JAKARTA (Lentera) - Puluhan kapal yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Jalur Gaza mulai berlayar dari Barcelona, Spanyol, pada Minggu (12/4/2026), dalam upaya lanjutan menembus blokade Israel.
Gelombang kedua flotilla ini menjadi lanjutan dari upaya sebelumnya yang berujung kegagalan setelah dihentikan militer Israel dan diwarnai penangkapan ratusan aktivis internasional.
Melansir Kumparan, berdasarkan laporan dari Reuters, armada kapal yang bertolak dari pelabuhan Barcelona tersebut tidak hanya terdiri dari 30 kapal utama.
Sejumlah kapal tambahan juga diperkirakan akan bergabung sepanjang perjalanan menuju perairan Palestina, memperkuat misi yang diklaim sebagai salah satu konvoi kemanusiaan terbesar dalam beberapa waktu terakhir.
Misi "Global Sumud Flotilla" difokuskan pada pengiriman bantuan medis dan kebutuhan dasar yang dinilai masih sangat terbatas di Gaza. Para aktivis menilai, meskipun terdapat gencatan senjata sejak Oktober, distribusi bantuan kemanusiaan belum mampu memenuhi kebutuhan warga sipil.
Di sisi lain, Israel membantah tudingan tersebut. Pemerintah Israel menyatakan tidak menghalangi pasokan bantuan bagi penduduk Gaza dan menegaskan akses logistik tetap tersedia di bawah pengawasan mereka.
Namun, sejumlah lembaga kemanusiaan internasional memiliki pandangan berbeda. Mereka menilai volume bantuan yang masuk masih jauh dari cukup untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang terjadi di wilayah tersebut.
Aktor internasional, Liam Cunningham yang turut mendukung aksi ini menyebut keberadaan flotilla justru menjadi indikator kegagalan negara-negara dalam menjalankan kewajiban kemanusiaan.
"Setiap kilogram bantuan di kapal-kapal ini adalah sebuah kegagalan. Orang-orang ini melakukan apa yang seharusnya menjadi kewajiban hukum pemerintah mereka," ujar Cunningham kepada Reuters.
Sementara itu, aktivis Palestina Saif Abukeshak menegaskan tujuan utama misi ini adalah membuka akses bantuan secara berkelanjutan ke Gaza. "Ini adalah misi untuk membuka koridor kemanusiaan, agar organisasi bantuan dapat masuk tanpa hambatan," katanya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga kembali mengingatkan, dalam situasi konflik bersenjata, setiap pihak memiliki kewajiban untuk menjamin akses aman terhadap layanan kesehatan bagi warga sipil.
Upaya flotilla sebelumnya pada Oktober lalu berakhir tanpa hasil setelah sekitar 40 kapal dihentikan oleh militer Israel. Dalam insiden tersebut, lebih dari 450 aktivis ditangkap, termasuk aktivis asal Swedia Greta Thunberg.
Sejumlah aktivis dari Swiss dan Spanyol bahkan mengaku mengalami perlakuan tidak manusiawi selama penahanan. Namun, tuduhan tersebut telah dibantah oleh pihak Israel.
Editor: Santi





.jpg)
