JAKARTA (Lentera) - Bos perusahaan pupuk dunia memperingatkan, dampak krisis di jalur distribusi pupuk akibat konflik di wilayah Selat Hormuz berpotensi mengancam ketahanan pangan, seiring menurunnya ketersediaan pupuk yang menjadi faktor krusial dalam produksi pertanian.
"Sekitar setengah juta ton pupuk nitrogen saat ini tidak dapat diproduksi akibat situasi yang kita hadapi," ujar Chief Executive Officer (CEO) Yara International, Svein Tore Holsether, dalam wawancaranya dengan BBC, mengutip Kompas, Jumat (1/5/2026).
Holsether memperkirakan, berkurangnya ketersediaan pupuk nitrogen dapat memangkas hasil panen hingga 50 persen untuk sejumlah komoditas pada musim tanam pertama. Dampaknya, produksi pangan dunia akan menurun drastis dan berpotensi memicu krisis pangan baru.
Ancaman tersebut semakin nyata ketika dihitung dalam skala konsumsi. "Saya memperkirakan hingga 10 miliar porsi makanan tidak akan terproduksi setiap minggu sebagai akibat dari kurangnya pupuk," tegasnya.
Kondisi ini diperparah oleh tekanan ekonomi yang kini dihadapi para petani di berbagai negara. Kenaikan biaya produksi yang tidak diimbangi dengan harga jual hasil panen membuat posisi petani semakin terjepit.
"Mereka menghadapi biaya energi yang lebih tinggi, harga bahan bakar untuk traktor meningkat, input lain juga naik, termasuk pupuk. Namun harga komoditas pertanian belum meningkat pada tingkat yang sama," jelas Holsether.
Data industri menunjukkan, harga pupuk global telah melonjak hingga 80 persen sejak meningkatnya eskalasi konflik setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Jika konflik terus berlanjut, Holsether mengingatkan adanya potensi "perang penawaran pangan" antar negara. Dalam situasi tersebut, negara-negara kaya dinilai memiliki daya beli lebih kuat untuk mengamankan pasokan pangan, sementara negara miskin berisiko semakin terpinggirkan.
"Dalam kondisi seperti itu, kita harus bertanya, dari siapa kita akan membeli makanan? Negara-negara paling rentan akan membayar harga tertinggi karena tidak mampu bersaing," katanya.
Dampak lanjutan dari krisis ini juga disoroti oleh World Food Programme. Lembaga tersebut memperkirakan, kombinasi konflik di Timur Tengah dapat mendorong tambahan 45 juta orang ke dalam kategori kelaparan akut sepanjang 2026.
Kawasan Asia dan Pasifik disebut menjadi wilayah dengan peningkatan ketidakamanan pangan relatif terbesar, yakni mencapai 24 persen.
Editor: Santi




.jpg)
