15 April 2026

Get In Touch

Studi Ungkap Golongan Darah B Punya Risiko Diabetes Lebih Tinggi, Benarkah?

Studi Ungkap Golongan Darah B Punya Risiko Diabetes Lebih Tinggi, Benarkah?

SURABAYA ( LENTERA ) - Golongan darah selama ini dikenal berperan penting dalam proses transfusi darah. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa golongan darah juga dapat berkaitan dengan risiko munculnya penyakit tertentu, termasuk diabetes tipe 2. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Medicine pada tahun 2024 menemukan bahwa individu dengan golongan darah B memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami diabetes tipe 2 dibandingkan dengan golongan darah lainnya.

Penelitian tersebut merupakan umbrella review, yaitu metode penelitian yang menggabungkan dan menganalisis berbagai studi sebelumnya. Dalam kajian ini, peneliti menelaah 51 studi sistematis yang membahas hubungan antara golongan darah dan berbagai penyakit. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 270 hubungan yang dianalisis dalam penelitian tersebut.

Dari ratusan penelitian yang dilakukan, hanya satu yang dinilai memiliki bukti paling kuat, yakni keterkaitan antara golongan darah B dan diabetes tipe 2. Temuan ini dianggap paling konsisten berdasarkan data yang tersedia dibandingkan hubungan lainnya.

Hasil analisis menunjukkan bahwa individu dengan golongan darah B memiliki risiko sekitar 28 persen lebih tinggi untuk mengalami diabetes tipe 2 dibandingkan mereka yang memiliki golongan darah non-B. Risiko ini berlaku pada semua jenis golongan darah B, baik Rh positif maupun Rh negatif. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa peningkatan risiko tersebut tergolong relatif kecil. Faktor lain seperti pola makan, berat badan, serta tingkat

aktivitas fisik tetap memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap kemungkinan seseorang terkena diabetes. Misalnya, kebiasaan kurang bergerak serta konsumsi makanan tinggi gula dan lemak dapat meningkatkan risiko diabetes secara lebih signifikan dibandingkan faktor golongan darah.

Secara ilmiah, golongan darah ditentukan oleh keberadaan antigen pada permukaan sel darah merah. Antigen ini merupakan molekul tertentu yang dapat memicu respons dari sistem kekebalan tubuh. Perbedaan jenis antigen tersebut diduga dapat memengaruhi berbagai proses biologis dalam tubuh, termasuk metabolisme.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis golongan darah dapat berkaitan dengan kadar protein tertentu dalam darah yang berhubungan dengan proses peradangan. Selain itu, golongan darah juga diduga memengaruhi komposisi bakteri baik di dalam usus. Kondisi tersebut dapat berdampak pada cara tubuh memproses gula serta energi, sehingga berpotensi memengaruhi risiko seseorang mengalami diabetes.

Meski demikian, sebagian besar hubungan antara golongan darah dan penyakit belum memiliki bukti yang kuat. Dari total 270 hubungan yang dianalisis dalam penelitian ini, banyak yang dinilai masih lemah karena ukuran sampel yang terbatas atau metode penelitian yang kurang konsisten. Hal ini

menunjukkan bahwa kajian mengenai hubungan golongan darah dengan berbagai penyakit masih terus berkembang dan membutuhkan penelitian lanjutan.
Para peneliti juga menekankan bahwa golongan darah bukanlah penyebab langsung suatu penyakit. Informasi ini hanya dapat digunakan sebagai salah satu faktor untuk memahami risiko kesehatan, bukan sebagai penentu utama.

Dengan demikian, orang yang memiliki golongan darah B tetap dapat mengurangi risiko diabetes dengan menerapkan gaya hidup sehat. Pada akhirnya, kebiasaan hidup sehari-hari tetap menjadi faktor paling penting dalam menjaga kesehatan serta mencegah diabetes tipe 2. (Inna – mahasiswa UINSA berkontribusi dalam tulisan ini)
 

Share:
Lenterabandung.com.
Lenterabandung.com.