SURABAYA (Lentera) - Sebanyak 11 negara termasuk delapan negara Eropa memanggil duta besar dan perwakilan Israel untuk menyampaikan protes keras, setelah beredarnya video perlakuan terhadap aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang ditahan pasukan Israel saat hendak menuju Gaza.
Melansir laporan Anadolu, Kamis (21/5/2026) mengutip suarasurabaya.net, Jumat (22/5/2026), sorotan internasional muncul setelah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir sekaligus mitra koalisi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengunggah video yang memperlihatkan para aktivis pro-Palestina dalam kondisi tangan terikat dan dipaksa berlutut usai ditangkap di perairan internasional.
Dalam video tersebut, Ben-Gvir terlihat mengejek para aktivis yang ikut dalam misi kemanusiaan menuju Gaza. Rekaman itu pun memicu kecaman luas, baik di dalam negeri Israel maupun dari komunitas internasional.
Pasukan Israel diketahui menyerang kapal bantuan tersebut di perairan internasional pada, Senin (18/5/2026) dan menahan seluruh aktivis di atas kapal.
Flotilla Global Sumud sendiri membawa 428 orang dari 44 negara dan berangkat dari Marmaris, Turki, Kamis (14/5/2026) pekan lalu. Misi itu bertujuan menembus blokade Israel, terhadap Jalur Gaza yang telah berlangsung sejak 2007.
Sejumlah negara kemudian mengambil langkah diplomatik, dengan memanggil perwakilan Israel di masing-masing negara.
Pemerintah Inggris memanggil chargé d’affaires (Diplomat) Israel dan mengecam keras video yang dianggap “provokatif” tersebut. Kementerian Luar Negeri Inggris menyebut, perlakuan terhadap para aktivis melanggar standar dasar penghormatan terhadap martabat manusia.
Italia juga memanggil duta besar Israel, serta meminta pembebasan warga negaranya yang masih ditahan. Pemerintah Italia menyampaikan “protes keras” terkait perlakuan terhadap aktivis flotilla.
Polandia turut memanggil chargé d’affaires Israel di Warsawa, dan menuntut permintaan maaf resmi. Menteri Luar Negeri Polandia, Radoslaw Sikorski menyebut tindakan anggota pemerintah Israel itu sebagai perilaku yang “sangat tidak pantas”.
Spanyol juga mengecam perlakuan yang disebut “mengerikan, tidak manusiawi, dan memalukan” terhadap aktivis kemanusiaan tersebut. Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares menyatakan video itu memperlihatkan perlakuan yang merendahkan dan tidak adil.
Prancis juga demikian, memanggil duta besar Israel untuk menyampaikan “kemarahan” atas insiden tersebut dan meminta penjelasan resmi dari pemerintah Israel.
Bahkan, Belgia mengecam perlakuan yang disebut “sangat mengganggu” dan “tidak dapat diterima”. Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prevot menyoroti kondisi para aktivis yang terlihat ditahan, diikat, dan dipaksa tengkurap sambil direkam untuk dipermalukan di media sosial.
Demikian juga, Belanda menyatakan, akan memanggil duta besar Israel terkait perlakuan “mengejutkan dan tidak dapat diterima” terhadap para aktivis Global Sumud Flotilla.
Portugal juga memanggil chargé d’affaires Israel, untuk menyampaikan protes dan meminta klarifikasi atas perlakuan terhadap aktivis kemanusiaan tersebut.
Di luar Eropa, Selandia Baru ikut mengambil langkah serupa. Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters mengatakan, pemerintahnya akan memanggil duta besar Israel.
Ia juga mengingatkan, bahwa Ben-Gvir sebelumnya telah dikenai larangan perjalanan ke Selandia Baru, karena dinilai merusak prospek perdamaian dua negara.
Australia pun turut memanggil duta besar Israel. Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong mengatakan pemerintah menyampaikan ketidaksenangan atas video yang memperlihatkan Menteri Israel, mengejek para aktivis yang ditahan.
Sementara itu, Kanada mengecam keras tindakan Israel. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney menyebut perlakuan terhadap aktivis kapal bantuan Gaza, sebagai tindakan “keji”.
Pemerintah Kanada juga telah memanggil duta besar Israel di Ottawa, dan meminta jaminan keselamatan warga Kanada yang ikut dalam misi tersebut.
Editor: Arief Sukaputra





.jpg)
