01 June 2026

Get In Touch

Damiri, Jemaah Haji Pengidap Diabetes yang Jalani Amputasi di Arab Saudi

Damiri, jemaah haji asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah usai menjalani operasi amputasi jempol kaki di Arab Saudi, saat ditemui di hotel Makkah (Bisnis)
Damiri, jemaah haji asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah usai menjalani operasi amputasi jempol kaki di Arab Saudi, saat ditemui di hotel Makkah (Bisnis)

SURABAYA (Lentera) -Damiri tak pernah membayangkan perjalanan ibadah haji tahun ini akan meninggalkan kenangan yang begitu besar di Tanah Suci. Di usia 66 tahun, petani asal Tegal itu harus menjalani amputasi jempol kaki kiri di Makkah akibat komplikasi diabetes dan luka yang tak kunjung membaik setelah umrah wajib.

Alih-alih larut dalam kesedihan, Damiri justru tetap tertawa dan menikmati setiap proses ibadah hajinya di Arab Saudi.

“Sedih ya enggak. Malah senang,” ujar Damiri sambil tertawa kecil saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) di hotel jemaah lansia sektor 2 Makkah.

Damiri merupakan jemaah kelompok terbang SOC 2. Sehari-hari di kampung halamannya, dia bekerja sebagai petani. Ayah dua anak dan kakek dari lima cucu itu mengaku baru pertama kali berangkat haji tahun ini bersama istrinya.

Perjalanan ibadahnya sempat berjalan normal sejak tiba di Madinah. Namun, kondisi kesehatannya mulai terganggu ketika kaki kanannya membengkak saat berada di Masjid Nabawi.

Awalnya dia mengira pembengkakan itu hanya akibat kelelahan berjalan kaki. Setelah mendapat obat dari petugas kesehatan, kondisinya sempat membaik.

Masalah baru muncul setelah Damiri menjalani umrah wajib di Makkah. Dia berangkat menuju Masjidilharam sekitar pukul 22.00 waktu Arab Saudi dan baru kembali ke hotel dini hari.

“Pulang jam 02.00 baru terasa sakit,” katanya.

Pemeriksaan medis kemudian menunjukkan kadar gula darah Damiri melonjak hingga sekitar 500 mg/dL. Selain diabetes, dia juga memiliki riwayat asam urat. Luka kecil di kaki kirinya perlahan menghitam hingga akhirnya dokter memutuskan amputasi jempol kaki untuk mencegah infeksi menyebar lebih luas.

“Kalau sudah hitam begitu ya harus dibersihkan,” ujarnya santai.

Damiri sempat menjalani rawat jalan sebelum akhirnya dioperasi di Rumah Sakit King Abdul Aziz, Makkah. Dia dirawat selama tiga hari sebelum kembali ke hotel jemaah.

Meski kehilangan satu bagian tubuhnya di Tanah Suci, Damiri menganggap pengalaman itu sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.

“Ketinggalan di Makkah,” ujarnya sambil tertawa ketika ditanya soal jempol kakinya.

Di tengah proses pemulihan itu, Damiri mengaku terbantu dengan fasilitas ramah lansia yang disiapkan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di hotel.

Di kamar tempatnya menginap, tersedia pegangan besi khusus di dekat tempat tidur dan kamar mandi untuk membantu mobilitas jemaah lanjut usia maupun disabilitas.

Damiri juga mulai belajar kembali berjalan perlahan tanpa terlalu bergantung pada kursi roda. Menurut dia, aktivitas ringan justru membantu mengurangi pembengkakan pada kakinya.

“Sedikit-sedikit jalan,” ujarnya.

Selain fasilitas fisik, dikutip Bisnis (Sabtu, 23/5/2026) petugas haji juga menyiapkan salat berjemaah khusus lansia di area lobi hotel agar jemaah dengan keterbatasan mobilitas tetap dapat beribadah bersama.

Petugas sektor 2 Daker Makkah menyebut layanan tersebut menjadi bagian dari program layanan haji ramah lansia dan disabilitas yang diperkuat pada penyelenggaraan haji 2026.

Di akhir perbincangan, Damiri menitipkan pesan kepada jemaah lain yang memiliki riwayat diabetes maupun penyakit penyerta agar tidak menunda pemeriksaan kesehatan selama berada di Tanah Suci.

“Kalau ada gejala langsung periksa. Jangan ditunda-tunda,” katanya (*)

Editor: Arifin BH

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.