27 April 2026

Get In Touch

Komunitas TIBA Keluhkan Layanan Kesehatan Belum Inklusif kepada DPRD Surabaya

Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni menerima audiensi dari komunitas TIBA.
Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni menerima audiensi dari komunitas TIBA.

SURABAYA (Lentera) – Keterbatasan penerjemah bahasa isyarat di fasilitas kesehatan masih menjadi persoalan serius bagi penyandang disabilitas di Kota Surabaya, hal ini mengemuka dalam audiensi antara DPRD Surabaya dan komunitas Tim Bisindo dan Aksesibilitas (TIBA).

Dalam kesempatan itu, komunitas TIBA menyoroti, sulitnya akses komunikasi bagi penyandang tunarungu dan tuna wicara, khususnya saat mengakses layanan medis di rumah sakit.

Selain itu, minimnya ketersediaan penerjemah bahasa isyarat kerap menghambat proses komunikasi antara pasien dan tenaga kesehatan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam penyampaian informasi medis, yang berdampak pada kualitas layanan yang diterima pasien disabilitas.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni mengatakan layanan kesehatan sebagai bagian dari pelayanan publik harus bersifat inklusif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.

“Layanan pemerintah, termasuk kesehatan, harus universal. Semua warga negara memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan yang layak,” kata Fathoni dikutip Minggu (26/4/2026).

Ia menyebut, persoalan penerjemah bahasa isyarat menjadi catatan penting yang perlu segera ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah.

“Dukungan komunikasi, termasuk kehadiran penerjemah bahasa isyarat, sangat krusial agar tidak ada hambatan dalam pelayanan, terutama di sektor kesehatan,” sebutnya.

Selain itu, DPRD Surabaya juga mendorong, penguatan fasilitas pendukung di layanan publik agar lebih ramah terhadap penyandang disabilitas. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan setiap warga dapat mengakses layanan secara optimal.

Tak hanya di sektor kesehatan, komunitas TIBA juga menyoroti perlunya perluasan akses kerja bagi penyandang disabilitas sebagai bagian dari upaya menciptakan kesetaraan di berbagai bidang.

Fathoni berharap, audiensi ini menjadi langkah awal dalam mendorong perbaikan layanan publik yang lebih inklusif di Surabaya.

“Khususnya dalam memastikan tersedianya akses komunikasi yang memadai di fasilitas kesehatan,” pungkasnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.