18 April 2026

Get In Touch

Tujuh Kebiasaan Pagi Hari yang Beresiko Ganggu Kesehatan Jantung

Ilustrasi seorang wanita minum air putih. (foto:ist/Ant/Pixels)
Ilustrasi seorang wanita minum air putih. (foto:ist/Ant/Pixels)

JAKARTA (Lentera) - Kondisi fisiologis tubuh sering kali ditentukan sejak mulai pagi hari, kebiasaan seperti pola makan, waktu olahraga, dan melihat layar setelah bangun tidur, akan turut memengaruhi aktivitas harian yang berdampak pada kesehatan jantung.

Konsultan kardiolog intervensi di Manipal Hospital, Kharadi, Pune, Dr Akash Motgi menjelaskan, tubuh sangat dipengaruhi oleh proses alami di pagi hari, di mana tekanan darah meningkat, hormon stres mencapai puncak, dan sistem kardiovaskular beralih dari kondisi istirahat ke aktif.

“Meski ini proses normal, ada kebiasaan tertentu yang bisa memperburuk dampaknya pada arteri seiring waktu dan berkontribusi pada hasil kesehatan jantung yang lebih buruk,” ujar Akash dilaporan Hindustan Times, Jumat (17/4/2026) mengutip Antara, Sabtu (18/4/2026).

Menurut Dr Akash, arteri sangat responsif terhadap perubahan cepat dalam tekanan darah, hidrasi, dan aktivitas metabolik seperti olahraga.

“Paparan berulang terhadap pemicu kecil namun tidak sehat dapat menyebabkan kekakuan arteri, penumpukan plak, dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular,” kata dia.

Akash menyebutkan, banyak pemicu ini berasal dari kebiasaan pagi yang sering tidak disadari. Berikut sejumlah kebiasaan di pagi hari, yang berisiko bisa berdampak pada kesehatan jantung:

1. Melewatkan sarapan

Tidak sarapan dapat mengganggu keseimbangan metabolisme. Dr Akash menjelaskan hal ini dapat menyebabkan lonjakan gula darah sepanjang hari dan meningkatkan keinginan makan berlebih.

“Jika terus terjadi, kebiasaan ini dapat meningkatkan kadar kolesterol dan memberi tekanan lebih pada dinding arteri,” ujarnya.

2. Sarapan tinggi garam atau makanan olahan

Mengonsumsi makanan kemasan, siap saji, atau camilan asin di pagi hari dapat meningkatkan tekanan darah.

“Kelebihan natrium membuat tubuh menahan cairan, yang memberi beban tambahan pada jantung dan pembuluh darah,” imbuh dia.

3. Terlalu banyak kafein saat perut kosong

Minum teh atau kopi kuat saat perut kosong bisa meningkatkan detak jantung dan tekanan darah selama beberapa jam.

“Dalam jumlah wajar aman, tetapi konsumsi berlebihan, terutama saat perut kosong, dapat memberi tekanan lebih pada jantung,” kata Akash.

4. Merokok segera setelah bangun

Nikotin menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Merokok di pagi hari, saat kadar zat dalam tubuh sedang tinggi, dapat meningkatkan tekanan pada dinding arteri dan mempercepat kerusakan pembuluh darah.

5. Tidak bergerak sama sekali

Kurangnya aktivitas setelah bangun tidur membuat sirkulasi darah melambat. Akash mengatakan aliran darah yang buruk dapat menyebabkan hilangnya elastisitas dan kekakuan arteri. Bahkan gerakan ringan di pagi hari sudah membantu.

6. Mengabaikan hidrasi

Setelah berjam-jam tanpa cairan, tubuh mengalami dehidrasi ringan. Menunda minum membuat darah lebih kental, meningkatkan resistensi pembuluh darah, dan membebani arteri.

7. Memulai hari dengan stres

Terburu-buru, langsung terpapar stres pekerjaan, atau melihat layar sejak bangun dapat meningkatkan hormon kortisol.

“Kadar kortisol yang tinggi secara kronis berdampak buruk pada tekanan darah dan kesehatan pembuluh darah,” ujar dia.

Lebih lanjut, Dr Akash menyarankan perubahan kecil namun konsisten, seperti sarapan seimbang, mengurangi garam, dan cukup minum air, untuk menjaga kesehatan arteri dan mengurangi beban kerja jantung di pagi hari. Mengelola stres, bahkan dalam waktu singkat, juga dapat membantu.

Ia juga menekankan, pentingnya pemeriksaan rutin, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi seperti tekanan darah tinggi, diabetes, atau kolesterol tinggi.

Meski tampak sepele, kebiasaan kecil memiliki dampak besar dalam jangka panjang terhadap kesehatan arteri. Akumulasi rutinitas harian dapat memicu berbagai penyakit kardiovaskular tanpa disadari hingga terlambat.

“Jika penyempitan pembuluh darah memburuk, aliran darah ke organ akan menurun. Tergantung tingkat keparahan, bisa diperlukan tindakan seperti angioplasti dengan pemasangan stent, atau dalam kasus ekstrem, operasi bypass,” jelasnya.

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.