21 May 2026

Get In Touch

Temukan Satu Hewan Terindikasi Skabies, Pengawasan Kurban di Surabaya Diperketat

Pemeriksaan Hewan Kurban di Surabaya
Pemeriksaan Hewan Kurban di Surabaya

SURABAYA (Lentera) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperketat pengawasan hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah/2026, setelah menemukan satu hewan terindikasi Skabies.

Hingga hari ketiga pelaksanaan pengawasan, sebanyak 61 lapak penjualan hewan kurban di berbagai wilayah Surabaya telah diperiksa untuk memastikan hewan yang dijual dalam kondisi sehat, aman, dan layak dikonsumsi masyarakat.

Pengawasan dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor antara Pemkot Surabaya, PT Pelindo Terminal Petikemas Surabaya, dan Balai Besar Veteriner Farma (Pusvetma) Kementerian Pertanian.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Nanik Sukristina mengatakan pemeriksaan hewan kurban berlangsung sejak 18 Mei 2026 dan dijadwalkan hingga 26 Mei 2026 mendatang.

“Pengawasan ini dilakukan untuk memastikan hewan kurban yang diperjualbelikan dalam kondisi sehat, aman, dan layak dikonsumsi masyarakat, sehingga tidak menimbulkan persoalan setelah dibeli maupun disembelih,” kata Nanik saat pengawasan di kawasan Jalan Ir. Soekarno (MERR), Rabu (20/5/2026).

Dalam pelaksanaannya, DKPP menggandeng berbagai pihak, mulai dari akademisi hingga organisasi profesi. Sebanyak 50 mahasiswa kedokteran hewan dari Universitas Airlangga, 50 mahasiswa dari Universitas Wijaya Kusuma, 30 peserta Fakultas Vokasi, serta 20 anggota Persatuan Dokter Hewan Indonesia turut diterjunkan bersama tim DKPP.

Seluruh personel disebar ke 31 kecamatan di Surabaya untuk melakukan pemeriksaan administrasi maupun kesehatan hewan kurban.

“Seluruh personel disebar ke 31 kecamatan di Surabaya untuk memeriksa lapak penjualan hewan kurban. Hingga hari ketiga pelaksanaan, sebanyak 61 lapak telah diperiksa dan pengawasan akan terus dilakukan secara bertahap,” ujarnya.

Selain memeriksa kondisi fisik hewan, tim juga memastikan pedagang memiliki surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) dari daerah asal serta izin lapak dari kecamatan setempat.

Dari sisi kesehatan, pemeriksaan difokuskan pada deteksi penyakit menular seperti penyakit mulut dan kuku (PMK), skabies, hingga penyakit strategis lainnya. Tim juga memastikan hewan telah mendapatkan vaksinasi sebelum masuk ke Surabaya.

“Hingga saat ini, tim menemukan satu hewan yang terindikasi terkena skabies. Hewan tersebut langsung diperiksa dan diisolasi, agar tidak ikut diperjualbelikan kepada masyarakat,” ungkap Nanik.

Ia menjelaskan, hewan kurban yang masuk ke Surabaya berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Trenggalek, Blitar, dan Tulungagung, bahkan sebagian berasal dari luar pulau. Karena itu, pengawasan diperketat agar seluruh hewan memenuhi syarat kesehatan dan kelayakan kurban.

Menurutnya, hewan kurban yang layak ditandai dengan kondisi fisik sehat, aktif, tidak lemas, serta memenuhi batas usia minimal satu tahun yang diperiksa melalui kondisi gigi ternak.

Dalam kegiatan tersebut, PT Pelindo Terminal Petikemas Surabaya turut memberikan dukungan berupa perlengkapan lapangan bagi petugas pemeriksa, seperti rompi, topi, dan sepatu boot.

“Kami sangat berterima kasih atas dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pelindo. Pengawasan ini tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus melalui sinergi bersama,” tutur Nanik.

Tak hanya pemeriksaan sebelum penjualan, DKPP juga akan melakukan pemeriksaan pasca penyembelihan atau post mortem saat Hari Raya Iduladha nanti.

Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah perangkat daerah, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terkait pengelolaan limbah dan Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk memastikan aspek kesehatan masyarakat tetap terjaga.

Sementara itu, Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra mengatakan Pelindo ikut terlibat, karena tingginya aktivitas penjualan hewan kurban menjelang Iduladha membutuhkan pengawasan bersama.

“Pelindo tergerak untuk ikut mengedukasi masyarakat bahwa hewan kurban bukan hanya memenuhi syarat sah untuk dikurbankan, tetapi juga harus benar-benar sehat dan layak dikonsumsi,” ujarnya.

Menurutnya, jumlah lapak penjualan hewan kurban di Surabaya cukup besar dan tersebar di banyak titik sehingga pengawasan perlu dimaksimalkan. Ia menyebut total tenaga medis dan petugas yang diterjunkan dalam pengawasan hewan kurban di Surabaya mencapai sekitar 190 orang.

“Tahun lalu Pelindo terlibat dalam pelatihan juru sembelih halal bersertifikasi, sementara tahun ini fokus pada pengawasan hewan kurban bersama dokter hewan dan pemerintah daerah,” sebutnya.

Di sisi lain, Kepala Balai Besar Veteriner Farma (Pusvetma) Kementerian Pertanian, Edy Budi Susila menjelaskan Pusvetma memiliki peran sebagai laboratorium rujukan nasional untuk penyakit mulut dan kuku (PMK).

Menurutnya, Pusvetma memastikan ternak yang akan digunakan sebagai hewan kurban telah menjalani vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan sebelum didistribusikan ke berbagai daerah.

“Vaksin PMK yang digunakan peternak di berbagai daerah diproduksi langsung oleh Pusvetma. Karena itu, Surabaya memiliki peran penting secara nasional dalam pengendalian penyakit hewan ternak,” kata Edy.

Ia menambahkan, setiap ternak yang masuk ke Surabaya wajib melalui pemeriksaan kesehatan, termasuk tes PCR untuk mendeteksi PMK, LSD, dan penyakit menular lainnya. Setelah dinyatakan sehat, peternak akan memperoleh sertifikat kesehatan hewan sebagai syarat distribusi ternak.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.