JAKARTA (Lentera) - Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan Harga Acuan Penjualan (HAP) kedelai berada di level Rp11.500 per kilogram. Di saat yang sama, Kementan juga menggenjot perluasan lahan tanam kedelai hingga 37.500 hektare untuk menekan ketergantungan terhadap impor di tengah tekanan geopolitik global.
Kepastian HAP tersebut merupakan hasil kesepakatan antara pengrajin tahu tempe dan importir kedelai, yang difasilitasi oleh Kementan pada Kamis (9/4/2026) lalu.
"Harga kedelain tetap stabil. Harga tetap di bawah Rp12.000, bahkan di level importir masih sekitar Rp11.500. Kami juga sudah verifikasi langsung ke pelaku usaha, dan informasi yang menyebut harga kedelai tembus Rp20 ribu itu tidak benar," ujar Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Yudi Sastro, mengutip laman resmi Kementan, Minggu (12/4/2026).
Meski demikian, Yudi mengakui adanya tekanan dari dinamika global, terutama terkait biaya logistik, transportasi, dan komponen penunjang lainnya. Faktor geopolitik disebut turut memengaruhi rantai pasok dunia.
"Memang ada dampak dari perubahan geopolitik yang menyebabkan ongkos produksi dan distribusi meningkat. Tapi untuk kondisi saat ini pasokan masih cukup dan harga masih terkendali," jelasnya.
Untuk menjaga stabilitas, Kementan terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Implementasi HAP di lapangan juga akan diawasi secara ketat agar tetap berjalan sesuai kesepakatan.
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong peningkatan produksi kedelai dalam negeri. Tahun ini, Kementan menargetkan pengembangan kedelai seluas 37.500 hektare guna mengurangi ketergantungan terhadap impor.
"Tahun ini kita punya program pengembangan kedelai sekitar 37.500 hektare. Ini akan terus kita dorong sehingga ke depan ketergantungan terhadap impor bisa kita kurangi," pungkas Yudi.
Berdasarkan data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) yang diolah Badan Pangan Nasional per 8 April 2026, harga kedelai di berbagai wilayah masih berada dalam rentang wajar.
Di Jakarta, harga kedelai tercatat di kisaran Rp10.500 hingga Rp11.000 per kg. Sementara di Jawa rata-rata Rp10.555 per kg, Bali dan NTB Rp10.550 per kg, Sumatra Rp11.450 per kg, Sulawesi Rp11.113 per kg, serta Kalimantan Rp10.908 per kg.
Dari sisi importir, Direktur PT FKS Multi Agro Tbk, Tjung Hen Sen, menyebut harga kedelai masih stabil meski menghadapi tekanan global. Di tingkat importir, harga berkisar Rp10.100 hingga Rp10.300 per kg, sementara di tingkat pengrajin sekitar Rp10.500 hingga Rp11.000 per kg.
"Kami berupaya keras menjaga stabilitas harga di tengah berbagai tantangan, termasuk kenaikan biaya logistik, asuransi kapal, dan bahan penunjang," ungkapnya.
Senada, Sekretaris Jenderal Gakoptindo, Wibowo Nurcahyo, memastikan harga tahu dan tempe di tingkat pengrajin tidak mengalami kenaikan. Ia menyebut stabilitas harga masih terjaga, meski ada penyesuaian pada volume produk.
"Kami komitmen tahu tempe tidak naik harganya, mungkin hanya ada penyesuaian volume. Harga masih di kisaran Rp12.000 sampai Rp13.000," ujarnya.
Ia menambahkan, harga kedelai sebagai bahan baku utama masih berada dalam batas aman. Bahkan, harga beli dari importir berada di kisaran Rp10.200 per kg, jauh di bawah HAP.
Menurutnya, tantangan justru datang dari kenaikan harga bahan penunjang seperti plastik, bukan dari kedelai itu sendiri.
Terpisah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya peran importir dalam menjaga stabilitas harga. Ia meminta pelaku usaha tidak mengambil keuntungan berlebihan di tengah kondisi global yang tidak menentu.
"Naik boleh, tapi jangan sampai menekan masyarakat yang membutuhkan. Ini saatnya kita bersama-sama menjaga stabilitas dan berpihak pada kepentingan bangsa," tegasnya.
Editor:Santi





.jpg)
