lain sebagainya, semua pada gulung tikar, satu per satu,” kenang Kenthus saat ditemui di Gedung Wayang Orang Bharata, Jakarta Pusat, Jumat (22/5/2026).

Di tengah kondisi itu, banyak pemain wayang orang asal Jawa yang merantau ke Jakarta memilih bertahan. Mereka kemudian bersepakat membangun kembali kelompok wayang orang yang kini dikenal sebagai Wayang Orang Bharata.

“Jadi satu di sini, bersepakat untuk membuat grup Wayang Orang Bharata. Kan pemainnya kan dari Jawa semua, dari Jawa Timur, Jawa Tengah daripada dia pulang kampung, ya sudah ikut aja jadi Paguyuban Wayang Orang Bharata,” kata Kenthus.

Perjalanan Wayang Orang Bharata juga tak lepas dari peran sejumlah tokoh seni yang ikut merintis kelompok ini sejak awal berdiri, salah satunya Djadoeg Djajakusuma.

Kini, setelah lebih dari lima dekade bertahan, Wayang Orang Bharata menjadi satu-satunya kelompok wayang orang yang masih aktif tampil di Jakarta. Paguyuban ini menaungi lebih dari 100 penari, pengrawit, dan sinden lintas generasi.

Bagi para pelakunya, wayang orang bukan sekadar hiburan panggung, tetapi juga medium untuk menyampaikan nilai kehidupan melalui cerita dan pesan moral.

“Wayang orang itu pergelarannya tidak hanya sekadar tontonan tapi tuntunan. Penuh pesan moral dan filosofi,” kata Kenthus.

Dari Pertunjukan Mingguan, Kini Bertahan Seadanya

Saat ini, pertunjukan Wayang Orang Bharata hanya digelar satu kali dalam sebulan. Kondisi itu sangat berbeda dibanding masa kejayaannya, ketika pementasan rutin berlangsung setiap Minggu, bahkan pernah digelar setiap hari.

Menurut Kenthus, keberlangsungan pertunjukan hingga kini masih sangat bergantung pada subsidi pemerintah. Namun, dana tersebut belum cukup menutup seluruh kebutuhan produksi.

Bantuan dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta untuk satu kali pertunjukan sekitar Rp 65 juta harus dibagi untuk kebutuhan produksi sekaligus sekitar 160 anggota yang terlibat.

Dana itu juga digunakan untuk konsumsi saat latihan, transportasi, hingga perlengkapan rias.

“Dibagi 160 orang itu buat makan juga. Kalau latihan hari Jumat, hari Sabtu juga makan. Untuk transportasi, buat beli alat-alat make-up, gitu,” kata Kenthus.

Pemasukan dari penjualan tiket pun belum mampu menutup biaya produksi. Kapasitas gedung yang hanya sekitar 220 hingga 250 penonton membuat pendapatan tiket sulit menutup seluruh kebutuhan.

Muhammad Wahyudi atau Yudi Bharata saat pergelaran Wayang Orang Baratha (Dokumentasi Paguyuban Wayang Orang Baratha)
Muhammad Wahyudi atau Yudi Bharata saat pergelaran Wayang Orang Baratha (Dokumentasi Paguyuban Wayang Orang Baratha)

“Hasil dari tiket enggak menutup untuk biaya produksi. Tanpa ada bantuan dari sponsor atau pemerintah, enggak akan jalan,” ujar Kenthus.

Merambah Platform Digital

Pandemi COVID-19 menjadi salah satu masa tersulit bagi Wayang Orang Bharata. Saat itu, pertunjukan tetap digelar, tetapi tanpa kehadiran penonton langsung.

Kondisi tersebut memaksa mereka mulai memanfaatkan platform digital agar tetap dapat menjangkau penonton. Salah satunya dengan aktif menayangkan pertunjukan melalui YouTube.

“Makanya kita dipaksa banget untuk IT ya, masuk lah ke Youtube,” katanya.

Kenthus menjelaskan, pertunjukan direkam lebih dulu sebelum ditayangkan di YouTube satu minggu setelah pementasan karena keterbatasan biaya untuk siaran langsung.

Situasi itu membuat para pemain dan pengelola perlahan belajar menggunakan teknologi secara mandiri.

“Ya, kita akhirnya melek teknologi. Anak-anak yang biasa enggak begitu harus dipaksa, harus bisa soalnya kan. Membayar yang ahlinya enggak punya uang, yaudah kita kerjakan sendiri,” ujarnya.

Bagi mereka, kehadiran di YouTube bukan sekadar menayangkan pertunjukan, melainkan cara menyapa penggemar sekaligus menunjukkan bahwa Wayang Orang Bharata masih bertahan.

“Yang penting bisa di YouTube ada pergelaran kita menyapa semua penggemar Bharata gitu. Dan memperlihatkan bahwa Bharata masih eksis,” kata dia.

Meski demikian, Kenthus mengakui pertunjukan tanpa penonton langsung sempat memengaruhi semangat para pemain.

“Ini sepi, ngelihat juga enggak ada yang nonton. Jadi kan rohnya ya. Ya tapi akhirnya kita lakuin,” ujarnya.

Selama pandemi, pertunjukan rutin diunggah ke YouTube dengan durasi yang dipotong menjadi beberapa bagian. Untuk menopang biaya produksi, mereka mengandalkan donasi sukarela dari penonton.

“Jadi ada rekeningnya Paguyuban, siapa yang mau (berdonasi). Ya Alhamdulillah ada aja,” kata Kenthus.

“Biasanya kan ada pergelaran di Youtube gitu kan harus bayar gitu. Kita enggak. Tulisannya donasi setulus hati. Bebas," ujarnya.

Regenerasi Melawan Zaman

Di tengah tantangan mempertahankan seni tradisional, Kenthus mengatakan regenerasi pemain di Wayang Orang Bharata masih terus berjalan.

Sebagian besar pemain saat ini berasal dari generasi muda kelahiran Jakarta yang merupakan keturunan keluarga pemain wayang orang sebelumnya.

Menurut Kenthus, regenerasi di Wayang Orang Bharata kini telah mencapai generasi ke-11, sementara dia merupakan generasi keempat.

Dalam satu pertunjukan, pemain dari berbagai usia kerap tampil bersama di atas panggung—mulai dari anak-anak hingga kakek dan cucu.

“Jadi masih ada anak-anak, keponakan, dan kadang-kadang anak-anak, mbah sama cucu main bareng, ada,” kata Kenthus.

Meski demikian, ia mengakui kesenian tradisional seperti wayang orang masih sering dipandang sebelah mata di tengah perkembangan hiburan modern.

Namun, kondisi itu tidak membuat semangat para pelaku seni surut.

“Ini juga sebuah pekerjaan yang mulia. Melestarikan dan mengembangkan kesenian asli. Asli Indonesia ini,” ujarnya.

Anak Muda Jadi Penonton Baru

Kenthus menilai eksistensi wayang orang di kalangan anak muda masih terjaga, terutama lewat media sosial dan keterlibatan generasi muda sebagai pemain.

Menurut dia, banyaknya pemain muda membuat pertunjukan wayang orang perlahan lebih dekat dengan penonton seusia mereka.

“Terus faktor lainnya, sekarang anak muda-muda semua yang main di panggung. Otomatis teman-temannya atau relasinya gitu, penalarannya kan pasti seumuran dia ya,” kata Kenthus.

Ia menjelaskan, banyak penonton muda awalnya datang karena penasaran melihat teman mereka tampil. 

“Pertama karena faktor penasaran, yang keduanya karena yang main adalah temanku atau kenalanku. Mereka penasaran, ‘Gimana sih kalau dia lagi main wayang orang?’ kan gitu,” ujarnya.

Untuk memperluas segmen penonton sekaligus regenerasi pemain, Kenthus membentuk kelompok

“Wayang Orang Tunas” yang diisi anak-anak usia sekolah dasar hingga remaja. “Standar penampilannya dibuat persis kayak yang dewasa main gitu mulai dari ceritanya hingga penjiwaan karakternya, tapi yang main semuanya murni anak-anak,” kata dia.

Seniman sekaligus pemeran utama Wayang Orang Bharata, Muhammad Wahyudi atau Yudi Bharata, melihat tanda positif dari tumbuhnya penonton muda.

“Mayoritas penontonnya sekarang rata-rata anak-anak kekinian. Anak-anak Gen Z, Gen Alpha itu sudah mulai banyak berminat. Jadi bukan hanya orang-orang tua lagi,” kata Yudi.

Menurut dia, ketertarikan generasi muda muncul karena Wayang Orang Bharata mulai menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Salah satunya dengan menghadirkan narasi berbahasa Indonesia dan running text agar penonton non-Jawa lebih mudah memahami cerita.

Selain itu, para pemain juga aktif memanfaatkan TikTok, Instagram, dan YouTube untuk memperkenalkan pertunjukan ke khalayak lebih luas.

“Sekarang era digital. Kita juga harus mengemas pertunjukan supaya penonton yang non-Jawa itu paham apa yang mau kita sampaikan,” ujarnya.

Cerita serupa datang dari Nadia Putri (23), salah satu penonton muda yang mulai tertarik pada Wayang Orang Bharata setelah melihat cuplikan pertunjukan di TikTok.

“Awalnya karena lewat TikTok, ada potongan video pertunjukan Wayang Orang Bharata yang lewat di FYP saya. Saya kaget karena ternyata visualnya megah, kostumnya keren,” kata Nadia.

Setelah menonton langsung, ia merasa pengalaman menyaksikan wayang orang jauh berbeda dibanding hanya melihat cuplikan video.

“Menurut saya masalahnya bukan karena anak muda enggak suka budaya, tapi karena akses dan pengenalannya yang kurang dekat dengan mereka,” ujarnya.

Nostalgia Penonton Lama

Sementara itu, bagi Dewi (42), menonton Wayang Orang Bharata menghidupkan kembali kenangan masa kecil.

Ia mengaku sudah mengenal wayang orang sejak SD karena sering diajak orang tuanya menonton pertunjukan.

Namun, setelah lama tak kembali karena kesibukan, rasa nostalgia membawanya kembali ke gedung pertunjukan.

“Pas pertama kali datang lagi setelah sekian lama, rasanya campur aduk. Ada rasa senang karena ternyata kesenian yang dulu saya tonton waktu kecil masih hidup,” kata Dewi.

Ia kini bahkan sesekali mengajak anaknya menonton agar pengalaman itu tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

Wayang Orang di Persimpangan

Budayawan Asep Kambali menilai posisi seniman wayang orang saat ini berada dalam situasi yang rentan sekaligus menantang.

“Ini kalau dilihat dari ekosistem hari ini, profesi seniman wayang ini memang sedang dalam proses atau dalam posisi yang mungkin sangat rentan, sekaligus menantang saya kira,” ujarnya.

Menurut Asep, keberlanjutan wayang orang tidak bisa hanya bergantung pada seniman, tetapi membutuhkan kolaborasi lintas pihak—mulai dari pemerintah, swasta, media, hingga masyarakat.

Ia mendorong agar wayang orang tidak lagi diposisikan sekadar sebagai seni tradisi yang perlu dikasihani, tetapi dibangun sebagai industri budaya yang berkelanjutan.

"Saya kan beberapa kali juga terlibat dalam drama musikal, kabaret atau opera. Banyak kok peminatnya asal kita bisa mengemasnya. Tentu dengan aktor-aktornya, sutradaranya dan lain sebagainya, musiknya, semuanya," kata dia.

Menurut Asep, model pertunjukan seperti opera di luar negeri bisa menjadi contoh bagaimana seni tradisional dapat naik kelas dan memiliki daya tarik pasar yang lebih luas.

“Dukungan boleh, tapi jangan hanya kemudian bersifat ad hoc saja. Atau bersifat hanya pada festival,” katanya.

Ia menegaskan, dukungan terhadap seni tradisi harus mencakup kesejahteraan pelaku seni, perlindungan hak kekayaan intelektual, penguatan infrastruktur, hingga integrasi dengan sektor pariwisata agar dapat berkembang secara utuh.

Sementara itu, Kompas telah mencoba menghubungi Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, dan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pihak Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Namun hingga berita ini ditulis, belum ada jawaban yang diterima (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.