21 April 2026

Get In Touch

Haidar Fata Rizki Santoso Usia 16 Tahun, Jamaah Haji Termuda Kota Malang

Jamaah haji termuda di Kota Malang, Haidar Fata Rizki Santoso (16) memastikan kembali kelengkapan barang bawaannya sebelum berangkat ke tanah suci, Selasa (21/4/2026). (Santi/Lentera)
Jamaah haji termuda di Kota Malang, Haidar Fata Rizki Santoso (16) memastikan kembali kelengkapan barang bawaannya sebelum berangkat ke tanah suci, Selasa (21/4/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Amanah mendiang sang ayah mengantarkan Haidar Fata Rizki Santoso (16) menjadi jamaah haji (CJH) termuda asal Kota Malang di tahun 2026 ini.

Di usia yang masih belia, remaja yang akrab disapa Ata itu berangkat ke Tanah Suci bukan hanya untuk menunaikan rukun Islam kelima, tetapi juga menggantikan sang ayah yang wafat dan mewujudkan pesan terakhirnya.

Ditemui di kediamannya, Ata mengaku mendapat kabar penggantian porsi haji hanya beberapa hari setelah ayahnya meninggal dunia. "Setelah bicara dengan Bunda, langsung diajukan pelimpahan ke Kemenhaj. Awalnya kami kira minimal usia 17 tahun, ternyata ada aturan baru yang memperbolehkan mulai usia 13 tahun," ujar Ata, Selasa (21/4/2026).

Proses pelimpahan itu pun berjalan relatif lancar. Ata mengaku tidak menyangka bisa berangkat di usia yang sangat muda, terlebih dengan latar belakang menggantikan ayahnya.

"Ada harunya, tapi juga senang sekali. Karena belum tentu tahun depan ada kesempatan lagi. Niatnya untuk menggantikan Ayah, amanah Ayah," katanya.

Tak hanya menunaikan ibadah haji, Ata juga memiliki niat khusus selama di Tanah Suci, yakni membadalkan umrah untuk almarhum ayahnya. Baginya, perjalanan ini bukan sekadar ibadah personal, tetapi juga bentuk bakti kepada orangtua.

Kenangan akan pesan sang ayah masih terngiang kuat. Ata menyebut, ayahnya sejak lama telah menitipkan pesan agar dirinya menjadi sosok yang mandiri apabila suatu saat ditinggalkan.

"Ayah selalu bilang, kalau sudah tidak ada, saya harus bisa mengurus semuanya sendiri, harus mandiri di rumah," ucapnya.

Selain mendoakan sang ayah, Ata juga menyimpan sejumlah harapan yang akan dipanjatkan di Tanah Suci. Ia ingin seluruh keluarga diberikan kesehatan dan kemudahan, serta berharap kelak dapat meraih masa depan yang diimpikan.

"Kita hidup untuk mengejar akhirat. Saya juga ingin berdoa supaya nanti dimasukkan ke tempat terbaik di sisi Allah, dan semoga saya bisa diterima di perguruan tinggi yang diinginkan," tuturnya.

Dari sisi persiapan, Ata mengaku telah mematangkan diri baik secara fisik maupun spiritual. Ia rutin berolahraga dengan berlari setiap sore, sesuai anjuran dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) dan pembimbing manasik.

"Di pondok juga sudah diajarkan manasik secara lengkap, jadi tinggal memantapkan saja," katanya.

Sementara itu, ibunda Ata, May Syaroh Buchori (41), mengungkapkan keberangkatan sang anak merupakan amanah langsung dari almarhum suaminya. Pesan tersebut bahkan disampaikan jauh sebelum sang suami wafat.

"Suami saya sudah berpesan, kalau terjadi apa-apa, yang menggantikan berangkat adalah Ata. Waktu itu beliau tidak dalam kondisi sakit," ujarnya.

May menuturkan, setelah suaminya wafat pada 25 Agustus 2025, keluarga menerima kabar panggilan haji sekitar satu minggu kemudian, tepatnya awal September. Momen tersebut menjadi titik balik bagi keluarga dalam menjalankan amanah yang telah dititipkan.

"Seolah-olah Allah bukakan jalannya. Proses pelimpahan sampai Ata mendapatkan status istitha’ah itu dimudahkan sekali," tuturnya.

May mengaku telah mendaftar haji dengan suaminya sejak tahun 2011. Sempat ada peluang keberangkatan lebih awal, namun tertunda akibat pandemi Covid-19. Hingga akhirnya, takdir berkata lain. "Harusnya sempat maju, tapi karena Covid-19 jadi mundur. Ternyata Allah lebih dulu memanggil suami saya," ucapnya tegar.

Kini, seluruh dokumen dan perlengkapan keberangkatan telah rampung. Dirinya dan sang anak, Ata, dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada Kamis (23/4/2026).

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.